BANYAK
ahli sejarah Islam Nusantara yang masih konfius dengan keberadaan Kerajaan
”Champa”, negeri asal ”Puteri Penakluk Kerajaan Jawa-Hindu” yang dianggap
memiliki peran penting dan sentral dalam proses Islamisasi Nusantara pada
tahap awal, terutama antara kurun abad 13 sampai 15 Masehi. Keadaan ini
pada akhirnya menimbulkan kegelapan dan kerancuan luar biasa pada sejarah
Islam Nusantara. Ironisnya masing-masing
pihak,
dengan segala kepentingannya bertahan dengan pendapat dan hujjahnya
masing-masing, tanpa mengemukakan argumen ilmiah yang dapat menyingkap kabut
misteri dari ”Champa”. Kekaburan ini umumnya disebabkan para ahli hanya
mengutip mendapat-pendapat yang sudah ada tanpa mengadakan pengkajian lebih
dalam dan lebih mendetil dari berbagai aspek. Kemalasan intelektual ini
hanya memahami Champa sebagai sebuah kata yang sudah bercampur dengan
berbagai mitos, legenda dan cerita masyarakat yang tidak berdasarkan fakta
ilmiah. Bukan Champa sebagai sebuah realitas sejarah berdasarkan penelitian
sejarah berbagai aspek yang berkaitan dengannya.
Sehubungan dengan keberadaan ”Champa”, ada dua
teori yang beredar. Pertama teori yang didukung oleh para peneliti Belanda,
seperti Snouck dan lain-lainnya yang beranggapan bahwa Champa berada di
sekitar wilayah Kambodia-Vietnam sekarang. Dengan teorinya ini kemudian
mereka menyatakan bahwa Wali Songo yang berperan dalam proses Islamisasi
Jawa, menjadikan daerah ini sebagai basis perjuangan Islamisasi Nusantara
dengan mengenyampingkan sama sekali peranan Perlak, Pasai dan beberapa
Kerajaan di sekitar Aceh dalam Islamisasi Nusantara. Tentu karena mereka
beranggapan bahwa Champa Kambodia-Vietnam adalah wilayah Islam yang jauh
lebih maju dan berperadaban dibandingkan dengan beberapa wilayah di Aceh
tersebut. Dan anehnya, teori inilah yang sangat populer dan menjadi rujukan
para cendekiawan Muslim tanpa mengkritisinya lebih jauh.
Tulisan ini tidak ingin
membahas panjang lebar teori penjajah Belanda ini, karena sudah terkenal
umum. Sebaliknya penulis ingin menyampaikan sebuah
teori
lain, yang selama ini
dianut oleh sebagian
kecil
cendekiawan yang kritis dan jeli, namun tidak banyak memiliki fakta dan
data, mengingat susah dan langkanya
data yang didapat.
Dengan tujuan untuk menyingkap kebenaran sejarah dengan fakta yang
menyertainya, mudah-mudahan tulisan singkat ini akan menggugah para
cendekiawan yang progresif mengadakan penelitian, pengkajian bahkan bila
perlu mengadakan penggalian di sekitar situs-situs yang ditengerai sebagai
”Champa” di sekitar Aceh.
Teori yang akan
dikemukakan ini, utamanya berdasarkan teori dari Gubernur Jendral Hindia
Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir TS.
Raffles dalam bukunya
'The History of
Java'.
Teori
Raffles menyebutkan bahwa Champa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak
di Kambodia sekarang sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi
Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan
nama ”Jeumpa”. Champa adalah ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”,
karena penyebutannya inilah banyak ahli yang keliru dan mengasosiasikannya
dengan Kerajaan Champa di wilayah Kambodia dan Vietnam sekarang. Jeumpa yang
dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen Aceh.
[i]
”Champa” biasanya
dihubungkan dengan sebuah peristiwa pada zaman kerajaan Jawa-Hindu
Majapahit, terutama pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V yang memiliki
seorang istri yang dikenal dengan ”Puteri Champa” sebagaimana disebutkan dalam
Babad Tanah Jawi, yang nama lainnya Anarawati (Dwarawati) yang
beragama Islam.
