|
|
Oleh: Masthur Yahya | Penulis adalah Staf Biro Hukum BRR NAD-Nias dan Mantan Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh | Akhir-akhir ini, banyak pendapat dari para pemerhati/pengkritik tentang pembangunan yang berbasis masyarakat di Aceh dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi yang “diimami” oleh BRR. Tulisan ini sekilas menempatkan BRR sebagai “sumber masalah”, khususnya dalam “kemajuan” rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah dan kehidupan masyarakat Aceh dan Nias pasca bencana gempa dan gelombang tsunami tahun 2004. Pembangunan yang diimplementasikan dalam sejumlah proyek dinilai banyak pihak belum mewakili aspirasi masyarakat sebagai pihak yang turut terlibat (stakeholders) dalam pembangunan. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Marhaban | Penulis adalah Alumni Pasca Sarjana (S2) Bidang Syariah Ekonomi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Beberapa minggu sebelumnya, kita juga dikejutkan dengan data hasil survey World Bank (Serambi Indonesia 13-09-2006). Dalam data tersebut Aceh menempati peringkat ke dua setelah Papua, sebagai penduduk termiskin di Indonesia pasca tsunami 2004. Menurut laporan World Bank bahwa tsunami menyebabkan naiknya jumlah penduduk miskin terbesar di Indonesia, sebelum tsunami terjadi Aceh menduduki peringkat ke empat penduduk termiskin di Indonesia. Fenomena ini menjadi sangat ironis, apalagi jika ditilik dari segi pendapatan daerah, maka Aceh berada di peringkat ketiga tertinggi di Indonesia sebagai daerah yang memiliki anggaran keuangan yang lumayan besar tapi rakyatnya melarat. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: dr. Muhammad Ridwan, MAppSc | Penulis adalah Koordinator Departemen Sains, Teknologi, dan Kesehatan Aceh Institute Respon masyarakat terhadap orang cacat kadang-kadang juga bisa dilematis. Dari satu sisi, sebenarnya masyarakat kita sangat supportif dengan nasib orang cacat ini. Ini terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah pengemis yang menjajakan kecacatannya di Banda Aceh. Namun, dari sisi lain, kadangkala kepedulian yang ditunjukkan oleh masyarakat kepada orang cacat justru bisa kontra produktif. Karena keenakan mendapatkan sumbangan dari orang lain, maka banyak orang cacat yang sebenarnya ’mampu’ menjadi tidak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Nangkula Utaberta |Staf pengajar di Universitas Indonesia, pernah menjadi staf peneliti dan staf pengajar di Universitas Teknologi Malaysia. Penulis tidak mengajak untuk membenci Masjid Baiturrahman sebagai sebuah karya arsitektural besar di Aceh. Namun melalui artikel ini penulis akan berusaha memberikan beberapa contoh dan kritik terhadap beberapa masjid di Malaysia, yang dipahami sebagai produk dari pergeseran dan penafsiran yang salah terhadap arsitektur Islam. Tulisan ini berusaha menguraikan berbagai masalah dari berbagai kesalahan pada pemilihan bahasa arsitektur masjid-masjid serta implikasinya terhadap pola pikir, imej dan pemahaman umat Islam di Indonesia. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Dr. Zulkarnaini Abdullah, M.A |Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh | Kontak Kita sibuk bertengkar soal menyaringkan bacaan basmalah dalam shalat, atau jumlah rakaat shalat tarawih, tetapi tidak pernah menaruh perhatian serius pada kewajiban penataan kehidupan yang lebih tertib, kedisiplinan di jalan raya, peningkatan ekonomi orang-orang miskin, transparansi dalam bidang keuangan. Apakah itu bukan syari’ah? Apakah itu bukan kewajiban kita? |
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
Oleh: Hafas Furqani MEC | Alumni Master of Economics International Islamic University Malaysia | Kontak Dalam pemahaman sekuler, agama dipahami hanya sebagai urusan individu dengan Tuhan. Agama tidak boleh sekali-kali memasuki persoalan sosial, politik, ekonomi, hukum, apalagi kebudayaan. Alasannya adalah agama dipandang sebagai sesuatu yang bersifat pribadi (private matters) dan tidak sepatutnya diatur secara formal oleh negara dalam bentuk undang-undang (qanun). |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Dr. Nurjannah Ismail, MA | Dosen Tafsir pada Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh dan Koordinator FDT Agama Aceh Institute Hanya laki-laki lah yang dipandang cakap dan mampu mengelola kepentingan masyarakat dan negara. Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi di Persia saja, tetapi juga di seluruh Jazirah Arab. Dalam kondisi kerajaan Persia dan setting sosial seperti itulah, wajar Nabi SAW yang memiliki kearifan tinggi, melontarkan hadis bahwa bangsa yang menyerahkan masalah-masalah (kenegaraan dan kemasyarakatan) kepada perempuan tidak akan sejahtera/sukses. |
