Back to Home | :: Kembali ke Debat Sastra

»

Artikel Budaya Kamis 31 Mei 2007 |
Bisakah Sastra Menjadi Penunjuk Identitas Aceh?
Oleh: Sulaiman Tripa |
Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

 

  Cerpen “Yang Dibalut Lumut” Azhari sekalipun mengandung warna lokal, tapi tidak bisa menjadi penunjuk identitas.
 

 


TERUTAMA, saya harus menjelaskan bahwa bahasan ini terjadi hanya proses “pembacaan”, bukan hadir dari proses “ajaran”. Hal ini penting diingatkan, agar kita tidak hanya terpaku dengan apa yang saya sampaikan, tapi senantiasa berusaha mendapatkan berbagai bahasan lain yang membahas masalah ini.

Sebagai sesuatu yang lahir dari proses “pembacaan”, tentu saja bahasan ini menjadi penting untuk dikritisi, karena ia berpotensi tidak tepat. Sebuah catatan, sesederhana apapun membutuhkan pendalaman dan kritik. Inilah kunci dari sebuah penuntasan sebuah masalah yang dibahas.

Dalam bahasan ini, ada dua hal menarik yang penting didiskusikan, pertama, adakah sastra lokal di Aceh?. Kedua, sastra, khususnya yang ada di Aceh, bisakah menunjuk kepada identitas Aceh?

Pertanyaan pertama, merupakan pertanyaan spesifik tentang Aceh, yang bisa ditanyakan oleh siapa saja dan dimana saja. Pertanyaan ini, mengarah tidak hanya pada penulisnya, tapi juga isinya. Apakah sastra lokal hanya ditulis oleh orang lokal (dalam arti hidup dalam kawasan tertentu) saja, atau bisa ditulis oleh siapa saja? Kemudian, yang dikatakan lokal, apakah bercerita seputar lokal (kawasan tertentu) saja?

Ini menarik. Dimulai, tentu saja, dengan: yang mana lokal? Baru kemudian bisa dijawab adakah sastra lokal di Aceh. Pertanyaan semacam ini bisa terus dipertanyakan pada daerah lain, misalnya adakah sastra lokal di Jakarta, di Bandung, di Bali, di Lampung, atau di mana saja?.

Menurut saya, yang dikategorikan sebagai lokal, salah satunya ditandai dengan adanya unsur lokal di dalamnya. Unsur lokal, dapat digambarkan dengan kenyataan nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan yang hanya ada di kawasan itu. Itulah tanda pertama dari lokal.

Nah, dari unsur pertama ini, dapat dilihat yang mana karya-karya di Aceh yang bisa dikatakan mengandung lokal. Warna lokal, tentu yang orang lain tidak punya. Penyebutan Mak atau Nyak, dalam karya, belum tentu dapat ditandai sebagai lokal, karena beberapa daerah juga memakai Mak atau Nyak. Bisa dengan menyebut Teungku atau Teuku, itu sudah bisa menjadi penunjuk bahwa ada warna lokal, dari segi namanya. Tapi jangan lupa, warna lokal itu tak hanya menyangkut nama orang semata. Ini penting diingatkan agar kita tidak terjebak, bahwa seolah-olah yang dikatakan sastra lokal, ketika dalam karya berjejer nama-nama keacehan.

Cerpen-cerpen Alimuddin, sudah menggarap hal ini, tapi tidak tuntas. Alimuddin terjebak kepada pemuatan nama-nama semata, dengan mengabaikan banyak unsur lain dalam kawasan Aceh. Hal yang sama dilakukan Herman RN, salah satunya dalam buku anak “Indahnya Nikmat Tuhan”. Mereka sangat berlebihan dalam melakukan eksplorasi nama keacehan, tapi seperti mengabaikan unsur lainnya.

Lalu bagaimana mengukurnya? Novel D Kemalawati, “Seulusoh” tidak sepenuhnya bisa dikategorikan kepada lokal (namun ada unsur lokal di dalamnya). Alasannya, menurut saya, karena ternyata kenyataan adanya mantra, ternyata dimiliki juga oleh berbagai daerah lain di Indonesia. Namun ada kelebihan novel ini, ketika D Kemalawati menemukan beberapa hal penting semisal syair yang sangat berwarna Aceh. Eksistensi syair, berbeda dengan penggunaan bahasa Aceh. Penggunaan syair, menurut saya jauh lebih mengena ketimbang hanya menggunakan bahasa Aceh.