Puteri inilah yang melahirkan Raden Fatah,
yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada seorang keponakannya
yang dikenal dengan Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Ampeldenta Surabaya.
Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam
Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah
kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.[ii]
”Sang Penakluk” ini
adalah wanita luar biasa. Dia adalah seorang ibu yang tabah, besar hati,
penyayang namun mewarisi semangat perjuangan yang tidak kalah dengan
Laksamana Malahayati, Tjut Nya’ Dhien, Tjut Mutia dan para wanita pejuang
agung Aceh lainnya. Bagaimana tidak, dia harus berpisah jauh dari
lingkungannya ke tanah Jawa yang asing baginya, tiada handai tolan, hidup
dilingkungan masyarakat Jawa-Hindu yang berbeda budaya dan tradisi dengan
negeri asalnya, bahkan ada yang menyatakan suaminya
pun masih
beragama Hindu dalam tradisi Kerajaan Majapahit yang feodalis. Namun karena
para Ulama-Pejuang sekelas Maulana Malik Ibrahim atas dukungan para Sultan
Muslim menugaskannya berdakwah dengan caranya, wanita agung inipun ikhlas
melakoni peran perjuangannya. Dengan takdir Allah, beliau melahirkan seorang
anak laki-laki yang kelak dikenal dengan Raden Fatah.
Demi kelanjutan
agamanya, dia rela meninggalkan kegemerlapan istana Majapahit sebagai
permaisuri agung untuk memastikan putranya dapat pendidikan terbaik agar
menjadi seorang pemimpin Islam di Jawa. Raden Fatah kecil mendapat kasih
sayang serta bimbingan ibundanya bersama para Wali yang dipimpin sepupunya
Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang juga dilahirkan di Kerajaan asal ibunya.
Dari negeri manakah
gerangan ”Sang Puteri Penakluk” yang telah sukses gemilang menjalankan tugas
agamanya, sebagai seorang ibu pendidik agung (madrat al-kubra),
pejuang suci (mujahidah fi sabilillah), pendakwah Islam (da’i)
sekaligus sebagai penyebab (asbab) keruntuhan sebuah dinasti Hindu
terbesar yang menjadi lambang keagungan dan kebesaran bangsa Jawa, dengan
Mahapatih sadis Gadjah Mada itu. Tradisi dan peradaban masyarakat model
apakah yang telah menjadikannya sebagai seorang wanita pejuang yang rela
mengorbankan diri, perasaan dan kemerdekaannya demi kejayaan Islam agamanya.
Pendidikan apakah yang diterimanya sehingga berani menerjang medan laga
menghadapi benteng super power Majapahit. Dari sisi manapun kita nilai,
wanita ini adalah wanita besar, namun terhijab peran agungnya oleh wanita
selir Jawa sekelas RA. Kartini, seorang selir Bupati Rembang yang dijadikan
tokoh wanita hanya karena bisa bahasa penjajah Belanda dan dekat dengan
penjajah kaphe. Siapa Kartini jika disandingkan dengan Ratu Tajul
Alam Syafiatuddin, Sultanah Aceh yang memimpin masyarakat kosmopilit Aceh
masa itu dan memiliki kekuasaan seluruh Sumatra dan Semenjang Melayu?.
Mari kita peras logika kita, curahkan
kemampuan berfikir dan analisis jernih kita untuk mengungkap kegelapan
Champa yang sudah berabad-abad dipercayai sebagai kebenaran sejarah. Demi
tegaknya sebuah sejarah kemanusiaan unggul, yang dengan sistematis ditutup
rapat oleh peneliti Belanda untuk mengkerdilkan sebuah tradisi peradaban
tertua, serambi tanah para Nabi, pelopor Islamisasi Nusantara yang tidak
mampu ditaklukkannya dengan senjata dan kekerasan. Para generasinya
dijauhkan dari akar sejarah agungnya agar kelak tidak menjadi inspirasi dan
motivasi mereka. Al-Qur’an telah mengingatkan:
Ketika kebenaran datang maka kebatilan akan
sirna jua...., dan sungguh kebatilan pasti akan sirna....
