HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 050507|
BACA (1)
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ENYUM, adakah yang tidak mengakui bahwa itu sebagai sebuah tanda? Sebagai sebuah tanda, tentu saja bisa bergeser maknanya, disesuaikan maksudnya. Sebuah senyum bisa jadi sebagai sebuah senang, tapi bisa jadi sebagai sebuah benci. Ada juga gabungan kedua-duanya. Seseorang yang sedang jatuh cinta, misalnya, maka sering ada kisah senyum benci tapi rindu.

Sebagai tanda, senyum juga bisa menghasilkan berbagai sebutan: senyum harimau, senyum angsa, senyum buaya, bahkan senyum meuruwa.

Selain senyum, ada berbagai tanda lain, seperti angka dan angka-angka. Sial, misalnya di Indonesia digambarkan dengan angka 18. Sementara, menurut seorang teman, di Inggris meyakini angka 8 sebagai angka sial.

Tapi sesungguhnya tak ada yang sial atau tidak sial. Sangat ironis bila dalam masyarakat agamis masih ada anggapan seperti itu. Percaya kepada kekuatan lain selain Tuhan merupakan perbuatan menduakan Tuhan.

Namun demikian, itu tetap terjadi pada sebagian orang. Percaya kepada angka-angka. Selebihnya adalah tanda dari angka-angka. Kalau di Aceh sendiri misalnya, bisa ditanya sama orang-orang gampong, yang dikatakan angka gila pasti 87.

Semua itu menjadi tanda dari angka-angka. Bisa lebih parah lagi yang mengindap orang-orang yang sering bermain buntut. Mereka akan bermimpi tentang kekayaan dengan berbagai angka sebagai tanda yang didapat dari orang gila, bahkan ada yang rela tidur di atas kuburan untuk mendapatkan angka-angka. Kejadian aneh-aneh di gampong akan diingat untuk angka buntut. Bila sesekali ada kecelakaan lalu-lintas, orang-orang yang hidup dengan membuntut, akan melihat platnya.

Lupakan masalah buntut –sungguh ironis bila sampai punya keinginan untuk membelinya. Lupakan. Karena hidup sama sekali bukan seperti: ya gani, ya gani, tiek peng saboh guni.

Yang perlu diingat adalah banyak tanda di sekeliling kita. Ada yang bergerak, ada yang tidak bergerak. Manusia bisa saja membuat berbagai tanda, semacam penanda emosi di surat elektronik.

Orang-orang yang cerdas dan beradab, juga ditentukan oleh bagaimana seseorang dapat melihat tanda-tanda. Kalau dalam pergaulan, masuk ke rumah harus melalui ret yang sudah ada. Maka akan dianggap tamu. Orang-orang yang tidak masuk melalui ret, dalam kamus tradisional, akan dianggap sebagai pencuri. Masuk lewat jalan yang sudah ditentukan, bertanda adanya salam.

Orang-orang yang menerobos traffic light, adalah orang-orang yang tak faham dengan tanda-tanda. Orang-orang seperti itu harus belajar lagi untuk memberi makna pada hidup.

Tanda akan memberi pembelajaran. Bila ada mendung, kemungkinan akan hujan, walau belum pasti. Ada api, tentu ada asap. Tanda ini semacam hukum alam. Akan banyak masalah bila ini diputarbalikkan.

Dalam perjalanan, ada orang-orang yang berusaha memutarbalikkan hukum alam. Membunuh hama dengan racun, padahal dalam kehidupan, sebuah hama itu merupakan makanan hewan yang lain yang mungkin sudah berkurang. Rotasi kehidupan tidak lagi normal sehingga hewan jenis tertentu bertambah banyak dan mengacaukan tumbuhan, sementara jenis hewan lain yang memakannya sudah berkurang.

Ini menjadi masalah lain dari membaca tanda. Keinginan untuk hidup dalam sekejap sering menjebak manusia untuk melawan alam yang alamiah. Padahal alam, bukan ya gani ya gani tiek peng saboh guni. Dalam agama kita, ada keniscayaan dalam hidup, di mana ikhtiar itu wajib.[ST]