HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 260407|
AMPLOP
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ETELAH tsunami, masalah amplop terlihat makin menjadi-jadi. Amplop yang berisi sejumlah dana yang dibayar untuk mengganti jerih payah. Jerih karena payah. Acara-acara yang katanya untuk membantu korban tsunami, umumnya mendapatkan amplop atas jerih payahnya. Amplop itu, sudah menjadi halal karena melewati mekanisme yang legal.

Banyak amplop yang dikeluarkan, kerapkali terasa tak rasional, walaupun itu sah, karena telah melewati mekanisme yang legal. Sama seperti mobil dinas, sesudah sekian tahun, walau masih bagus, ada peluang untuk didem. Itu juga sebagai sebentuk amplop. Belum lagi, hampir semua kegiatan, memang dianggarkan untuk mendapat pembayaran, melalui amplop.

Kini, sesudah amplop menjadi tradisi, ternyata sulit untuk diubah. Ada sebagian orang yang katanya, sudah mempunyai keinginan untuk berusaha meninggalkan amplop, tapi belum bisa maksimal karena ternyata dari amplop, tersimpan kenikmatan-kenikmatan.

Karena ini sudah menjadi tradisi, maka seperti sungguh tak enak bila sehabis satu kegiatan, tiba-tiba tidak ada seseorang yang menyodor semacam tanda bukti terima untuk diteken.

Begitulah amplop, dalam etika profesi jurnalistik, itu sangat diharamkan. Tak ada kamus halal amplop dalam mengerjakan jurnalistik. Namun sebagian kantor, justru menyediakan sejumlah anggaran untuk pemberitaan. Entah siapa yang ambil.

Amplop dalam profesi itu haram, walau ada sebagian oknum di dalamnya yang tetap mengambilnya –masih lumayan kalau tidak diminta. Untuk mendapat nilai dari alasan, ada oknum yang menerima sesuatu. Di jalan raya, di darat, di laut, di udara, masalah amplop sangat menarik.

Jelaslah amplop sulit diberantas. Amplop yang haram saja banyak orang yang terima, logikanya, tentu, apalagi yang halal. Tapi yang haram, sedikit banyak, juga dipengaruhi oleh amplop-amplop yang halal.

Ada lembaga yang memberi gaji kepada pekerjanya berlipat-lipat, agar pekerja tak menerima amplop haram. Masuk akal. Yang tak masuk akal, bila ternyata ada pekerja yang bermain cantik, dengan menerima amplop.

Harus diakui, masalah amplop ini ternyata sedang krusial. Pola permainannya beragam: ada yang halus, ada yang kasar; ada yang kasat mata, ada yang tidak kasat mata; ada yang masuk akal, ada yang tidak masuk akal; ada yang sesuai, ada yang tidak sesuai.

Seluruh isi amplop, sekaligus menjadi cermin dari adanya kelas. Dua orang yang mengisi sesuatu yang sama, karena berbeda posisi, akan berbeda isi amplop. Dalam sebuah diskusi, orang-orang terkenal seperti artis, walau tak mengerti masalah, tetap dibayar mahal. Apalagi amplopnya orang-orang terhormat dengan amplopnya orang-orang yang tidak terhormat atau setengah terhormat.

Ada kesan, dalam hal-hal tertentu yang berkaitan dengan amplop, lagee tatambak u cot. Untuk orang-orang yang berkecukupan, isi amplopnya bertambah tebal. Sedangkan orang-orang sederhana dan hidup apa adanya, walau berkualitas, amplop bisa setengah-setengah –sedang-sedang saja.

Tak ada beban, walau banyak kesan. Hingga ada yang bilang, namanya saja amplop![ST]