Banyak unsur lokal tidak digarap dalam beberapa buku sastra, seperti “Nyala Panyot tak Terpadamkan” dan “Doa untuk dari Sebuah Negeri”. Novel Arafat Nur “Percikan Darah di Bunga” juga demikian. (Namun saya belum membaca Novel Ayi Jufridar “Aloen Buluek” yang baru-baru ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).

Warna-warna lokal, menarik untuk dibaca beberapa Cerpen Hasyim KS, Ridwan Amran, Musmarwan Abdullah, dan Mustafa Ismail. Warna tokoh yang hadir dengan warna daerah dan masyarakat Aceh, juga sudah mulai dieksplorasi oleh Azhari dalam “Yang Dibalut Lumut”.

Di Indonesia, para kritikus seperti sepakat melihat novel Ahmad Tohari “Ronggeng Dukuh Paruk” yang kental lokalnya. Generasi baru semisal Dianing WY dengan Novel “Sintren”, juga sudah melakukan pewarnaan lokal. Yang sangat tuntas, menurut saya adalah novel tetralogi Pramoedia Ananta Toer.
                                                  
Di level puisi, saya menarik dengan “Rencong” Fikar W Eda. Beberapa puisi pendek Fauzan Santa seperti yang termuat dalam “Ziarah Ombak”, juga cukup menarik. Ada nama seperti Reza Indria, menurut saya juga masih belum maksimal melakukan eksplorasi lokal.

Warna kehidupan yang khas dalam konteks ini, memang tak lepas dari pengarangnya. Puisi-puisi Wiratmadinata, Mohd. Harun Al Rasyid dan D Kemalawati di Aceh, dapat dipastikan tak lepas dari kebudayaan mereka. Unsur-unsur yang terkandung dalam karya, tergantung sejauhmana pekarya menggunakan unsur lokal sehingga sebuah karya bisa dikatakan mengandung lokal (dapat mewakili lokal). Sebuah lokal dengan artistik dengan standar sastra pada umumnya.

Unsur lain sebagai lokal, adalah kenyataan lokal yang terbentuk dari kenyataan daerah atau latar tempat. Dalam hal ini, melalui sebuah karya akan tercermin kenyataan geografis, etnografis, sosiologis, bahkan antropologis.

Dalam pembicaraan ini, sebuah karya sudah digarap dengan sangat serius. Tak jarang, untuk menuliskan sebuah karya seperti ini, terlebih dahulu dilaksanakan riset secara mendalam. Bila ditimbang-timbang, riset tersebut sama seperti kepentingan menulis sebuah karya ilmiah.

Cara yang paling mudah menemukan berbagai data untuk menulis karya seperti ini adalah dengan hidup dan berkehidupan dalam sebuah masyarakat untuk jangka waktu tertentu.

Untuk melihat muatan yang disebutkan terakhir ini, dapat dipastikan, belum ada karya yang lahir tentang lokal Aceh. Belum ada (Saya dengar Azhari sedang menggarapnya sejak tiga tahun lalu). Selama ini, jarang ada penulis yang melewati proses pendalaman ini secara serius.

Yang menarik adalah novel tetralogi Pramoedia, ditulis sewaktu ia dipenjara dan ia bisa menemukan berbagai kenyataan geografis, etnografis, sosiologis dan antroplogis. Ketika suatu waktu berbincang dengan Ahmad Tohari, menurutnya, proses penulisan “Ronggeng Dukuh Paruk” juga tidak berlangsung dengan pengamatan ketat.

Dua contoh ini, setidaknya memberi gambaran bahwa betapa eksplorasi lokal itu, dengan proses sederhana, ternyata sangat mudah ditemukan oleh orang-orang yang berdiam atau pernah berdiam di suatu tempat. Karya Aceh yang berwarna lokal, sepertinya lebih berpotensi ditulis oleh orang-orang Aceh sendiri.