|
|
|
||
|
|
Oleh Saiful Mahdi | Koordinator Aceh Institute Dari segi anggaran, kinerja BRR bahkan sangat buruk. BRR dinilai sangat lambat, kinernjanya tak sebanding dengan gaji besar yang diterima stafnya. Memasuki bulan ke-9 tahun anggaran 2006, BRR baru menyerap sekitar 12,5 persen dari total Rp 14 triliun pagu anggaran tahun ini. Ironisnya, hampir sepertiga dana tersebut digunakan untuk membayar gaji pegawai dan belanja barang organisasi. Sedangkan yang disalurkan ke masyarakat hanya sepertiga, dan sisanya untuk belanja modal. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: H.Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum | Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Prov.NAD | Kenyataan sekarang, banyak kasus di Aceh misalnya soal seseorang yang mengadopsi anak atau diadopsi lembaga ataupun secara personal oleh orang diluar Aceh telah merubah dan menggantikan nilai-nilai ke-Aceh-an, bahwa pola-pola adat ke-Aceh-an telah mulai ditinggalkan. Untuk ini, perlu upaya mencabut kembali anak tersebut untuk dikembalikan kehabitat budaya asal anak tersebut. Kalau perlu, upaya hukum dapat ditempuh dan siapapun pelanggar perlindungan anak, kepada mereka dapat dikenakan ancaman hukum postif sebagaimana diatur dalam KUHP atau dengan menggunakan undang-undang perlindungan anak. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Zulfikar, S.H | Staf Pembela Umum Bagian Sipil dan Politik LBH Banda Aceh Tanah sebagai bagian permukaan bumi, mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Masalah tanah menjadi krusial karena pemerintah tidak konsekuen dalam mengakui keberadaan hak-hak rakyat (masyarakat adat) terhadap kepemilikan tanah ulayat. Di Aceh, walaupun terkenal dengan hukum adatnya tetap juga terdapat ketidakjelasan tentang hak ulayat di suatu daerah tertentu, contohnya dalam kasus yang terjadi di kemukiman Lamteuba Kecamatan Seulimum, yaitu pengambilalihan tanah hak ulayat masyarakat Lamteuba oleh TNI untuk pembangunan kompi. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Saiful Akmal | Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan sekarang sebagai Fasilitator Penguatan Masyarakat Sipil Sektor Organisasi Kepemudaan dan Paguyuban di ACSTF (Aceh Civil Society Task Force) Menurut Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Perubahan Sosial”, mahasiswa sebagai salah satu elemen reformasi adalah the one and only efficient opposant in the world (satu-satunya pengemban amanah oposan yang paling efisien didunia) dalam mengawal perubahan sosial kearah yang lebih baik. Mahasiswa dengan keyakinan kuatnya punya keikhlasan dan idealisme dalam berjuang, semangat untuk merealisasikannya serta punya kesiapan untuk beramal dan berkorban untuk mewujudkannya. |
|
|
|
||
|
|
Oleh : Yuli Zuardi Rais | Aktivis/ Direktur SEFA (Save Emergency for Aceh), Koordinator FDT-Demokrasi & Civil Society Aceh Institute. Menurut laporan United Nations Development Programme (UNDP- Human Development Report 2002) ternyata 1% para konglomerat dunia (sekitar 487-an lebih) menguasai kekayaan 57% orang termiskin. Sama dengan 5% orang terkaya dunia menguasai 114 kali lipat pendapatan 5% orang termiskin. Pendapatan 10% orang terkaya di Amerika Serikat (AS) sama dengan 43% pendapatan penduduk miskin dunia. Kekayaan 25 juta warga terkaya di AS sama dengan pendapatan 2 milyar penduduk di bumi ini. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Saifuddin Dhuhri, Lc., MA | Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah STAIN Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Umumnya filsafat dikenal angker, seperti nyawa tanpa tubuh, sebagian pelajar memaknai berfilsafat dengan gila atau mendekati 0kegilaan. Tetapi, memberikan rumusan yang pasti tentang apa yang termuat dalam kata "filsafat" adalah suatu pekerjaan yang terlalu berani dan berlebihan! Filosof sendiri mengakui betapa susahnya membuat pengertian filsafat yang jami` mani`, demikian juga para peminat filsafat, mereka sulit mendefinisikan kata yang satu ini. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: dr. Muhammad Ridwan, MAppSc | Penulis adalah Dosen FK Unsyiah, Pengurus PMI Cabang B.Aceh, dan Koordinator Departemen Sains, Teknologi, dan Kesehatan Aceh Institute Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah pasien yang berobat ke Malaysia dari waktu ke waktu semakin meningkat. Demikian juga pengobatan-pengobatan alternatif seperti pijat refleksi, akupuntur, pemakaian ramuan tradisional, pemberian suplemen gizi tertentu, yoga, meditasi, sampai yang berbau klenik dan syirik semakin menjamur dimana-mana. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Cut Hasniati | Staff Infokom Aceh Singkil Bukan tidak ada kajian dan diskusi untuk membahas isu kemiskinan ini yang terus mengkhawatirkan di Indonesia dan khususnya di Aceh sebelum dan paska tsunmai, banyak sudah seminar, lokakarya, pertemuaan, sarasehan, kajian ilmiah dan lain-lain yang membahas masalah kemiskinan serta upaya penanggulangannya. Bukan hanya bertarap lokal dan nasional namun juga internasional. Tapi faktanya, sampai hari ini penduduk miskin di Indonesia tidak berkurang bahkan cenderung meningkat. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Zulfikar, S.H | Staf Pembela Umum Bagian Sipil dan Politik LBH Banda Aceh Momentum kegagalan Rezim Orde Baru dan terjadinya krisis ekonomi juga merupakan sebuah perjalanan sosial politik yang dialektis. Kebangkitan kekuatan sosial politik ditandai dengan tergulingnya Soeharto dari kursi kepersidenan. Paska runtuhnya kepemimpinan Soeharto dari kursi kepresidenan pada 1998, ruang-ruang demokrasi di Indonesia secara keseluruhan mulai terbuka. |
|
|
|
||
|
|
(Menelisik Beberapa Pesan Rasulullah Dalam Memilih Pemimpin) | Oleh: M. Shabri Abd. Majid | Mantan Ketua Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia Tulisan yang wajib dibaca bagi mereka yang memilih dan yang berambisi menjadi pemimpin Aceh saat Pilkada nanti: “Siapa yang dipertanggungjawabkan untuk mengurus urusan umat Islam lalu melantik seorang lelaki, sedangkan terdapat lelaki lain yang lebik layak darinya, sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah dan Rasulnya” (al-Hadist); ..."dan siapa saja yang mati dalam keadaan ia menipu rakyatnya, ia tidak akan dapat mencium bau syurga” (al-Hadist). |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Mukhlisuddin Ilyas | Alumnus Tarbiyah Kependidikan Islam IAIN Ar-Raniry (2000-2004). Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan PPs Unsyiah (2006-now). Saat ini aktif sebagai staff INGO Save The Children Sector Separated Children Realitas yang harus dikatakan saat ini adalah kampus di Aceh baik negeri maupun swasta telah mengalami sindrom penyakit kronis. Hal tersebut terlihat pada aspek moralitas stakenholder kampus. Mulai Dosen yang tidak lagi mengajar sampai sikap amoral mahasiswa di beberapa tempat yang melakukan pemerkosaan atau mesum dalam istilah syariatnya serta issu praktis politik praktis dalam kampus itu sendiri. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Jarjani Usman | Mahasiswa Texas A & M University, Texas | Salah satu isu yang mengejutkan sekaligus meresahkan negara-negara maju sekarang adalah bangkitnya Negeri Naga dan Negeri Gajah. Prestasi Negeri Gajah dan Negeri Naga dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan bisnis mendapat perhatian serius dalam seminar-seminar di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara maju lainnya. Kalau dicermati, kebangkitan Negeri Naga (RRC) dan Negeri Gajah (India) sangat beralasan, kenapa? |
|
|
|
||
|
|
Oleh Saifuddin Dhuhri, Lc, MA | Dosen STAIN Lhokseumawe dan Peneliti Traditional Islamic Education dalam Sandwich Program Di Asian Studies, Australia National University Menjadi agenda pemerintah Aceh kedepan adalah bagaimana menjadikan pemahaman agama sebagai agenda utama pembangunan. Namun pertanyaan juga muncul, agenda yang mana yang merupakan "pemahaman" agama yang paling valid dalam konteks syari`at Islam dan zaman modern?. |
|
|
|
||
|
|
