TERUTAMA, saya harus
menjelaskan bahwa bahasan ini terjadi hanya proses pembacaan, bukan hadir
dari proses ajaran. Hal ini penting diingatkan, agar kita tidak hanya
terpaku dengan apa yang saya sampaikan, tapi senantiasa berusaha mendapatkan
berbagai bahasan lain yang membahas masalah ini.
Sebagai sesuatu yang lahir dari proses pembacaan, tentu saja bahasan ini
menjadi penting untuk dikritisi, karena ia berpotensi tidak tepat. Sebuah
catatan, sesederhana apapun membutuhkan pendalaman dan kritik. Inilah kunci
dari sebuah penuntasan sebuah masalah yang dibahas.
Dalam bahasan ini, ada dua hal menarik yang penting didiskusikan, pertama,
adakah sastra lokal di Aceh?. Kedua, sastra, khususnya yang ada di
Aceh, bisakah menunjuk kepada identitas Aceh?
Pertanyaan pertama, merupakan pertanyaan spesifik tentang Aceh, yang bisa
ditanyakan oleh siapa saja dan dimana saja. Pertanyaan ini, mengarah tidak
hanya pada penulisnya, tapi juga isinya. Apakah sastra lokal hanya ditulis
oleh orang lokal (dalam arti hidup dalam kawasan tertentu) saja, atau bisa
ditulis oleh siapa saja? Kemudian, yang dikatakan lokal, apakah bercerita
seputar lokal (kawasan tertentu) saja?
Ini menarik. Dimulai, tentu saja, dengan: yang mana lokal? Baru kemudian
bisa dijawab adakah sastra lokal di Aceh. Pertanyaan semacam ini bisa terus
dipertanyakan pada daerah lain, misalnya adakah sastra lokal di Jakarta, di
Bandung, di Bali, di Lampung, atau di mana saja?.
Menurut saya, yang dikategorikan sebagai lokal, salah satunya ditandai
dengan adanya unsur lokal di dalamnya. Unsur lokal, dapat digambarkan dengan
kenyataan nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan yang hanya ada di kawasan
itu. Itulah tanda pertama dari lokal.
Nah, dari unsur pertama ini, dapat dilihat yang mana karya-karya di Aceh
yang bisa dikatakan mengandung lokal. Warna lokal, tentu yang orang lain
tidak punya. Penyebutan Mak atau Nyak, dalam karya, belum
tentu dapat ditandai sebagai lokal, karena beberapa daerah juga memakai
Mak atau Nyak. Bisa dengan menyebut Teungku atau Teuku,
itu sudah bisa menjadi penunjuk bahwa ada warna lokal, dari segi namanya.
Tapi jangan lupa, warna lokal itu tak hanya menyangkut nama orang semata.
Ini penting diingatkan agar kita tidak terjebak, bahwa seolah-olah yang
dikatakan sastra lokal, ketika dalam karya berjejer nama-nama keacehan.
Cerpen-cerpen Alimuddin, sudah menggarap hal ini, tapi tidak tuntas.
Alimuddin terjebak kepada pemuatan nama-nama semata, dengan mengabaikan
banyak unsur lain dalam kawasan Aceh. Hal yang sama dilakukan Herman RN,
salah satunya dalam buku anak Indahnya Nikmat Tuhan. Mereka sangat
berlebihan dalam melakukan eksplorasi nama keacehan, tapi seperti
mengabaikan unsur lainnya.
Lalu bagaimana mengukurnya? Novel D Kemalawati, Seulusoh tidak
sepenuhnya bisa dikategorikan kepada lokal (namun ada unsur lokal di
dalamnya). Alasannya, menurut saya, karena ternyata kenyataan adanya
mantra, ternyata dimiliki juga oleh berbagai daerah lain di Indonesia.
Namun ada kelebihan novel ini, ketika D Kemalawati menemukan beberapa hal
penting semisal syair yang sangat berwarna Aceh. Eksistensi syair, berbeda
dengan penggunaan bahasa Aceh. Penggunaan syair, menurut saya jauh lebih
mengena ketimbang hanya menggunakan bahasa Aceh.
