|
|
|
|
MELURUSKAN AROGANSI LIMANTINA
241007
Oleh:
Herman RN | Alumnus Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah
Membaca
tulisan Limantina yang mengatakan tulisan saya inferior (bermutu
rendah) sehingga saya ingin memperlihatkan superior dari
dalam diri saya adalah kekeliruan yang teramat arogan. |
|
|
|
|
|
Apa
Benar Bahasa Aceh Tidak Punya Padanan kata Untuk 'Terima
Kasih' ?
250907
Oleh Limantina
Sihaloho | Peminat Masalah Bahasa, tinggal di Sumatera Utara.
Penjelasan Herman RN dalam
Interferensi “Budaya” Indonesia ke dalam Bahasa Aceh
(Menjawab Polemik Terima Kasih,
saya anggap bukan jawaban tapi pembelaan semu dari rasa
gamang bahkan mungkin juga rasa inferioritas Sdra. Herman
RN. |
|
|
|
|
|
Interferensi
“Budaya” Indonesia ke dalam Bahasa Aceh
(Menjawab Polemik Terima Kasih)
190907
Oleh Herman RN
| Alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
FKIP Unsyiah
Ini polemik tentang teurimong geunaséh”
yang hangat dibicarakan di milis Aceh Institute |
|
|
|
|
|
|
|
|
Ketika
Sastra Terabaikan
030807
Oleh: Cut Intan Meutia | Anggota Forum Lingkar Pena
Kita perlu memasarkan sastra
agar sastra tidak sepi oleh peminat atau yang paling
dikhawatirkan tak lagi mendapatkan tempat di hati masyarakat
kita. |
|
|
|
|
|
Tentang
Sebutan Sastrawan
100707
Oleh: Herman RN | Alumnus PBSID
Unsyiah. Peminat masalah Pendidikan & Sastra tinggal di Banda Aceh
Sastrawan merupakan gelar yang diberikan
kepada seseorang atas apa yang dilakukannya terhadap dunia
sastra. |
|
|
|
|
|
Mati
Ketawa Cara Sastrawan
210607
Oleh
Mustafa Ismail
| Pegiat Sastra,
Pemangku Blog Sastra jalansetapak.wordpress.com
TULISAN
Herman, buat saya, seperti interupsi “aneh” di sebuah
diskusi yang sedang berlangsung tentang “warna lokal dan
identitas lokal” .Tulisan Herman kali ini, buat saya,
seperti lucu-lucuan saja. |
|
|
|
|
|
|
|
|
Kegelisahan
Sastrawan
190607
Oleh: Herman RN | Alumnus PBSID
Unsyiah. Peminat masalah Pendidikan & Sastra tinggal di Banda Aceh
Pertanyaannya , apa yang menjadi standar
seseorang bisa disebut sebagai sastrawan? Apakah karya seseorang itu
harus dimuat dulu oleh koran nasional setiap Minggu? Lantas, yang
selalu mengirimkan karnyanya, tapi tak pernah dimuat? |
|
|
|
|
|
Warna Lokal dan Identitas Sastra
Oleh Mustafa Ismail | Pegiat Sastra, pemangku blog sastra:
http://jalansetapak.wordpress.com
Penggambaran
sebuah tempat yang detil, khas, lengkap dengan nama tempat itu, dalam
sebuah cerpen misalnya itu sudah menunjukkan bahwa cerpen itu memuat warna
lokal |
|
|
|
|
|
Kritikus (Aceh) Harus Bersalin Diatas Nisan
Pengarang
Oleh Teuku Kemal
Fasya
|
Ketua Komunitas Peradaban
Aceh (KPA)
Lhokseumawe.
SAYA
tagih ST dari pernyataan catastrophy tentang identitas dan kelokalan
satrawan Aceh
yang dibagi kepada kriteria: kurang dan cukup. Yang menyatakan bahwa unsur
lokal dari puisi Reza Indira belum tereksplorasi baik.
|
|
|
|
|
|
Kritik & Kritikus Sastra di Aceh
Oleh: Sulaiman Tripa | Dosen Fakultas
Hukum Unsyiah & Koordinator FDT
Budaya Aceh Institute
SANGAT
picik bila seseorang yang mengkritisi karya penulis Aceh, hanya
berniat untuk membunuh semangatnya |
|
|
|
|
|
Mau
Sastra Lokal atau Interlokal, Hana Blém
Oleh: Teuku Kemal Fasya
|
Ketua Komunitas Peradaban
Aceh (KPA)
SULAIMAN Tripa telah
sewenang-wenang dengan sense of reader-nya atas
karya-karya sastra penulis
Aceh |
|
|
|
|
|
Bisakah
Sastra Menjadi Penunjuk Identitas Aceh?
Oleh: Sulaiman Tripa |
Koordinator FDT Budaya Aceh Institute
Cerpen “Yang Dibalut Lumut”
Azhari sekalipun mengandung warna lokal, tapi tidak
bisa menjadi penunjuk identitas. |
|