Oleh Muliadi Kurdi | dosen honorer pada Fak. Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Ustad pada Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar Siat-sifat orang Aceh selalu merasa diri lebih baik dari orang lain, terutama dalam meresapi sejarah Kerajaan Aceh dan memperingati masa perjuangan kemerdekaan, walaupu pada realitasnya adalah benar adanya; sedikit dari mereka yang bisa menerima kritikan, jika banyak dikritik seolah-olah telah menginjak-injak harga diri dan kesopanan; Hilangnya sifat berani berkompetisi diganti oleh sifat-sifat “ku’eh” atau iri hati terhadap orang lain yang kebetulan lebih maju se langkah daripadanya. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Masriadi Sambo | Pemimpin Redaksi Majalah SIMAK Unimal-Lhokseumawe Miris memang, namun inilah yang terjadi. Saya tidak ingin mengatakan bahwa pemusik Aceh saat ini juga meninggalkan khas daerahnya. Mungkin mereka lupa mempertahankan khas musik itu. Sejauh ini, musik tradisional Aceh dengan khas tersendiri dan menggunakan alat-alat tradisional sangat sedikit jumlahnya. Sebut saja Rafli, seniman satu ini yang giat bersama KANDE-nya mempromosikan bahasa Aceh fasih |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Zahrila Ismail, S. Pd. I | Alumnus Fakultas Tarbiah Kependidikan Islam IAIN Ar-Raniry Banda Aceh | Kontak Para ahli psikologi mengatakan bahwa tingkat perkembangan intelligence Quetiont (IQ) berbeda dengan perkembangan emotional dan spiritual quetiont (ESQ). Tingkat kecerdasan IQ relatif tetap, sedangkan kecerdasan ESQ dapat meningkat sepanjang hidup manusia. Struktur susunan rukun iman dan rukun Islam merupakan susunan anak tangga yang teratur secara sistematis, logis dan objektif dalam pembentukan ESQ. Lalu apa fungsi rukun Islam ? |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Dr. Nurjannah Ismail, M.Ag | Dosen pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry dan Koordinator FDT Agama Aceh Institute Berangkat dari pandangan bahwa pemahaman agama amat dipengaruhi oleh konstruksi budaya di mana masyarakat tersebut hidup, maka salah satu aspek krusial di Aceh mendapatkan imbas langsung dari warisan budaya tentang perbedaan antara Islam Normative dengan Islam Practice adalah berkaitan dengan "dunia kaum perempuan". Di Aceh, banyak ditemukan cerita-cerita tentang peran dan posisi perempuan, baik dalam konteks sebagai isteri, ibu rumah tangga, maupun peran sosial yang boleh dan tidak boleh mereka terlibat aktif di dalamnya. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Saifuddin Dhuhri Lc, MA | Penulis adalah Dosen STAI Negeri Malikushaleh Lhokseumawe | Kontak Materialisme Pendidikan dan munafik pendidik kita melahirkan anak didik yang tidak ada kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang memungkinkan masyarakat kita pantas membangun dan maju disegala bidang. Kalau kita tetap mempertahankan sistem kita yang sekarang, maka seharusnya kita tidak usah gundah dan sendih dengan koruptor-koruptor, diktator-diktator dan manusia-manusia yang serakah lahir disekitar kita, karena pendidikan ivestasi masa depan. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: M. Shabri H. Abd. Majid | Mantan Ketua Umum Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia Fakta menunjukkan bahwa kemiskinan bukan saja monopoli masyarakat Aceh, tetapi kemiskinan juga memonopoli mayoritas dunia Islam. Menurut Laporan Bank Dunia (2000/2001), dari hampir 6 juta penduduk dunia, sebanyak 1,2 juta penduduk dunia yang berpendapatan kurang dari US$ 1 sehari adalah mayoritas umat Islam. Kenapa kemiskinan dimonopoli umat Islam? Apakah karena Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki dunia Islam terbatas jumlahnya dibandingkan dengan negara maju? |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Kamaruzzaman Bustaman-Ahmad | Mantan Mahasiswa S2 Universiti Malaya (UM) Kuala Lumpur, Malaysia, kini sedang melanjutkan studi di La Trobe University Victoria, Australia Artikel panjang ini berusaha menjelaskan tentang bagaimana asas-asas reformasi menurut Islam. Untuk itu, tulisan ini secara khusus akan mengkaji konsep-konsep reformasi yang terdapat dalam ajaran Islam baik itu dalam bentuk istilah maupun gerakan Islam. Matlamat utama tulisan ini adalah untuk memberikan suatu perspektif bahwa reformasi yang berlaku di negara-negara Muslim tidak lepas dari aspek sistem pemerintahan menurut ajaran Islam. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: H.Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum | Ketua Majelis Adat Aceh ( MAA ) Prov.NAD/Dosen Tetap Fak. Syariah IAIN Ar-Raniry Darussalam Meunasah dan mesjid adalah dua hal yang menarik dalam sistem budaya adat Aceh. Kedua lembaga ini merupakan simbol / logo identitas keacehan yang telah berkontribusi fungsinya membangun pola dasar SDM masyarakat menjadi satu kekuatan semangat yang monumental, historis, herois dan sakralis. Fungsi lembaga ini memiliki muatan nilai-nilai aspiratif, energis, Islamis, menjadi sumber inspiratif, semangat masyarakat membangun penegakan keadilan dan kemakmuran serta menentang kedhaliman dan penjajahan. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Morina Octavia | Staf SOSMAS BEMA IAIN AR-RANIRY Alam Aceh seluruhnya puisi, hal itu pernah dikemukakan oleh wartawan Mesir Al-Hilal, karena orang Aceh dalam berbagai peristiwa penting berbicara dalam bahasa puisi berbentuk hikayat, sehingga dapat disebut bahwa sastra Aceh adalah karya sastra ciptaan pengarang atau penyair yang berhubungan langsung dengan situasi dan kondisi masyarakat sehari-hari. Melalui hikayat kita dapat mengetahui aspek-aspek kehidupan manusia, yaitu berbagai permasalahan yang timbul antara manusia dengan Penciptanya (vertikal), antara manusia dengan lingkungan dan alam semesta (horizontal). |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Husni Arifin | Program Officer pada Media Center Aceh – AJI Indonesia Belum lama ini di milis acehkita@yahoogroups.com muncul pesan dari staf FIG Indonesia yang bernada komplain kepada GeRAK Aceh. Dari komplain itu, kemudian terungkap tentang adanya pemberitaan yang terkesan menuding LSM internasional tersebut melakukan penyelewengan dana proyek pembangunan rumah di Pulau Sabang. Yang menarik, dalam pesan itu juga dikatakan oleh penulisnya yang mempertanyakan mengapa GeRAK tidak memakai standar jurnalistik dalam menulis pemberitaannya. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Hasanuddin Yusuf Adan Kebanyakan kita cenderung menginterpretasikan makna politik dalam sebuah konotasi negatif, ini mungkin sebagai akibat dari pada praktik politik salah kaprah yang dilakukan sejumlah pelaku politik selama ini. Padahal, substansi politik tidaklah sekotor interpretasi tersebut. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan: “Janganlah dianggap bahwa politik yang adil itu bertentangan dengan agama, ia sejalan dengan agama, bahkan ia merupakan bahagian dari agama. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Jarjani Usman | Mahasiswa Texas A & M University, Texas, USA Kita menjadi bijak bukan karena memiliki kejayaan masa lalu, tetapi karena memiliki tanggung jawab terhadap masa depan, kata George Bernard Shaw suatu ketika. Pernyataan ini mengingatkan kita akan kebanggaan masyarakat Aceh terhadap masa keemasan Aceh tempo dulu, terutama dalam bidang pendidikan. Tidak ada yang salah memang, namun romantika masa lalu hanya akan menjadi catatan sejarah yang tidak cukup sebagai modal untuk mewujudkan masa depan pendidikan Aceh yang gemilang. |
|
|
|
||
|
|
Oleh Muliadi Kurdi | dosen honorer pada Fak. Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Ustad pada Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar Karakter kependidikan yang berlandaskan pada pendekatan nilai-nilai Al-Quran saat ini jauh sebagaimana diharapkan. Banyak dari pendidik hanya menonjolkan aspek kemampuan intelektualitas belaka (cognitive) dan meninggalkan nilai-nilai etika (affective domain). Hal ini tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan yang diajarkan Al-Quran, yang mengajarkan keseimbangan dalam segala hal. |
|
|
|
||
|
|
Aceh pasca konflik bersenjata yang bermuara kepada penandatanganan MoU antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) serta Aceh pasca bencana Tsunami, dihadapkan pada satu kenyataan bahwa persoalan tanah adalah persoalan urgent yang harus dengan segera diselesaikan. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Dr. M. Shabri Abd. Majid | Mantan Ketua Umum Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia | Kontak Kenapa negara Malaysia yang baru merdeka pada 31 Agustus 1957 dan memiliki jumlah penduduk sedikit (23, 27 juta pada tahun 2000) dan Sumber Daya Alam (SDA) terbatas dibandingkan dengan Indonesia jauh lebih maju dan makmur? Padahal UUD 1945 menyebutkan bahwa jumlah penduduk yang besar adalah merupakan aset pembangunan bangsa. Kenapa kita yang lebih dahulu merdeka 12 tahun dan memiliki Sumber Daya Alam (SDA) melimpah ruah dibandingkan Malaysia, tertinggal jauh di belakang? Ini disebabkan, inter alia, oleh keberpihakan dan kepedulian kerajaan Malaysia terhadap sistem pendidikan negara. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Jonatan Lassa | Program Coordinator HIVOS, Banda Aceh Seni ber-NGO (the art of NGO-ing) kerap diwarnai pujian, tetapi tidak sedikit kritik dan sinisme. Kritik dan refleksi bahwa NGOs hidup karena keniscayaan krisis, dan karenanya perlunya penciptaan keberlanjutan krisis secara sengaja bukanlah sesuatu yang dekonstruktif sebaliknya konstruktif. Setidaknya menurut hemat penulis, karena kesadaran ini memberikan kesempatan bagi NGOs tidak secara brutal memanipulasi krisis, sebaliknya mengelola krisis-krisis menjadi kesempatan bagi perubahan sosial positif relatif. |
|
|
|
||
|
|
Oleh : H.Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum | Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam | Kontak Adat Aceh sebagai aspek budaya, tidak identik dalam pemahaman “ budaya “ pada umumnya, karena segmen-segmen integritas bangunan adat juga bersumber dari nilai-nilai agama (syariat) yang menjiwai kreasi budayanya. “ Adat ngon agama lagei zat ngon sifeut “. Roh Islami ini telah menjiwai dan menghidupkan budaya Aceh, sehingga melahirkan nilai-nilai filosofis, yang akhirnya menjadi patron landasan Budaya Ideal, dalam bentuk Narit Maja >> |
|
|
|
||
|
|
Oleh : Muhammad Alkaf (Aceh Institute) Tumbuhnya organisasi keagamaan yang berskala nasional di Aceh tidak memberi dampak yang mengkhawatirkan dalam perbedaan tafsir agama. Memang tidak juga dipungkiri, kalau dikotomi antara Islam modernis dan tradisional atau perselisihan kelompok tua dan muda juga ada di Aceh. Akan tetapi pertarungan tersebut tidak mempertemukan antara NU-Muhammadiah, sebagaimana yang terjadi secara masif di Indonesia. Sebab, di Aceh kelompok agama bentukan “putra daerah” lebih mendapatkan tempat dibandingkan dengan organisasi yang didatangkan dari luar. |
|
|
|
||
|
|
Potensi
Aceh
dari Kacamata
Perantau
(03/07/06) |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Hafas Furqani | Mahasiswa Master of Economics International Islamic University Malaysia (IIUM) | Kontak Kemajuan dan pertumbuhan ekonomi hendaklah dilihat sebagai sebahagian yang penting dalam satu acuan yang turut berhubung kait dengan dimensi fundamental yang lain seperti peningkatan nilai akhlak dan kerohanian masyarakat. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: M. Rusdi Abdullah, SE, MM, M.Si | Alumni Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Unsyiah, Magister Manajemen UGM, dan Kajian Amerika, Universitas Indonesia, kini staff di Bank Mandiri Jakarta| Cara berpikir masyarakat yang masih mengganggap bersekolah untuk mencari pekerjaan merupakan cara berpikir yang salah kaprah dan perlu diluruskan. Memang seseorang yang telah selesai sekolah hingga mencapai gelar sarjana selanjutnya akan mencari pekerjaan, namun bukan berarti bersekolah adalah agar mendapatkan pekerjaan. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Nazli Ismail Ada beberapa faktor sebenarnya yang dapat dikaitkan permasalahan pendidikan formal di negara kita yang kurang efektif. Secara umum dalam proses belajar mengajar ada tiga faktor yang harus terlibat, yaitu siswa sebagai objek, guru dan sarana belajar sebagai subjek, dan metode pengajaran sebagai atribut yang terlibat proses pen-transfer-an ilmu. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Kamaruzzaman Bustamam Ahmad | Mantan Mahasiswa S2 Universiti Malaya (UM) Kuala Lumpur, Malaysia, dan warga TARSA Malaysia; kini sedang melanjutkan studi di La Trobe University Victoria, Australia Tidak sedikit tulisan yang mengadopsi Malaysia sebagai contoh yang baik untuk membangun Aceh masa depan. Shabri Abd. Majid, salah satu dari sekian warga Aceh yang pernah menetap di Malaysia, yang tulisannya dimuat di website Aceh Institute >> |
|
|
|
||
|
|