Para ahli sejarah memperkirakan Maulana Malik
Ibrahim berada Champa sekitar 13 tahun, antara tahun 1379 sampai dengan
1392.[iii]
Untuk memastikan dimanakah Champa yang telah ditinggali Maulana Malik dan
saudara iparnya ”Putri Champa”, maka perlu diselidiki bagaimanakah keadaan
Champa waktu itu, baik yang berada di Aceh maupun Kambodia.
Menurut beberapa catatan, Champa di Kambodia
masa itu sedang di perintah oleh
Chế Bồng Nga
antara tahun 1360-1390 Masehi, dikenal dengan The Red King (Raja
Merah) seorang Raja terkuat dan terakhir
Champa.
Tidak diketahui apakah Raja ini Muslim, atau memang Budha sebagaimana
mayoritas penduduk Kambodia sampai sekarang dengan banyak peninggalan
kuil-kuilnya namun tidak ada masjid. Beliau berhasil menyatukan dan
mengkordinasikan seluruh kekuatan Champa pada kekuasaannya, dan pada tahun
1372 menyerang Vietnam melalui jalur laut. Champa berhasil memasuki kota
besar Hanoi pada 1372 dan 1377.
Pada penyerangan
terakhir tahun 1388, dia dikalahkan oleh Jenderal Vietnam Ho Quy Ly, pendiri
Dinasti
Ho.
Che Bong Nga meninggal dua tahun kemudian pada 1390. Tidak banyak catatan
hubungan Penguasa Champa ini dengan Islam, apalagi tidak didapat bekas-bekas
kegemilangan Islam, sebagaimana yang ditinggalkan para pendakwah di Perlak,
Pasai ataupun Malaka.[iv]
Sementara catatan sejarah menyatakan lain,
yang terkenal dengan Sultan Cam atau Champa adalah Wan Abdullah atau
Sultan Umdatuddin atau Wan Abu atau Wan Bo Teri Teri atau Wan Bo saja,
memerintah pada tahun 1471 M - 1478 M. Menurut silsilah Kerajaan Kelantan
Malaysia, silsilah beliau adalah : Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni Ali
Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil
Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi
Amal Al-Faqih ibni Muhammas Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni
Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad
Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni
Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni
Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW. Jadi beliau
adalah anak saudara dari Maulana Malik Ibrahim, yaitu anak dari adik beliau
bernama Ali Nurul Alam. Wan Bo atau Wan Abdullah ini juga adalah
bapak kepada Syarief Hidayatullah, pengasas Sultan Banten sebagaimana
silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Banten Jawa Barat:
Syarif Hidayatullah
ibni Abdullah (Umdatuddin) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni
Jamaluddin Al-Hussein (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal
dan seterusnya seperti di atas.[v]
Pertanyaannya, kapan dan dimana sebenarnya
Kerajaan Champa yang dipimpin oleh Raja Champa yang menjadi mertua Maulana
Malik Ibrahim, yang menjadi ayah kandung ”Puteri Champa”. Padahal jika
dikaitkan dengan fakta di atas, mustahil mertua Maulana Malik atau ayah
”Puteri Champa” itu adalah Wan Bo (Wan Abdullah) karena menurut silsilah dan
tahun kelahirannya, beliau adalah pantaran anak saudara Maulana Malik yang
keduanya terpaut usia 50 tahun lebih. Raden Rahmat (Sunan Ampel) sendiri
lahir pada tahun 1401 di ”Champa” yang masih misterius itu. Boleh jadi yang
dimaksud dengan Kerajaan Champa tersebut bukan Kerajaan Champa yang dikuasai
Dinasti Ho Vietnam, tapi sebuah perkampungan kecil yang berdekatan dengan
Kelantan?. Inipun masih menimbulkan tanda tanya, dimanakah peninggalannya?.
