HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 240507|
AJARAN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ALAM sejarah Aceh, pernah terjadi perbedaan pendapat yang hebat dalam konteks agama antara mufti masa Sultan Iskandar Muda dan mufti masa Sultan Iskandar Tsani. Waktu itu, gelarnya kadhi malikul adil.

Risalah tasawuf dan keagamaan itu, ajaran wujudiyah, dituliskan Hamzah Fansury yang hidup pada masa Sultan Alaiddin Syah Saidil Mukammil sampai masa Sultan Iskandar Muda. Dalam abad ke-16 sampai abad ke-17. Penyambung Hamzah Fansury adalah Syamsuddin as-Sumatrani. Mereka sama-sama pernah menjabat kadhi malikul adil.

Risalah tersebut, kemudian diklaim sebagai sesat oleh Nuruddin ar-Raniry masa Sultan Iskandar Tsani (1637-1641). Ada sekitar 24 kitab yang ditulis Nuruddin ar-Raniry, dan sebanyak sembilan kitab, menjelaskan tentang kesesatan ajaran wujudiyah.

Seperti kita tahu, bahwa beberapa karya Hamzah Fansury, khususnya yang bernuansa sastra sufi, menarik perhatian peneliti internasional untuk menelusuri kejayaan sastra Melayu. Malah, Ali Hasjmy mengklaim, bahwa Hamzah Fansury adalah sastrawan besar sufi di Nusantara dan Melayu sepanjang abad.

Di Indonesia, eksistensi karya-karya Hamzah Fansury diulas oleh Doktor Abdul Hadi WM, yang menulis disertasi dari Pendidikan Doktoralnya di University Kebangsaan Malaysia (UKM) dan kemudian dibukukan dalam buku “Tasawuf yang Tertindas” (Paramadina, 2002).

Di satu sisi, ada yang positif, di mana perbedaan pendapat itu dibahas dengan karya, lewat menulis. Namun sisi negatifnya adalah, ketika Nuruddin ar-Raniry memegang tampuk kadhi malikul adil, buku-buku karya Hamzah Fansury beserta pengikutnya dibakar di depan Masjid Raya Baiturrahman.

Masa Sultan Iskandar Tsani, lahir fatwa kesesatan dari ajaran ini. Lalu orang-orang yang berfaham wujudiyah, diultimatum untuk meninggalkannya dan kemudian yang tidak meninggalkan, dihukum bahkan dibunuh.

Kenyataan ini adalah sebentuk kisah-kisah kelam dalam masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam, yang pada masa Sultan Iskandar Muda termasyhur, meuceuhu ban sigom donya.

Secuil kisah kelam ini, seperti menenggelamkan kisah besar lain semisal Kerajaan Aceh Darussalam yang pernah menjadi kerajaan besar Islam dunia, serta menjadi kawasan penting dalam kontak dagang internasional dan penyebaran Islam di Nusantara dan sekitarnya.

Terlepas bagaimana perdebatan itu berlangsung, yang jelas di Aceh masa silam telah melahirkan banyak orang-orang yang brilian dengan karyanya. Nama-nama besar kemudian menjadi pengharum nama Aceh, hingga namanya terkenal hingga sekarang.

Sampai akhir abad, karya-karya mereka tak pernah putus diteliti oleh pencari ilmu pengetahuan. Gerak roda peradaban, pada akhirnya tercatat dalam buku berjilid-jilid berabad-abad kemudian.

Namun ada yang kurang, bahwa di gampong, karya-karya besar itu tidak banyak mendapat perhatian, sebagaimana banyak pakar yang menjadikan itu sebagai bahan disertasi utama mereka dalam menyelesaikan pendidikan doktoralnya.

Selain Ali Hasjmy, praktis, hampir tak ada nama-nama lain yang berkenan mengulas karya mereka dengan tuntas. Kenyataan ini menampakkan fenomena yang lain, di mana banyak yang akhirnya akan melupakan.

Sastrawan sekalipun, padahal karya masa lalu itu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa lahir sebagai sastra.[ST]