Back to Home | :: Kembali ke Artikel |

»

Artikel Senin 19 November 2007 |19:157WIB
Membangun Tanpa Merusak Alam
Oleh: Muhammad Rusdi Abdullah | Alumnus Fekon Unsyiah

Tindakan Gubernur Aceh untuk tidak lagi membuka keran investasi pertambangan baru sangat tepat dan bijaksana.
 



Menarik untuk mengingat kembali dan mencermati apa yang pernah dicetuskan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, bahwa beliau akan menutup keran investasi baru pada sektor pertambangan di Aceh. Menutup disini berarti tidak akan ada investasi baru dalam bidang pertambangan dan hanya melanjutkan investasi pertambangan yang sudah ada. Alasan Irwandi  dengan menutup keran investasi pertambangan yang baru adalah untuk masa depan anak-anak Aceh yang lebih baik; “Langkah ini demi anak cucu kita di Aceh. Saya tak mau mewariskan daerah ini kepada mereka dalam keadaan kosong dan rusak”.(HR. Serambi Indonesia)

Tindakan gubernur Aceh untuk tidak lagi membuka keran investasi baru khusus sektor pertambangan harus didukung karena selain alasan yang dikemukan di atas,  juga karena masih banyak cara lain untuk bisa lebih memakmurkan masyarakat Aceh tanpa harus terlebih dulu merusak alam. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pertambangan di Indonesia, meskipun selalu dibantah oleh pihak terkait, telah memberikan dampak kerusakan alam yang luar biasa.

Contoh kerusakan alam adalah seperti yang terjadi  di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir darat dan bauksit di bebarapa kabupaten/kota Provinsi Kepri sudah begitu memprihatinkan dan perlu penanganan serius dari pemerintah setempat.

Seperti dikutip dari ANTARA, saat ini kawah-kawah besar menganga akibat penambangan pasir maupun bauksit diantaranya di Kabupaten Lingga Pulau Cempa, kawasan Galang Batang, Kecamatan Gunung Kijang, Pulau Sebaik, Tanjungbalai Karimun, serta Batam. Hasil tambang di Lingga dan Karimun, sekitar 80 persennya untuk di ekspor ke Singapura dan sisanya untuk kebutuhan lokal, sedangkan tambang pasir darat di Batam, sebagian besar untuk kebutuhan lokal.

Kejadian seperti di Kepri bukan satu-satunya contoh kerusakan alam yang terjadi karena eksploitasi yang terus-menerus tanpa memperhatikan akibat yang akan terjadi. Banyak contoh lainnya yang terjadi hampir di seluruh Indonesia. Sementara keuntungan ekonomis yang dirasakan oleh masyarakat tidak sebanding dengan akibat kerusakan alam yang ditimbulkan, dalam pengertian mamfaat yang diterima oleh masyarakat sekitar tidak sebanding dengan mudarat yang akan diterima dalam jangka panjang. Oleh karenanya, tindakan Gubernur Aceh untuk tidak lagi membuka keran investasi pertambangan baru sangat tepat dan bijaksana.


Dampak
kelanjutan pembangunan dan alternative investasi
Dengan ditutupnya keran investasi pertambangan maka tentunya akan mempengaruhi pendapatan daerah yang diperoleh dari pajak atau dari pembagian hasil pertambangan tersebut  yang akan dirasakan dalam jangka panjang. Hal ini juga tentunya akan mempengaruhi sumber pendapatan daerah untuk melaksanakan pembangunan dan penyediaan sarana pelayanan bagi masyakat. Oleh kerana itu, perlu dipikirkan langkah-langkah konkrit untuk menggantikan sumber pendapatan yang hilang/ menurun akibat ditutupnya keran investasi tersebut.

Untuk daerah Aceh banyak sekali sumber pandapatan potensial yang masih belum dikelola dengan maksimal. Sumber pendapatan potensial ini jika dikelola dengan sebaik-baiknya maka akan membantu pemerintah Aceh mendapatkan biaya untuk pembangunan Aceh, sekaligus mensejahterkan masyarakat Aceh. Berikut ini adalah beberapa sumber pendapatan potensial tersebut.