Bahkan ada pula yang mengatakan Champa berdekatan dengan daerah Fatani,
Selatan Thailand berdekatan dengan Songkla, yang merujuk daerah Senggora
zaman dahulu.[vi]
Untuk mendukung Teori Raffles bahwa Champa
yang dimaksud bukan di Vietnam sekarang, tetapi di wilayah Jeumpa Bireuen
Aceh, ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan, antara lain;
(i) Martin Van Bruinessen telah
memetik tulisan Saiyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab
Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-saudaranya
konon telah mengembara ke Asia Tenggara..... Jamaluddin sendiri pertamanya
menjejakkan kakinya ke Kemboja dan Aceh, kemudian belayar ke Semarang dan
menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan
pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia meninggal.” (al-Haddad 1403
:8-11). Diriwayatkan pula beliau menyebarkan Islam ke Indonesia bersama
rombongan kaum kerabatnya. Anaknya, Saiyid Ibrahim (Maulana Malik
Ibrahim) ditinggalkan di Aceh untuk mendidik masyarakat dalam ilmu
keislaman. Kemudian, Saiyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke
negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun
kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Jadi tidak
diragukan bahwa yang ke Kamboja itu adalah ayah Maulana Malik Ibrahim,
Saiyid Jamaluddin yang menikah di sana dan menurunkan Ali Nurul Alam.
Sedangkan mayoritas ahli sejarah menyatakan Maulana Malik Ibrahim lahir di
Samarkand atau Persia, sehingga di gelar Syekh Maghribi. Beliau sendiri
dibesarkan di Aceh dan tentu menikah dengan puteri Aceh yang dikenal sebagai
”Puteri Raja Champa”, yang melahirkan Raden Rahmat (Sunan Ampel).
(ii) Keadaan Champa Kambodia
sezaman Maulana Malik Ibrahim sedang huru hara dan terjadi pembantaian
terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam
atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim
sebagaimana disebutkan terdahulu. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan
keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang menjadi
jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan
Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan
dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru
dunia. Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas
tentang masalah-masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar
dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat
penghormatan mulia dan tinggi.[vii]
Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa
”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.[viii]
(iii) Populeritas
Jeumpa di Nusantara, yang dihubungkan dengan puteri-puterinya yang cerdas
dan cantik jelita, buah persilangan antara Arab-Parsi-India dan Melayu, yang
di Aceh terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadis cantik putih
kemerah-merahan, tidak lain menunjukkan keistimewaan Jeumpa di Aceh yang
sampai saat ini masih menyisakan kecantikan puteri-puterinya di sekitar
Bireuen. Pada masa kegemilangan Pasai, istilah puteri Jeumpa (lidah Jawa
menyebut ”Champa”) sangat populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Puteri
Jeumpa yang sudah terkenal kecantikan dan kecerdasannya, seperti Puteri
Manyang Seuludong, Permaisuri Raja Jeumpa Salman al-Parisi, Ibunda
kepada Syahri Nuwi pendiri kota Perlak. Puteri Jeumpa lainnya, Puteri
Makhdum Tansyuri (Puteri Pengeran Salman-Manyang Seuludong/Adik Syahri
Nuwi) yang menikah dengan kepala rombongan Khalifah yang dibawa Nakhoda,
Maulana Ali bin Muhammad din Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul
Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak. Mereka seterusnya menurunkan
Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam. Kecantikan dan
kecerdasan puteri-puteri Jeumpa sudah menjadi legenda di antara
pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa.
Itulah sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat
mengidam-idamkan seorang permaisuri dari Jeumpa. Bahkan dalam Babat Tanah
Jawi, disebutkan bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu
dengan Puteri Jeumpa yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik
Ibrahim dan para petinggi Pasai. Dikisahkan Sang Prabu meminta agar Puteri
Jeumpa bersedia menjadi Permaisurinya dan menikahlah mereka yang melahirkan
Raden Fatah.
