ENYUM,
adakah yang tidak mengakui bahwa itu sebagai sebuah
tanda? Sebagai sebuah tanda, tentu saja bisa bergeser
maknanya, disesuaikan maksudnya. Sebuah senyum bisa jadi
sebagai sebuah senang, tapi bisa jadi sebagai sebuah
benci. Ada juga gabungan kedua-duanya. Seseorang yang
sedang jatuh cinta, misalnya, maka sering ada kisah
senyum benci tapi rindu.
Sebagai
tanda, senyum juga bisa menghasilkan berbagai sebutan:
senyum harimau, senyum angsa, senyum buaya, bahkan
senyum meuruwa.
Selain
senyum, ada berbagai tanda lain, seperti angka dan
angka-angka. Sial, misalnya di Indonesia digambarkan
dengan angka 18. Sementara, menurut seorang teman, di
Inggris meyakini angka 8 sebagai angka sial.
Tapi
sesungguhnya tak ada yang sial atau tidak sial. Sangat
ironis bila dalam masyarakat agamis masih ada anggapan
seperti itu. Percaya kepada kekuatan lain selain Tuhan
merupakan perbuatan menduakan Tuhan.
Namun
demikian, itu tetap terjadi pada sebagian orang. Percaya
kepada angka-angka. Selebihnya adalah tanda dari
angka-angka. Kalau di Aceh sendiri misalnya, bisa
ditanya sama orang-orang gampong, yang dikatakan
angka gila pasti 87.
Semua itu
menjadi tanda dari angka-angka. Bisa lebih parah lagi
yang mengindap orang-orang yang sering bermain buntut.
Mereka akan bermimpi tentang kekayaan dengan berbagai
angka sebagai tanda yang didapat dari orang gila, bahkan
ada yang rela tidur di atas kuburan untuk mendapatkan
angka-angka. Kejadian aneh-aneh di gampong akan
diingat untuk angka buntut. Bila sesekali ada
kecelakaan lalu-lintas, orang-orang yang hidup dengan
membuntut, akan melihat platnya.
Lupakan
masalah buntut –sungguh ironis bila sampai punya
keinginan untuk membelinya. Lupakan. Karena hidup sama
sekali bukan seperti: ya gani, ya gani, tiek peng
saboh guni.
Yang perlu
diingat adalah banyak tanda di sekeliling kita. Ada yang
bergerak, ada yang tidak bergerak. Manusia bisa saja
membuat berbagai tanda, semacam penanda emosi di surat
elektronik.
Orang-orang
yang cerdas dan beradab, juga ditentukan oleh bagaimana
seseorang dapat melihat tanda-tanda. Kalau dalam
pergaulan, masuk ke rumah harus melalui ret yang
sudah ada. Maka akan dianggap tamu. Orang-orang yang
tidak masuk melalui ret, dalam kamus tradisional,
akan dianggap sebagai pencuri. Masuk lewat jalan yang
sudah ditentukan, bertanda adanya salam.
Orang-orang
yang menerobos traffic light, adalah orang-orang
yang tak faham dengan tanda-tanda. Orang-orang seperti
itu harus belajar lagi untuk memberi makna pada hidup.
Tanda akan
memberi pembelajaran. Bila ada mendung, kemungkinan akan
hujan, walau belum pasti. Ada api, tentu ada asap. Tanda
ini semacam hukum alam. Akan banyak masalah bila ini
diputarbalikkan.
Dalam
perjalanan, ada orang-orang yang berusaha
memutarbalikkan hukum alam. Membunuh hama dengan racun,
padahal dalam kehidupan, sebuah hama itu merupakan
makanan hewan yang lain yang mungkin sudah berkurang.
Rotasi kehidupan tidak lagi normal sehingga hewan jenis
tertentu bertambah banyak dan mengacaukan tumbuhan,
sementara jenis hewan lain yang memakannya sudah
berkurang.
Ini menjadi masalah lain dari membaca tanda. Keinginan
untuk hidup dalam sekejap sering menjebak manusia untuk
melawan alam yang alamiah. Padahal alam, bukan ya
gani ya gani tiek peng saboh guni. Dalam agama kita,
ada keniscayaan dalam hidup, di mana ikhtiar itu wajib.[ST]