Pertanian, perkebunan & peternakan

Daerah Aceh terkenal dengan lahan pertanian dan perkebunan yang luas, namun masih belum dikelola dengan maksimal. Para petani masih enggan mengelola sawahnya dengan serius, karena hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, atau tidak efisien dan efektif. Selain itu, mayoritas pertanian di Aceh masih mengenal satu kali panen dalam setahun dan setelah itu para petaninya banyak yang menganggur, begitu juga dengan lahan sawah yang ada, dibiarkan begitu saja. Sayangnya lagi
sampai sekarang semakin banyak saja lahan sawah di Aceh yang tidak terurus karena banyak petani yang beralih profesi menjadi pekerja serabutan di kota.

Untuk memaksimalkan hasil pertanian dan menggairahkan kembali para petani, perlu adanya support dari pemerintah, karena jika hanya bekerja sendiri tanpa dukungan pihak terkait dari Pemerintah, petani tidak akan pernah berhasil. Dukungan pemerintah bisa dalam bentuk penyuluhan bagaimana menjadi petani yang baik, menghasilkan panen lebih cepat dan kuantitas serta kualitas panen juga menjadi lebih baik. Juga penyuluhan dan bantuan bagaimana mengelola tanah persawahan paska panen, bisa dengan ditanami timun, semangka atau tanaman palawija lainnya. Pendek kata,  dengan adanya dukungan pihak terkait akan sangat membantu petani meningkatkan kesejahteraannya.
Adalah kesalahan fatal jika pemerintah  membiarkan para petani berjalan sendiri tanpa diberdayakan.

Sektor perkebunan dan pertenakan juga bisa dijadikan sumber pendapatan masyarakat, karena alam Aceh memang mendukung untuk hal itu. Misalnya seperti tanaman cokelat dan kopi, jika dikelola dengan baik dan serius akan sangat menbantu masyarakat meningkatkan kesejahteraannya. Begitu juga dengan sektor peternakan
itik, ayam dan sapi/ kerbau, mengapa tidak didukung agar bisa lebih berkembang? Jika perlu pemerintah dapat membuat daerah percontohan di suatu tempat, dengan mendatangkan investor untuk menanamkan modalnya untuk sektor-sektor potensial tersebut.

Contoh aplikatif untuk sektor-sektor diatas yang telah berhasil adalah seperti yang dipraktekkan di Thailand. Jika perlu pemerintah Aceh dapat berguru ke Thailand bagaimana mereka meningkatkan kualitas dan kuantitas sektor pertanian, perkebunan dan perternakan mereka, serta bagaimana menarik para investor untuk berinvestasi. Jika investasi pada sektor-sektor tersebut di atas bisa sukses di Thailand, mengapa di Aceh tidak? Tentunya banyak faktor penyebabnya, salah satu penyebab utama keberhasilan Thailand adalah karena mendapatkan dukungan 100% dari pemerintahnya, terutama dari Raja. Jika Gubernur Aceh, para Bupati memberi dukungan seperti yang dilakukan Raja Thailand, Insya
Allah  pertanian, perkebunan dan perternakan Aceh akan berjaya nantinya dan akan menjadikan alternatif investasi yang akan mendukung pembangunan di Aceh.

Pariwisata

Pariwisata juga merupakan alternatif investasi yang dapat dikembangkan lebih maksimal di Aceh dan akan mendukung pembangunan Aceh. Sudah menjadi rahasia umum seperti daerah lainnya di Indonesia, alam Aceh juga sangat indah, baik pegunungan maupun pantainya, bahkan taman bawah laut Sabang merupakan salah satu taman laut terbaik di dunia. Sayangnya kelebihan yang diberikan Tuhan ini
--seperti juga daerah lainnya di Indonesia kecuali Bali-- belum dapat dikelola secara profesional untuk memberikan kemakmuran bagi masyarakat.

Aceh juga terkenal dengan keseniannya yang unik dan berbeda dengan daerah lainnya. Misalnya tarian Rapa’i Geleng, Saman, Seudati dan jenis tari lainnya
yang sering dipentaskan oleh perwakilan Indonesia saat mengikuti agenda dunia. Mengapa sumber-sumber ini tidak dikelola dengan maksimal dan dijadikan sebagai investasi alternatif selain pertambangan.

Negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapore dan Thailand yang memiliki keindahan alam dan keunikan kesenian yang terbatas, berhasil menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan negara dan menarik para wisatawan untuk berkunjung dan berinvestasi. Bahkan sampai saat ini, wisatawan Indonesia tercatat sebagai wisatawan terbanyak yang berkunjung ke Singapura setiap tahunnya. Malaysia juga tidak kalah dari Singapura dalam menarik wisatawan dari Indonesia dan mancanegara, dengan berbagai sarana promosi.