Banyak unsur lokal tidak digarap dalam beberapa buku sastra, seperti Nyala
Panyot tak Terpadamkan dan Doa untuk dari Sebuah Negeri. Novel
Arafat Nur Percikan Darah di Bunga juga demikian. (Namun saya belum
membaca Novel Ayi Jufridar Aloen Buluek yang baru-baru ini sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).
Warna-warna lokal, menarik untuk dibaca beberapa Cerpen Hasyim KS, Ridwan
Amran, Musmarwan Abdullah, dan Mustafa Ismail. Warna tokoh yang hadir dengan
warna daerah dan masyarakat Aceh, juga sudah mulai dieksplorasi oleh Azhari
dalam Yang Dibalut Lumut.
Di Indonesia, para kritikus seperti sepakat melihat novel Ahmad Tohari Ronggeng
Dukuh Paruk yang kental lokalnya. Generasi baru semisal Dianing WY
dengan Novel Sintren, juga sudah melakukan pewarnaan lokal. Yang
sangat tuntas, menurut saya adalah novel tetralogi Pramoedia Ananta Toer.
Di level puisi, saya menarik dengan Rencong Fikar W Eda. Beberapa
puisi pendek Fauzan Santa seperti yang termuat dalam Ziarah Ombak,
juga cukup menarik. Ada nama seperti Reza Indria, menurut saya juga masih
belum maksimal melakukan eksplorasi lokal.
Warna kehidupan yang khas dalam konteks ini, memang tak lepas dari
pengarangnya. Puisi-puisi Wiratmadinata, Mohd. Harun Al Rasyid dan D
Kemalawati di Aceh, dapat dipastikan tak lepas dari kebudayaan mereka.
Unsur-unsur yang terkandung dalam karya, tergantung sejauhmana pekarya
menggunakan unsur lokal sehingga sebuah karya bisa dikatakan mengandung
lokal (dapat mewakili lokal). Sebuah lokal dengan artistik dengan standar
sastra pada umumnya.
Unsur lain sebagai lokal, adalah kenyataan lokal yang terbentuk dari
kenyataan daerah atau latar tempat. Dalam hal ini, melalui sebuah karya akan
tercermin kenyataan geografis, etnografis, sosiologis, bahkan antropologis.
Dalam pembicaraan ini, sebuah karya sudah digarap dengan sangat serius. Tak
jarang, untuk menuliskan sebuah karya seperti ini, terlebih dahulu
dilaksanakan riset secara mendalam. Bila ditimbang-timbang, riset tersebut
sama seperti kepentingan menulis sebuah karya ilmiah.
Cara yang paling mudah menemukan berbagai data untuk menulis karya seperti
ini adalah dengan hidup dan berkehidupan dalam sebuah masyarakat untuk
jangka waktu tertentu.
Untuk melihat muatan yang disebutkan terakhir ini, dapat dipastikan, belum
ada karya yang lahir tentang lokal Aceh. Belum ada (Saya dengar Azhari
sedang menggarapnya sejak tiga tahun lalu). Selama ini, jarang ada penulis
yang melewati proses pendalaman ini secara serius.
Yang menarik adalah novel tetralogi Pramoedia, ditulis sewaktu ia dipenjara
dan ia bisa menemukan berbagai kenyataan geografis, etnografis, sosiologis
dan antroplogis. Ketika suatu waktu berbincang dengan Ahmad Tohari,
menurutnya, proses penulisan Ronggeng Dukuh Paruk juga tidak
berlangsung dengan pengamatan ketat.
Dua contoh ini, setidaknya memberi gambaran bahwa betapa eksplorasi lokal
itu, dengan proses sederhana, ternyata sangat mudah ditemukan oleh
orang-orang yang berdiam atau pernah berdiam di suatu tempat. Karya Aceh
yang berwarna lokal, sepertinya lebih berpotensi ditulis oleh orang-orang
Aceh sendiri.
Namun tak tertutup kemungkinan, bahwa orang luar, bukan berarti tidak bisa
menemukan berbagai kenyataan di Aceh, baik dengan datang ke Aceh atau
melalui kajian berbagai literatur. Naskah drama Asmanadia Preh dan
Helvy Tiana Rosa Tanah Perempuan menjadi contoh dari masalah ini.