(iv)
Secara umum, wajah orang Champa Kambodia lebih mirip dengan Cina,
kecil-kecil dan memiliki kulit seperti orang Kelantan sekarang, sementara
bahasanya susah dimengerti karena dialeknya berbeda dengan rumpun bahasa
Melayu yang menjadi bahasa pertuturan dan pengantar Nusantara saat itu.
Muka-muka Arab, seperti wajah Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat ataupun
gelar mereka, Sayyid, Maulana, dan lainnya jarang adanya dan tidak seperti
rata-rata orang Perlak, Pasai, Jeumpa ataupun umumnya orang Aceh yang lebih
mirip ke wajah Arab, India atau Parsia. Sebagaimana diketahui, Maulana Malik
Ibrahim dan Raden Rahmat memberikan pelajaran agama kepada orang Jawa
menggunakan bahasa Melayu Sumatera yang banyak digunakan di sekitar Perlak,
Pasai, Lamuri, Barus, Malaka, Riau-Lingga dan sekitarnya, sebagaimana dalam
manuskrip agama yang dikarang para Ulama terkemudian seperti terjemahan
karya Abu Ishaq, kitab-kitab Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani,
Nuruddin al-Raniri, Raja Ali Haji dan lainnya.
(v)
Sejarah pergerakan dakwah Islamiyah Nusantara abad ke IX-XV Masehi,
sebagaimana yang disepakati para ahli sejarah Islam Nusantara, tidak pernah
menyebutkan berpusat di sekitar daerah Vietnam atau Indo-China sekarang,
namun sebaliknya tercatat berpusat diantara Perlak, Pasai, Malaka,
Lamuri, Barus, ataupun Fansur di wilayah Aceh, yang di tengah-tengahnya
terdapat Jeumpa, yang menjadi laluan dan tempat persinggahan yang
banyak menyisakan kegemilang Islam. Sementara di Vietnam telah dibuktikan
tidak banyak ditemukannya Sayyid, Syarief atau Maulana dan Makhdum serta
Ulama-Ulama besar yang umumnya menjadi penggerak Islamisi. Juga tidak
didapati peninggalan-peninggalan situs yang berhubungan dengan kegemilangan
Islam, apakah berupa istana, maqam, ataupun skrip keislaman yang menjadi
ciri khas peninggalan jejak peradaban Islam. Di samping itu, tidak
didapatkan dalam sejarah bahwa Islam pernah gemilang di sekitar sana dengan
mendirikan sebuah kerajaan Islam yang berperan. Karena tradisi dari para
pendakwah akan mendirikan sebuah kerajaan atau mengislamkan kerajaan
tersebut, atau menaklukkannya sebagaimana sejarah Perlak, Pasai, Malaka,
Aceh Darussalam, Demak dan lainnya. Ada kemungkinan di Champa pernah tumbuh
perkampungan muslim, namun hal ini tidak dapat dijadikan pegangan, karena
yang dikatakan ”Puteri Champa” tentulah anak Raja Champa, demikian pula
disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim menikah dengan salah seorang puteri
Raja di Champa yang melahirkan Raden Rahmat (Sunan Ampel)
(vi)
Dari segi geografis dan taktik-strategi perjuangan, kelihatannya mustahil
para pendakwah, khususnya gerakan Para Wali yang akan menaklukkan pulau
Jawa bermarkas di sebuah perkampungan Muslim minoritas dekat Vietnam.
Apalagi pada masa itu Champa sepeninggal Raja terakhirnya, Che Bong Nga
(w.1390), sepenuhnya dikuasai Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam berpusat
di Hanoi. Maulana Malik Ibrahim adalah Grand Master para Wali Songo,
jika sasaran dakwahnya adalah pulau Jawa, sebagai basis kerajaan
Hindu-Budha yang tersisa, terlalu naif memilih Champa sebagai markas pusat
pergerakan baik menyangkut dukungan logistik, politik maupun ketentaraan.
