ETELAH
tsunami, masalah amplop terlihat makin menjadi-jadi.
Amplop yang berisi sejumlah dana yang dibayar untuk
mengganti jerih payah. Jerih karena payah. Acara-acara
yang katanya untuk membantu korban tsunami, umumnya
mendapatkan amplop atas jerih payahnya. Amplop itu,
sudah menjadi halal karena melewati mekanisme yang
legal.
Banyak amplop yang dikeluarkan,
kerapkali terasa tak rasional, walaupun itu sah, karena
telah melewati mekanisme yang legal. Sama seperti
mobil
dinas, sesudah sekian tahun, walau masih bagus, ada
peluang untuk didem. Itu juga sebagai sebentuk amplop.
Belum lagi, hampir semua kegiatan, memang dianggarkan
untuk mendapat pembayaran, melalui amplop.
Kini, sesudah amplop menjadi tradisi,
ternyata sulit untuk diubah. Ada sebagian orang yang
katanya, sudah mempunyai keinginan untuk berusaha
meninggalkan amplop, tapi belum bisa maksimal karena
ternyata dari amplop, tersimpan kenikmatan-kenikmatan.
Karena ini sudah menjadi tradisi,
maka seperti sungguh tak enak bila sehabis satu
kegiatan, tiba-tiba tidak ada seseorang yang menyodor
semacam tanda bukti terima untuk diteken.
Begitulah amplop, dalam etika profesi
jurnalistik, itu sangat diharamkan. Tak ada kamus halal
amplop dalam mengerjakan jurnalistik. Namun sebagian
kantor, justru menyediakan sejumlah anggaran untuk
pemberitaan. Entah siapa yang ambil.
Amplop dalam profesi itu haram, walau
ada sebagian oknum di dalamnya yang tetap mengambilnya
–masih lumayan kalau tidak diminta. Untuk mendapat nilai
dari alasan, ada oknum yang menerima sesuatu. Di jalan
raya, di darat, di laut, di udara, masalah amplop sangat
menarik.
Jelaslah amplop sulit diberantas.
Amplop yang haram saja banyak orang yang terima,
logikanya, tentu, apalagi yang halal. Tapi yang haram,
sedikit banyak, juga dipengaruhi oleh amplop-amplop yang
halal.
Ada lembaga yang memberi gaji kepada
pekerjanya berlipat-lipat, agar pekerja tak menerima
amplop haram. Masuk akal. Yang tak masuk akal, bila
ternyata ada pekerja yang bermain cantik, dengan
menerima amplop.
Harus diakui, masalah amplop ini ternyata sedang
krusial. Pola permainannya beragam: ada yang halus, ada
yang kasar; ada yang kasat mata, ada yang tidak kasat
mata; ada yang masuk akal, ada yang tidak masuk akal;
ada yang sesuai, ada yang tidak sesuai.
Seluruh isi amplop, sekaligus menjadi
cermin dari adanya kelas. Dua orang yang mengisi sesuatu
yang sama, karena berbeda posisi, akan berbeda isi
amplop. Dalam sebuah diskusi, orang-orang terkenal
seperti artis, walau tak mengerti masalah, tetap dibayar
mahal. Apalagi amplopnya orang-orang terhormat dengan
amplopnya orang-orang yang tidak terhormat atau setengah
terhormat.
Ada kesan, dalam hal-hal tertentu
yang berkaitan dengan amplop, lagee tatambak u cot.
Untuk orang-orang yang berkecukupan, isi amplopnya
bertambah tebal. Sedangkan orang-orang sederhana dan
hidup apa adanya, walau berkualitas, amplop bisa
setengah-setengah –sedang-sedang saja.
Tak ada beban, walau banyak kesan.
Hingga ada yang bilang, namanya saja amplop![ST]