Usai tsunami, banyak karya sastra yang bercerita tentang Aceh. Kita tahu
bahwa banyak penulis belum ke Aceh, tapi bisa menemukan Aceh lewat berbagai
literatur. Yang penting diingat, orang yang belum pernah ke suatu daerah
sekalipun, belum tentu tidak bisa menemukan secara utuh tentang wilayah itu,
bila dilakukan penelitian dengan serius.
Menunjuk Identitas!
MASALAH kedua, adalah identitas. Apakah dari
sebuah karya bisa menunjuk identitas suatu daerah? Tentu, untuk menjawab
ini, menjadi penting untuk menemukan jawaban tentang apa itu identitas.
Identitas adalah kenyataan yang khas dari suatu wilayah, yang bisa dilihat
bukan oleh diri, tapi oleh orang lain yang berada di luar diri kita.
Identitas Aceh, menurut saya, bukanlah sesuatu yang khas yang disebutkan
oleh orang Aceh. Sebuah identitas Aceh, adalah sesuatu yang khas yang
ditemukan dan disebutkan oleh orang-orang di luar Aceh.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Forum Diskusi Terfokus (FDT)
Kebudayaan Aceh Institute (2006), pernah mendapat gambaran susahnya
menentukan identitas sebagai yang menggambarkan Aceh. Beberapa identitas,
sebut saja semisal Serambi Mekah, Rencong, beberapa tari,
beberapa adat, yang itu (sekali lagi) dikategorikan oleh orang luar Aceh,
bukan oleh orang Aceh.
Untuk mengukur kenyataan identitas, secara sederhana dapat dicontohkan pada
pemanggilan nama seseorang. Mungkinkah orang yang tidak mengetahui nama
kita, lalu bisa mengetahui identitas kita? Tentu saja tidak.
Nah, sebenarnya sulit untuk menemukan jawaban apakah dalam sebuah karya yang
mengandung warna lokal dengan sendirinya akan terkandung identitasnya. Saya
rasa belum tentu. Cerpen Yang Dibalut Lumut Azhari sekalipun yang
kenyataannya mengandung warna lokal, tapi tidak bisa menjadi penunjuk
identitas. Saya ingatkan kembali, bahwa penyebutan nama, daerah, dan
sebagainya, belum tentu bisa langsung menjadi penunjuk identitas.
Kesimpulan saya, lewat karya bisa ditemukan penunjuk identitas. Namun dalam
karya-karya yang dipandang banyak orang sebagai mengandung warna lokal,
nyatanya belum bisa menjadi penunjuk identitas.
Di luar Aceh, tentu ada karya yang bisa menjadi penunjuk. Pramoedya dengan Bumi
Manusia bisa menjadi penunjuk identitas dalam masyarakat yang
ditulisnya. Demikian juga dengan Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari,
juga bisa menjadi penunjuk.
Banyak karya yang belum saya baca tuntas. Ini tentu menyulitkan saya untuk
menemukan berbagai karya yang bisa menunjuk identitas tersebut.
Di Aceh sendiri, kesulitan untuk menemukan berbagai kandungan dalam karya,
lebih disebabkan karena peredaran karya yang terbatas. Belum lagi misalnya,
seperti yang pernah saya ditulis di website Aceh Institute (Sastra
Aceh Sepi Kritik, acehinstitute.org | 230407) bahwa di Aceh dengan
perkembangan sastra yang kadangkala pesat, tapi tidak diimbangi dengan
adanya para kritikus.
Hal ini juga akan mematikan catatan-catatan yang terkandung dalam sebuah
karya itu sendiri. Artinya, sebuah karya tanpa kritik, pada akhirnya hanya
menjadi bahan bacaan semata, tanpa berpengaruh kepada peradaban manusia.[ST]
Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2007 |
Silahkan mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan,
dan menyebarluaskan isi website ini dengan menyebutkan
nama penulis asli dan "Aceh Institute" sebagai
sumbernya dengan link
www.acehinstitute.org
|
::
Kembali ke
Debat Sastra