Sebagaimana dicatat sejarah, pada masa itu para Sultan dan Ulama, baik yang
ada di Arab, Persia, India termasuk Cina yang sudah dipegang penguasa Islam
memfokuskan penaklukkan kerajaan besar Majapahit sebagai patron terbesar
Hindu-Budha Nusantara. Kaisar Cina yang sudah Muslimpun mengirim Panglima
Besar dan tangan kanan dan kepercayaannya, Laksamana Cheng-Ho untuk membantu
gerakan Islamisasi Jawa. Sementara hubungan dakwah via laut pada saat itu
sudah terjalin jelas menunjukkan hubungan antara
Jawa-Pasai-Gujarat-Persia-Muscat-Aden sampai Mesir, yang diistilahkan Azra
sebagai Jaringan Ulama Nusantara. Yang artinya, wilayah Aceh Jeumpa lebih
mungkin berada di sekitar pusat gerakan dan lintasan jaringan tersebut
daripada Champa Kambodia.
(vii) ”Puteri Champa”
ibunda Raden Fatah adalah bibi dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) yang juga
lahir di ”Champa”, sementara Raden Rahmat adalah putra dari Maulana Malik
Ibrahim, salah seorang anak dari Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husein atau juga
disebut Sayyid Hussein Jamad al-Kubra, dan seterusnya hingga bersambung di
Imam Ja’far Sadiq, cucu Nabi Muhammad saw. Dari analisis ini, artinya bahwa
Puteri Champa adalah keluarga atau bersaudara dengan istri Maulana Malik
Ibrahim yang juga Puteri Raja Jeumpa, yang tidak diragukan adalah keturunan
Ahlul Bayt dari Sasaniah Salman ataupun Maulana Abdul Aziz. Sebagai seorang
Sayyid atau Maulana, yaitu keturunan Nabi saw yang alim dan fakih, serta
pejuang aktif, tentulah Maulana Malik Ibrahim tetap menjaga tradisi dan
kesucian yang menjadi warisan Ahlul Bayt. Apalagi diketahui bahwa keluarga
Ahlul Bayt sejak awal sudah menjadi penguasa di sekitar Jaumpa, Perlak
maupun Pasai. Bahkan menurut silsilahnya, Meurah Silu atau Malik al-Saleh
adalah keturunan dari Imam Ja’far Shadiq juga yang berarti masih satu
turunan dengan Maulana Malik Ibrahim. Adapun silsilah lengkap Maulana Malik
Ibrahim adalah :
Husain bin
Ali,
Ali Zainal
Abidin,
Muhammad
al-Baqir,
Ja'far
ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad
al-Naqib, Isa ar-Rummi,
Ahmad
al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal,
Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam,
Muhammad
Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul
Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin
Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.[ix]
(viii) Adalah hal
yang mustahil, seorang Wali sekelas Maulana Malik Ibrahim, bapak dan
pemimpin para Wali di Jawa, yang telah berhasil membangun jaringan di
Nusantara, setelah 13 tahun di Champa tidak dapat membangun sebuah kerajaan
Islam atau meninggalkan jejak-jejak kegemilangan peradaban Islam, atau hanya
sebuah prarasti seperti pesantren, maqam atau sejenisnya yang akan menjadi
jejaknya. Bahkan Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara
sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang
pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali.
''Ia seorang mubalig paling
awal,'' tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in
Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik
Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia
ulama besar. Gelar tersebut
hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.
(ix) Maulana Malik
Ibrahim memiliki seorang saudara yang terkenal sebagai ulama besar di Pasai,
bernama Maulana Saiyid Ishaq, sekaligus ayah dari Raden Paku atau
Sunan Giri.
Menurut cacatan sejarah, beliau adalah salah seorang ulama yang dihormati di
kalangan istana Pasai dan menjadi penasihat Sultan Pasai di zaman Sultan
Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin. Sebelum bertolak ke tanah Jawa,
ayahanda beliau, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), yang juga
datang dari Persia atau Samarqan, tinggal dan menetap juga di Pasai. Jadi
menurut analisis, beliau bertiga datang dari Persia atau Samarqan ke
Kerajaan Pasai sebagai pusat penyebaran dakwah Islam di Nusantara, pada
sekitar abad ke 13 Masehi, bersamaan dengan kejayaan Kerajaan Pasai di bawah
para Sultan keturunan Malik al-Salih, yang juga keturunan Ahlul Bayt.