Bagi masyarakat Aceh yang notabene adalah muslim, dan seiring dengan pemberlakuan syari’at Islam maka kedudukan perbankan syariah di Aceh merupakan sebuah keniscayaan. Ia akan menjadi salah satu sektor yang sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Analiansyah, M.Ag | Staf pengajar dan sekretaris Jurusan SJS Fak. Syari’ah IAIN Ar-Raniry Penulis memberikan pemikiran tentang syarat-ayarat yang harus di penuhi oleh calon kepala daerah, yaitu: Taqwa, Berorientasi penerapan Syariat Islam secara baik, Memiliki visi dan misi secara umum tentang air, penerangan dan jalan, Memperhatikan aspek pendidikan, Memiliki program besar terhadap pembanguna daerah Aceh, Memiliki sifat Shiddiq, amanah, tabligh, dan fatanah. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Sulaiman Tripa (Penulis, Pegiat Kebudayaan Kebudayaan yang diciptakan manusia tidak akan bernilai apa-apa bila tak mendapat konteks. Adanya negara merupakan Gambian adanya kebudayaan. Juga sistem ekonomi, ketamakan dan kerakusan, perilaku korupsi dan kolusi, juga kebudayaan. Adanya rumoh Aceh dengan ragam kandungan tafsir arsitekturnya, merupakan salah satu cermin dari budaya yang dimiliki..>> |
|
|
|
||
|
|
Oleh: M. Shabri H. Abd Majid, M. Ec | Mantan Ketua Umum Tanoh Rincong Students Association (TARSA) Malaysia Malaysia adalah negara bekas jajahan Inggris (anggota Commonwealth). Tidak seperti negara-negara bekas jajahan Belanda seperti Indonesia, negara bekas jajahan Inggris tidak mengalami nasib menyedihkan>> Baca Juga Bercermin Pada Malaysia, Membangun Pendidikan Aceh |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Saiful Mahdi Koordinator Aceh Institute BRR, menurut Wiratmadinata, aktifis LSM Aceh, tidak berbeda dengan sejumlah organisasi nasional lainya yang telah membuat brain drain dengan menarik sejumlah besar aktivis dan SDM lokal menjadi pekerja mereka--sebagian semata karena daya tarik materi. Kondisi ini justru bisa melemahkan lembaga-lembaga lokal. Sementara posisi-posisi di BRR banyak yang jadi pekerja tanpa kedudukan strategis yang menentukan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Alih-alih menjadi subjek, masyarakat Aceh beresiko menjadi sekedar objek proyek besar rekonstruksi dengan biaya sampai 90 triliyun dalam jangka empat tahun kedepan!? |
|
|
|
||
|
|
Oleh: T. Safriza Sofyan | Multi Donor Trust Fund for Aceh and Nias (MDTF), Deputy for Aceh Inflasi merupakan ancaman nyata dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan periode puncak adalah pada tahun 2006 dan 2007. Kebutuhan akan dana rekonstruksi dan rehabilitasi mengalami peningkatan secara signifikan diakibatkan tingginya tingkat inflasi khususnya material yang berkaitan dengan rekonstuksi. Pada tahun 2005, sebagai gambaran, inflasi di Aceh hampir mencapai 40% dibanding dengan rata-rata tingkat nasional dalam kisaran17%.) |
|
|
|
||
|
|
Oleh: M. Shabri H. Abd. Majid, M.Ec (Mantan Ketua TARSA Malaysia, Mahasiswa Program Doktor di Malaysia dan Penulis Buku Ekonomi Islam Kontemporer: Isu-Isu Global dalam Perspektif Ekonomi Islam) Kenapa Malaysia, negara yang baru merdeka pada 31 Agustus 1957 dan memiliki jumlah penduduk sedikit (23, 27 juta pada tahun 2000) dan sumber daya alam terbatas dibandingkan Indonesia bisa jauh lebih maju dan makmur? Padahal UUD 1945 menyebutkan bahwa jumlah penduduk yang besar adalah merupakan aset pembangunan bangsa! Kenapa kita yang lebih dulu merdeka 12 tahun dan memiliki sumber daya alam melimpah ruah dibandingkan Malaysia, tertinggal jauh dalam semua aspek kehidupan? Apa penyebabnya? |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Yuli Zuardi Rais | Aktivis/Direktur Save Emergency for Aceh (SEFA) Mahasiswa Aceh dewasa ini semakin “terasing” dari tanggung jawabnya. Langkahnya mulai dipertanyakan sebagai kaum intelektual muda, yang menjadi harapan dan inspirasi bagi masyarakat Aceh..Sosok mahasiswa Aceh, memiliki semangat yang tinggi, kemauan yang keras dan telah terbiasa dengan aksi-aksi demonstrasi serta aksi-aksi kemanusiaan langsung ke masyarakat, yang dijalani dalam situasi konflik atau bencana. Tapi mesti diakui, bahwa mahasiswa Aceh masih sangat kurang minat baca, serta belum sistematis dalam upaya menghidupkan budaya ilmiah dikalangan mahasiswa..Inilah tulisan yang mengulas sepak terjang mahasiswa Aceh, ditulis sendiri oleh sang aktivis. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Siswa Rizali | Area Manager, UNDP Sigli. Email: siswarizali@gmail.com (Makalah pada “Seminar dan Lokakarya Peran SDM Lokal dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh“, The Aceh Institute, Banda Aceh, 18 Maret 2006) Bagi SDM lokal, hubungan emosional menjadikan pekerjaan yang dilaksanakan bukan sekedar proyek atau mencari rezeki, tapi ada misi-misi besar yaitu: membangun kembali Aceh secara berkelanjutan dengan masyarakat sebagai motor utamanya. Adanya hubungan emosional, apalagi kekeluargaan, juga dituntut agar tidak membuat malu keluarga. Keberhasilan seorang pekerja lokal akan menjadi bagian keberhasilan keluarga dan masyarakat kampung halaman. Sebaliknya, kegagalannya akan menjadi malu bagi keluarga dan kampung halaman. Sehingga diharapkan SDM lokal lebih berdedikasi dalam melaksanakan tugasnya |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Muhammad Alkaf, Alumni IAIN Ar-Raniry, Staf Divisi Riset dan Pengkajian, The Aceh Institute. Organisasi ulama boleh dan harus didukung oleh pemerintah sebagai pelaksana amanah rakyat, tapi ia bukan aparatur pemerintah yang dapat digunakan untuk menghadapi rakyat. Organisasi ulama harus lebih dekat ke rakyat daripada ke birokrat. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Asri Rahayu (Program Officer PERGERAKAN, Bandung) Konflik bersenjata yang berlangsung selama 30 tahun dan bencana alam tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 lalu meninggalkan kemiskinan yang nyaris merata di seluruh Aceh. Akibat yang ditimbulkan nyaris melumpuhkan seluruh sendi-sendi kehidupan yang selama ini berjalan di Aceh baik infrastuktur, suprastruktur maupun sumber-sumber produksi masyarakat Aceh. Namun ini bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kemiskinan di Aceh, ada penyebab lainnya? |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Ridwan H Mukhtar | Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya, berdomisili di Banda Aceh Tulisan ini mencoba berkontribusi secara umum dengan sejumlah ide praktis dalam menghadapi gejala global yang semakin menyempitkan ruang gerak perempuan, khususnya ditengah keinginan pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) berperspektif Islam di Aceh dan hadirnya sejumlah “local genius” masalah Islam dan Perempuan di negeri Serambi Mekkah ini. |
|
|
|
||
|
|
Oleh:Wiratmadinata Harapan menjadikan Aceh sebagai subjek bagi dirinya sendiri dalam proses rekonstruksi, tampaknya masih berupa mimpi ideal. Sikap pragmatis telah menyeret masyarakat, termasuk organisasi masyarakat sipil, LSM (NGO), bahkan pemerintah hanya sebagai “worker” (pekerja) dan bukan “partner” (mitra) dari aktor-aktor rekonstruksi asing yang diwakili NGO (International Non Governmental Organization), donor dan institusi internasional lainnya. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Otto Syamsuddin Ishak | Sosiolog, Penasehat Aceh Institute (Tulisan serupa pernah dimuat di AcehKita) Hukum syariat hanya menjangkau laki-laki Aceh yang tidak pergi ke masjid di hari Jumat. Perempuan Aceh tidak memakai jilbab. Kaum muda Aceh yang pacaran di pinggir pantai. Singkatnya, pemberlakuan syariat ibarat memakaikan sepatu besi yang kekecilan pada kaki-kaki orang Aceh yang melakukan perlawanan terhadap aktor kolonial versi baru—yakni kaum dan penguasa Neo-Snouckis. Pemberlakuan syariat di Aceh hanya merupakan salah satu siasat budaya kolonialisme modern yang menguntungkan pusat. |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Muamar Vebry, ST, M.Sc | Researcher for the Aceh Institute Bagaimanakah agar program rehabilitasi perumahan tersebut dapat mengenai sasaran dan efektif tanpa mempersulit pelaksanaannya di lapangan? Prinsip utama ialah melahirkan peraturan yang benar-benar sederhana, adaptif, expandable (dapat diluaskan penerapannya) dan fleksibel terhadap kondisi di lapangan. Selain itu peraturan tersebut juga haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan sosial dan pemerataan |
|
|
|
||
|
|
Oleh: Anton Widyanto, M.Ag (Mahasiswa S-3 IAIN Ar-Raniry Banda Aceh) Pemegang otoritas untuk penegakan syari’ah di Aceh perlu memahami dan mengakomodasi isu-isu kontemporer yang dijunjung tinggi oleh masyarakat sedunia mulai dari Hak Asasi Manusia (HAM), penghormatan terhadap status wanita (gender), pluralisme dsb. Hal ini dirasa sangat krusial mengingat kita semua tentunya mendambakan wajah Islam yang tersenyum (The Smiling Islam) dan rahmatan lil ‘alamin. Bukan Islam yang nampak eksklusif, kaku (rigid), ketinggalan zaman (out of date) atau “menyeramkan”. Tentu ini akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi umat Islam di seantero jagat raya, bila Aceh menjadi pelopornya. |
|
|
|
||
|
|