Mengapa hanya Bali yang bisa menjadikan daerah tujuan pariwisata terbaik di dunia, mengapa mengapa kota-kota di Aceh tidak? Tentunya keindahan alam dan kesenian Aceh tidak kalah
dengan daerah lainya dan  jika kita mau serius tentunya bukan merupakan hal yang sulit untuk diwujudkan. Apalagi jika ditinjau dari letak geografis Aceh yang lebih dekat ke pusat pariwisata dunia seperti Singapore, Thailand dan Malaysia,  jika dibandingkan dengan Bandung, Jakarta atau Yogyakarta.

Tentunya investasi  pariwisata di Aceh tidak perlu bertentangan dengan adat-istiadat Aceh yang Islami. Hal ini tentunya dapat diatur dengan serius oleh pihak terkait dengan sebaik-baiknya agar tidak dilanggar. Misalnya seperti aturan jangan membuang sampah atau merokok di sembarangan tempat di Singapore. Para wisatawan Indonesia yang datang ke Singapore bisa tertib dan tidak melanggar hal tersebut, dan anehnya ketika kembali ke Indonesia mereka kembali sembarangan dalam merokok dan membuang sampah.
Hal ini semua tentunya terpulang pada bagaimana “ the rule of the game” diterapkan.

Perdagangan

Sektor perdagangan bukan merupakan hal yang baru bagi masyarakat Aceh. Sudah sejak dulu masyarakat Aceh terkenal sebagai pedagang yang handal. Sampai saat ini pun mata pencaharian sebagian besar masyarakat Aceh adalah sebagai pedagang, selain sebagai petani dan nelayan. Oleh karena itu, tidak heran jika ada pembangunan ruko (rumah toko) di Aceh, sebagian besar jika sudah rampung digunakan sebagai tempat berdagang baik menjadi rumah makan, maupun warung kopi atau toko yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Tentunya investasi sektor perdagangan ini lebih diutamakan pada sektor perdagangan kecil dan menengah, karena sektor inilah yang menjadi sektor utama pendukung perdagangan di Aceh. Banyak hal bisa dilakukan untuk menggairahkan investasi dibidang perdagangan ini, seperti investasi pembangunan pasar tradisional modern. Pihak terkait di Aceh tidak perlu ikut-ikutan membangun mal atau super market- super market besar seperti di Medan, Jakarta dan kota-kota besar lainnya, karena belum tentu bisa mengakomodasi kebutuhan sektor perdagangan di Aceh, yang lebih cenderung kepada perdagangan kecil dan menengah. Konsep perdagangan di Tanah Abang lebih sesuai dengan kondisi Aceh, yaitu tradisional tapi modern.

Sektor-sektor di atas hanya merupakan beberapa contoh alternatif investasi yang dapat digunakan oleh pihak terkait di Aceh sebagai alternatif investasi selain pada sektor pertambangan, dan juga merupakan sebagai alternatif sumber pendapatan pemerintah. Tentunya masih sangat banyak alternatif investasi lainnya yang bisa dikembangkan di Aceh, hal ini tergantung keseriusan pihak terkait di Aceh dalam menggali dan melaksanakannya.

Satu hal yang pasti adalah kecenderungan negara-negara maju saat ini untuk tidak lagi menggantungkan nasib bangsa dan negaranya hanya pada sektor pertambangan, selain  karena akan merusak alam,  juga hasilnya sangat terbatas dan tidak bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan untuk pembangunan terus-menerus dalam jangka panjang.

Banyak bukti nyata
dibelahan dunia dimana negara-negara yang miskin kekayaan alamnya bisa lebih maju dan berkembang dengan mengoptimalkan sumber pendapatan pada sektor seperti dijelaskan di atas, contoh Singapore dan Jepang. Dua negara ini jauh lebih maju ketimbang negara-negara di Timur Tengah dan Asia lainnya yang berlimpah kekayaan alamnya. Oleh karena itu, keputusan Bapak Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf  untuk tidak lagi membuka keran investasi pada sektor pertambangan perlu didukung semua pihak yang ingin melihat masa depan Aceh yang lebih baik. Mari membangun Aceh tanpa merusak alam, kita tunggu keseriusan Bapak Gubernur!(MRA)
 

 

 

Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2007 |


 

:: Kembali ke Artikel |