Namun tak tertutup kemungkinan, bahwa orang luar, bukan berarti tidak bisa menemukan berbagai kenyataan di Aceh, baik dengan datang ke Aceh atau melalui kajian berbagai literatur. Naskah drama Asmanadia “Preh” dan Helvy Tiana Rosa “Tanah Perempuan” menjadi contoh dari masalah ini.

Usai tsunami, banyak karya sastra yang bercerita tentang Aceh. Kita tahu bahwa banyak penulis belum ke Aceh, tapi bisa menemukan Aceh lewat berbagai literatur. Yang penting diingat, orang yang belum pernah ke suatu daerah sekalipun, belum tentu tidak bisa menemukan secara utuh tentang wilayah itu, bila dilakukan penelitian dengan serius.

 

Menunjuk Identitas!

MASALAH kedua, adalah identitas. Apakah dari sebuah karya bisa menunjuk identitas suatu daerah? Tentu, untuk menjawab ini, menjadi penting untuk menemukan jawaban tentang apa itu identitas.

Identitas adalah kenyataan yang khas dari suatu wilayah, yang bisa dilihat bukan oleh diri, tapi oleh orang lain yang berada di luar diri kita.

Identitas Aceh, menurut saya, bukanlah sesuatu yang khas yang disebutkan oleh orang Aceh. Sebuah identitas Aceh, adalah sesuatu yang khas yang ditemukan dan disebutkan oleh orang-orang di luar Aceh.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Forum Diskusi Terfokus (FDT) Kebudayaan Aceh Institute (2006), pernah mendapat gambaran susahnya menentukan identitas sebagai yang menggambarkan Aceh. Beberapa identitas, sebut saja semisal Serambi Mekah, Rencong, beberapa tari, beberapa adat, yang itu (sekali lagi) dikategorikan oleh orang luar Aceh, bukan oleh orang Aceh.

Untuk mengukur kenyataan identitas, secara sederhana dapat dicontohkan pada pemanggilan nama seseorang. Mungkinkah orang yang tidak mengetahui nama kita, lalu bisa mengetahui identitas kita? Tentu saja tidak.

Nah, sebenarnya sulit untuk menemukan jawaban apakah dalam sebuah karya yang mengandung warna lokal dengan sendirinya akan terkandung identitasnya. Saya rasa belum tentu. Cerpen “Yang Dibalut Lumut” Azhari sekalipun yang kenyataannya mengandung warna lokal, tapi tidak bisa menjadi penunjuk identitas. Saya ingatkan kembali, bahwa penyebutan nama, daerah, dan sebagainya, belum tentu bisa langsung menjadi penunjuk identitas.

Kesimpulan saya, lewat karya bisa ditemukan penunjuk identitas. Namun dalam karya-karya yang dipandang banyak orang sebagai mengandung warna lokal, nyatanya belum bisa menjadi penunjuk identitas.

Di luar Aceh, tentu ada karya yang bisa menjadi penunjuk. Pramoedya dengan “Bumi Manusia” bisa menjadi penunjuk identitas dalam masyarakat yang ditulisnya. Demikian juga dengan “Ronggeng Dukuh Paruk” Ahmad Tohari, juga bisa menjadi penunjuk.

Banyak karya yang belum saya baca tuntas. Ini tentu menyulitkan saya untuk menemukan berbagai karya yang bisa menunjuk identitas tersebut.

Di Aceh sendiri, kesulitan untuk menemukan berbagai kandungan dalam karya, lebih disebabkan karena peredaran karya yang terbatas. Belum lagi misalnya, seperti yang pernah saya ditulis di website Aceh Institute (Sastra Aceh Sepi Kritik, acehinstitute.org | 230407) bahwa di Aceh dengan perkembangan sastra yang kadangkala pesat, tapi tidak diimbangi dengan adanya para kritikus.

Hal ini juga akan mematikan catatan-catatan yang terkandung dalam sebuah karya itu sendiri. Artinya, sebuah karya tanpa kritik, pada akhirnya hanya menjadi bahan bacaan semata, tanpa berpengaruh kepada peradaban manusia.[ST]

     

Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2007 | Silahkan mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan isi website ini dengan menyebutkan nama penulis asli dan "Aceh Institute" sebagai sumbernya dengan link www.acehinstitute.org

| :: Kembali ke Debat Sastra