MELIHAT
Aceh sebagai sebuah laboratorium, akhir-akhir ini begitu
menarik dan kompleks. Melihat Aceh, sebagai laboratorium,
tentu dengan berbagai fenomena, bisa saling berhubungan,
atau malah saling bertentangan.
Sengaja
disebut sebagai laboratorium, karena di Aceh, sedang
gencar-gencarnya dipraktekkan berbagai hal. Aceh menjadi
ukuran sesuatu yang penting, baik bagi Indonesia maupun
dunia.
Ada dua hal
penting dalam perjalanan sejarah; konflik dan bencana.
Konflik yang menimbulkan banyak tragedi memilukan, dalam
konteks seorang manusia dalam memanusiakan manusia untuk
menjadi manusia. Dalam sebuah konflik, mungkin tak hanya
di Aceh, sangat mungkin terjadi hal-hal yang tidak
manusiawi. Konflik, pada tataran keputusan politik
tentang konsep penyelesaian, juga kadangkala bisa
meminggirkan adanya penghormatan terhadap manusia.
Aceh, juga
adalah persoalan waktu. Ketika tekanan politik yang
unggul, kemanusiaan terbengkalai. Padahal sejarah sudah
memberitahukan berulang-ulang, betapa banyak energi yang
dihabiskan manusia untuk memulihkan kemanusiaan yang
bermasalah.
Konflik,
telah memperlihatkan bagaimana sesungguhnya manusia
harus diselamatkan dari perilaku-perilaku manusia yang
tidak memanusiakan manusia.
Lalu ada
bencana, yang memperlihatkan konflik dalam bentuk yang
lain. Bencana, juga umumnya disebabkan oleh perilaku
manusia yang tidak menjaga keseimbangan dunia. Tsunami
sekalipun, harus dilihat dari ulah-ulah manusia dengan
berbagai rupa, baik atas lingkungan, maupun atas diri.
Kembali ke
persoalan laboratorium. Paling tidak, ada empat lingkup
besar yang menarik untuk dilihat di Aceh. Pertama,
sebagai laboratorium sosial. Dalam wilayah ini, lihatlah:
(a) perilaku dan etika yang terbentuk. Banyak perilaku
dan etika yang diklaim bukan milik orang Aceh, kini
sudah diperankan oleh orang-orang Aceh. Ironisnya, para
orang-orang cerdas di bidang sosial belum bisa memetakan
secara utuh tentang berbagai permasalahan dalam konteks
ini: (b) terbentuknya gampong-gampong baru,
sangat memungkinkan memunculkan nilai-nilai baru yang
berbeda dengan nilai-nilai yang sudah ada di tempat
semula: (c) munculnya gampong global, di mana
banyak orang luar yang tiba-tiba sudah lalu-lalang di
sekitar kita.
Kedua,
sebagai laboratorium masalah keagamaan. Lihatlah: (a)
bagaimana pelaksanaan syariat Islam di Aceh menjadi
pembicaraan dari Aceh sampai ke Papua, dari Indonesia
sampai ke mancanegara: (b) saat melaksanakan syariat
Islam di Aceh, masih pula ditambah dengan pemurtadan.
Masalah ini, ada yang masih sebatas isu, namun ada
wilayah yang memang terjadi dengan penemuan berbagai
alat atau media yang sepertinya disengaja.
Ketiga,
laboratorium pembangunan: (a) keyakinan Pemerintah
melalui pembentukan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi
(BRR) bahwa Aceh akan selesai dalam waktu empat tahun.
Sebenarnya adalah sebuah kerdil saat BRR tak siap untuk
menyatakan pembangunan Aceh akan butuh waktu berpuluh
tahun –Jepang saja butuh waktu sepuluh tahun untuk
membangun Kobe; (b) pembangunan rumah yang berjalan
lamban, bahkan sampai memasuki tahun ketiga usai
tsunami, masih ada 50 ribu lebih orang yang masih
tinggal di barak.
Keempat,
laboratorium antikorupsi global. Ada beberapa
perkembangan menarik seusai tsunami, di mana: (a) di
Aceh sudah terbiasa melihat sebuah badan yang diperiksa
oleh berbagai lembaga, baik nasional dan internasional;
(b) sedangkan dana itu tak hanya bersumber dari
nasional, tapi juga internasional dengan berbagai
konsekuensi yang jarang mau dibedah oleh orang-orang
yang terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi. Ada
hal-hal yang seharusnya dilihat secara objektif,
misalnya, apakah bantuan itu semuanya berbentuk uang?
Bukankah tidak semua bantuan itu diberikan berbentuk
materi? Pada kenyataannya, biaya-biaya insentif
konsultan-konsultan yang dibayar oleh negara pemberi
bantuan, juga diinkludkan dalam jumlah bantuan ke Aceh
yang angkanya dipubikasi ke seluruh dunia.
Empat
lingkup itu, mungkin bisa terwakili, walau tak tertutup
kemungkinan masih banyak lingkup-lingkup yang lain.[ST]