Sementara Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang dikatakan lahir di Champa,
kemudian hijrah pada tahun 1443 M ke Jawa dan mendirikan Pesantren di
Ampeldenta Surabaya, adalah seorang ulama besar, yang tentunya mendapatkan
pendidikan yang memadai dalam lingkungan Islami pula. Adalah mustahil bagi
Sang Raden untuk mendapatkan pendidikannya di Champa Kambodia pada
tahun-tahun itu, karena sejak tahun 1390 M atau sepuluh tahun sebelum
kelahiran beliau, sampai dengan abad ke 16, Kambodia dibawah kekuasaan
Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam sebagaimana dijelaskan terdahulu.
Apalagi sampai saat ini belum di dapat jejak lembaga pendidikan para ulama
di Champa. Namun keadaannya berbeda dengan Jeumpa Aceh, yang dikelilingi
oleh Bandar-Bandar besar tempat pesinggahan para Ulam dunia pada zaman itu.
Perlu digarisbawahi, kegemilangan Islam di sekitar Pasai, Malaka, Lamuri,
Fatani dan sekitarnya adalah antara abad 13 sampai abad 14 M. Kawasan ini
menjadi pusat pendidikan dan pengembangan pengetahuan Islam sebagaimana
digambarkan terdahulu.
(x)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw
bersabda agar pengikutnya berpegang teguh kepada dua perkara supaya tidak
sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan
Itrah (keturunannya). Dua perkara inilah yang menjadi penghubung antara
Rasulullah dengan umatnya, sehingga mereka diwajibkan membaca shalawat untuk
beliau dan keluarga keturunannya. Karena Ahlul Bayt diamanahkan sebagai
benteng utama Islam oleh Allah dan Rasul-Nya dan ummat diperintahkan untuk
mencintai, menghormati dan berpegang teguh kepadanya, maka sejak awal
kebangkitan Islam para Itrah Rasul mendapat kehormatan dan kedudukan,
termasuk di alam Nusantara. Itulah sebabnya ahli sejarah telah mencatat
beberapa dinasti Kerajaan Ahlul Bayt Nusantara, baik di wilayah Sumatera,
Semenanjung Melayu, Borneo-Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai ke Maluku dan
Papua sekarang. Ditengarai, generasi awal datang dari Persia sekitar akhir
abad pertama Hijriah atau sekitar abad VII Masehi, yang mendirikan kerajaan
di sekitar Aceh-Sumatra, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Perlak dan Pasai.
Jika dirut silsilah para Sultan di Nusantara, sebagian besar akan bertemu
pada jalur Imam Ja’far Sadiq yang sampai kepada Sayyidina Husein bin
Sayyidah Fatimah binti Rasulullah saw, baik Maulana Abdul Aziz Syah
(Perlak), Sultan Malik al-Shalih (Pasai), Mughayat Syah (Aceh), Syarif
Hidayatullah (Banten), Sultan Wan Abdullah (Kelantan) dan lain-lainnya. Dan
tidak diragukan, sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, diantara
mereka senantiasa memelihara kekerabatan dan saling topang menopang dalam
menegakkan Islam dalam sebuah jaringan Ahlul Bayt. Tokoh-tokoh Ahlul Bayt
yang sudah memegang kekuasaan segai akan memberikan bantuan kepada yang
lainnya. Nah pada zaman Maulana Malik Ibrahim masih muda, yang tengah
berkuasa dan berkibar adalah Dinasti Ahlul Bayt Pasai di Aceh. Itulah
sebabnya ayahanda beliau, Saiyid Jamaluddin menitipkan dan mempersiapkan
anaknya pada patron yang kuat, Kerajaan Pasai, yang para Rajanya adalah
persilangan antara turunan Ahlul Bayt dari Kerajaan Perlak dengan Kerajaan
Jeumpa. Sebagai seorang pendidik pejuang, mustahil seorang Ulama setingkat
Saiyid Jamaluddin akan meninggalkan anaknya di Champa yang tengah dikuasai
Kerajaan Hindu Budha...
