HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 200607|
ACEH
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

MELIHAT Aceh sebagai sebuah laboratorium, akhir-akhir ini begitu menarik dan kompleks. Melihat Aceh, sebagai laboratorium, tentu dengan berbagai fenomena, bisa saling berhubungan, atau malah saling bertentangan.

Sengaja disebut sebagai laboratorium, karena di Aceh, sedang gencar-gencarnya dipraktekkan berbagai hal. Aceh menjadi ukuran sesuatu yang penting, baik bagi Indonesia maupun dunia.

Ada dua hal penting dalam perjalanan sejarah; konflik dan bencana. Konflik yang menimbulkan banyak tragedi memilukan, dalam konteks seorang manusia dalam memanusiakan manusia untuk menjadi manusia. Dalam sebuah konflik, mungkin tak hanya di Aceh, sangat mungkin terjadi hal-hal yang tidak manusiawi. Konflik, pada tataran keputusan politik tentang konsep penyelesaian, juga kadangkala bisa meminggirkan adanya penghormatan terhadap manusia.

Aceh, juga adalah persoalan waktu. Ketika tekanan politik yang unggul, kemanusiaan terbengkalai. Padahal sejarah sudah memberitahukan berulang-ulang, betapa banyak energi yang dihabiskan manusia untuk memulihkan kemanusiaan yang bermasalah.

Konflik, telah memperlihatkan bagaimana sesungguhnya manusia harus diselamatkan dari perilaku-perilaku manusia yang tidak memanusiakan manusia.

Lalu ada bencana, yang memperlihatkan konflik dalam bentuk yang lain. Bencana, juga umumnya disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak menjaga keseimbangan dunia. Tsunami sekalipun, harus dilihat dari ulah-ulah manusia dengan berbagai rupa, baik atas lingkungan, maupun atas diri.

Kembali ke persoalan laboratorium. Paling tidak, ada empat lingkup besar yang menarik untuk dilihat di Aceh. Pertama, sebagai laboratorium sosial. Dalam wilayah ini, lihatlah: (a) perilaku dan etika yang terbentuk. Banyak perilaku dan etika yang diklaim bukan milik orang Aceh, kini sudah diperankan oleh orang-orang Aceh. Ironisnya, para orang-orang cerdas di bidang sosial belum bisa memetakan secara utuh tentang berbagai permasalahan dalam konteks ini: (b) terbentuknya gampong-gampong baru, sangat memungkinkan memunculkan nilai-nilai baru yang berbeda dengan nilai-nilai yang sudah ada di tempat semula: (c) munculnya gampong global, di mana banyak orang luar yang tiba-tiba sudah lalu-lalang di sekitar kita.

Kedua, sebagai laboratorium masalah keagamaan. Lihatlah: (a) bagaimana pelaksanaan syariat Islam di Aceh menjadi pembicaraan dari Aceh sampai ke Papua, dari Indonesia sampai ke mancanegara: (b) saat melaksanakan syariat Islam di Aceh, masih pula ditambah dengan pemurtadan. Masalah ini, ada yang masih sebatas isu, namun ada wilayah yang memang terjadi dengan penemuan berbagai alat atau media yang sepertinya disengaja.

Ketiga, laboratorium pembangunan: (a) keyakinan Pemerintah melalui pembentukan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) bahwa Aceh akan selesai dalam waktu empat tahun. Sebenarnya adalah sebuah kerdil saat BRR tak siap untuk menyatakan pembangunan Aceh akan butuh waktu berpuluh tahun –Jepang saja butuh waktu sepuluh tahun untuk membangun Kobe; (b) pembangunan rumah yang berjalan lamban, bahkan sampai memasuki tahun ketiga usai tsunami, masih ada 50 ribu lebih orang yang masih tinggal di barak.

Keempat, laboratorium antikorupsi global. Ada beberapa perkembangan menarik seusai tsunami, di mana: (a) di Aceh sudah terbiasa melihat sebuah badan yang diperiksa oleh berbagai lembaga, baik nasional dan internasional; (b) sedangkan dana itu tak hanya bersumber dari nasional, tapi juga internasional dengan berbagai konsekuensi yang jarang mau dibedah oleh orang-orang yang terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi. Ada hal-hal yang seharusnya dilihat secara objektif, misalnya, apakah bantuan itu semuanya berbentuk uang? Bukankah tidak semua bantuan itu diberikan berbentuk materi? Pada kenyataannya, biaya-biaya insentif konsultan-konsultan yang dibayar oleh negara pemberi bantuan, juga diinkludkan dalam jumlah bantuan ke Aceh yang angkanya dipubikasi ke seluruh dunia.

Empat lingkup itu, mungkin bisa terwakili, walau tak tertutup kemungkinan masih banyak lingkup-lingkup yang lain.[ST]