ATA-kata
seorang teman benar-benar menyadarkan saya dari sebuah
lamunan panjang. Sang teman mengatakan: Kita, sebagai
orang pandai, sangat pandai berhitung untuk bertambah-tambah,
berkurang-kurang, dan berkali-kali. Tapi giliran memakai
rumus berbagi-bagi, banyak orang yang jadi tidak pandai.
Seorang
teman lain, pada kali yang berbeda, mengatakan, cukup
banyak lembaga di gampong ini, yang hancur begitu
energinya banyak. Dalam sebuah lembaga atau organisasi,
cenderung tidak bermasalah ketika semua anggota di
dalamnya, semua bergeriwat untuk melepaskan keringat
dalam berbuat untuk kepentingan bersama. Teman ini, lalu
menitip inti yang ingin disampaikan: ketika sebuah
kumpulan sudah tersedia banyak energi, maka kalkulasi
keringat yang telah dikeluarkan, itu jarang dilakukan
bersama-sama seperti ketika kalkulasi bagaimana
memajukan kumpulan.
Ini adalah
masalah klasik. Benar-benar klasik. Orang-orang bertipe
filsuf, biasanya akan menjauh. Kata orang yang bertipe
seperti itu: orang yang sudah beruang, jarang berfikir
bagaimana bila tak beruang. Orang-orang yang bertipe
temperamen, biasanya akan melabrak. Orang bertipe ini
akan berkata: enak saja!
Orang-orang
yang bertipe pengecut, biasanya akan membuat banyak
pernyataan di belakang, tanpa mau ikut dalam berbagai
musyawarah penyelesaian masalah. Orang yang bertipe
seperti ini, biasanya akan mengatakan: lihat itu!
Selebihnya
ada orang-orang yang bertipe jantan, biasanya bila ada
masalah, orang-orang seperti ini akan memanggil semuanya,
lalu meminta semua menyampaikan permasalahannya, lalu
dicarikan jalan keluar yang menuntungkan bersama-sama.
Orang-orang yang bertipe seperti ini, akan mengatakan:
semua masalah bisa dibicarakan.
Juga ada
orang yang bertipe egois, yang di mana saja akan
memproklamirkan bahwa dirinyalah yang benar. Orang-orang
yang bertipe seperti ini, akan selalu mengatakan:
lihatlah, karena mereka tak mendengar perkataan saya.
Terdapat
pula tipe orang yang memilih diam, lagee biri jikap
le asee. Orang-orang yang seperti ini selalu menjadi
tumbal. Tak peduli tentang apa yang diderita. Biasanya,
orang bertipe seperti ini akan mengatakan: biarkan saja,
tak masalah.
Terakhir,
ada orang yang bertipe pahlawan. Biasanya sangat tidak
suka bila ada masalah. Orang-orang yang bertipe seperti
ini akan mengatakan: semua masalah bisa diselesaikan.
Enam tipe
itu, memperlihatkan bagaimana rumus matematika
dipergunakan oleh orang-orang bertipe itu. Masalah baru
ada ketika semua rumus tidak bisa difungsikan. Masalah
mengental ketika tidak semua rumus dipakai. Padahal,
taraf semua rumus matematika itu sama pentingnya.
Orang yang
berhasil menjalankan kebersamaan, tak hanya membutuhkan
pengetahuan tentang rumus matematika, tapi juga bisa dan
mau menerapkannya. Banyak orang yang memiliki
pengetahuan dan bisa menerapkan, tapi tak mau
mengaplikasikan. Ini juga menjadi masalah.
Sebenarnya
tidak penting untuk membuat urutan mana yang penting.
Artinya skala prioritas bisa diurutkan asal masuk akan
bagi semua. Dalam masalah kebersamaan, masalah skala
prioritas ini kerap subjektif. Masing-masing memiliki
kehendak yang bisa jadi itu tidak sesuai dengan kehendak
bersama.
Ketika
kehendak individu sudah dikedepankan, menjadi tidak ada
artinya kebersamaan –yang mensyaratkan bahwa sebuah
kumpulan adalah kehendak yang akan diterima oleh
semuanya.
Inilah yang
tidak dipunyai oleh semua orang, termasuk orang pandai
sekalipun. Ini tentu harus dituntaskan, bila ingin
menjawab persoalan dua teman saya di atas. Hanya dengan
kehendak bersama yang membuat seseorang itu, tahu, bisa,
dan mau mempergunakan semua rumus matematika. Tidak
hanya bertambah-tambah, berkurang-kurang, berkali-kali,
tapi juga berbagi-bagi.[ST]