Dengan
demikian, maka jelaslah bahwa ”Champa” yang dimaksud dalam sejarah
pengembangan Islam Nusantara selama ini, yang menjadi tempat persinggahan
dan perjuangan awal Maulana Malik Ibrahim, asal ”Puteri Champa” atau asal
kelahiran Raden Rahmat (Sunan Ampel), bukanlah Champa yang ada di
Kambodia-Vietnam saat ini. Tapi tidak diragukan, sebagaimana dinyatakan
Raffles, ”Champa” berada di Jeumpa Aceh dengan kota perdagangan
Bireuen, yang menjadi bandar pelabuhan persinggahan dan laluan kota-kota
metropolis zaman itu seperti Fansur, Barus dan Lamuri di ujung barat pulau
Sumatra dengan wilayah Samudra Pasai ataupun Perlak di daerah sebelah timur
yang tumbuh makmur dan maju. Wallahu
a’lam
[i]
Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java, from the
earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published
by John Murray, Albemarle-Street. 1830. Vol II, 2nd Ed, Chap X, hal.
74. 122
[ii]
JJ.
Meinsma,. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi
Adam Dumugi ing Tahun 1647. S'Gravenhage, 1903
[iii]
Lihat :Umar Hasyim, Riwayat Maulana Malik Ibrahim.
Semarang:Menara Kudus.
1980.
[iv]
(Lihat misalnya: D.R. SarDesai,Vietnam, Trials and
Tribulations of a Nation. 1988. ppg 33-34,. David P. Chandler, A
History of Cambodia (Boulder: Westview Press, 1992.) George F.
Hourani "Arab Seafaring" Princeton University Press, New Jersey,
1979. Nicholas Tarling, "The Cambridge History of Southeast Asia"
vol.1 Cambridge University Press, Cambridge, 1992.
Lafont,
P. B., "Aperçu sur les relations entre le Campa et l'Asie du Sud-Est,"
Actes du Séminaire sur le Campa organisé à l'Université de Copenhague,
le 23 mai 1978 (Paris: 1988b) hal. 71-82.
Manguin Pierre Yves, "Etudes cam II;
l'introduction de l'Islam au Campa," Bulletin de l'Ecole Française
d'Extrême-Orient, Vol. LXVI (1979) hal.. 255-287.
[v]
Lihat : Tun Suzanna Tun Hj.Othman dkk.
Dinast-Dinastii Quraysh (Hasyimy) di Alam Melayu,
Johor:tt.
[vi]
Lihat : Wan Muhammad Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arifin Syah,
Utusan Melayu, 24 Juli 2006
[vii]
A.H. Johns, “Islam in Southeast Asia: Reflections and New Directions”,
Indonesia, Cornell Modern Indonesia Project, 1975, no.19 (April).
Hal. 8
[viii]
TD. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, op.cit.
hal. 168-173
[ix]
Lihat :Umar Hasyim, Riwayat Maulana Malik Ibrahim.
Semarang:Menara Kudus. 1980. Al-Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH
Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel,
1999. Keteladanan Dan Perjuangan Wali Songo Dalam Menyiarkan Islam Di
Tanah Jawa. CV Pustaka Setia, Bandung. Nasab-Alwi (Ammu al-Faqih),
Situs Asyraaf Malaysia (Situs Persatuan Alawiyyin Malaysia) Martin van
Bruinessen, 1994. Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin
al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian Islam,
Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde 150.
305-329.
Hak Cipta Terlindungi © Copyrights by The Aceh Institute - 2007 |
Silahkan mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan
isi website ini dengan menyebutkan nama penulis asli dan "Aceh Institute"
sebagai sumbernya dengan link
www.acehinstitute.org
::
Kembali ke Artikel |