HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 010507|
BAGI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ATA-kata seorang teman benar-benar menyadarkan saya dari sebuah lamunan panjang. Sang teman mengatakan: Kita, sebagai orang pandai, sangat pandai berhitung untuk bertambah-tambah, berkurang-kurang, dan berkali-kali. Tapi giliran memakai rumus berbagi-bagi, banyak orang yang jadi tidak pandai.

Seorang teman lain, pada kali yang berbeda, mengatakan, cukup banyak lembaga di gampong ini, yang hancur begitu energinya banyak. Dalam sebuah lembaga atau organisasi, cenderung tidak bermasalah ketika semua anggota di dalamnya, semua bergeriwat untuk melepaskan keringat dalam berbuat untuk kepentingan bersama. Teman ini, lalu menitip inti yang ingin disampaikan: ketika sebuah kumpulan sudah tersedia banyak energi, maka kalkulasi keringat yang telah dikeluarkan, itu jarang dilakukan bersama-sama seperti ketika kalkulasi bagaimana memajukan kumpulan.

Ini adalah masalah klasik. Benar-benar klasik. Orang-orang bertipe filsuf, biasanya akan menjauh. Kata orang yang bertipe seperti itu: orang yang sudah beruang, jarang berfikir bagaimana bila tak beruang. Orang-orang yang bertipe temperamen, biasanya akan melabrak. Orang bertipe ini akan berkata: enak saja!

Orang-orang yang bertipe pengecut, biasanya akan membuat banyak pernyataan di belakang, tanpa mau ikut dalam berbagai musyawarah penyelesaian masalah. Orang yang bertipe seperti ini, biasanya akan mengatakan: lihat itu!

Selebihnya ada orang-orang yang bertipe jantan, biasanya bila ada masalah, orang-orang seperti ini akan memanggil semuanya, lalu meminta semua menyampaikan permasalahannya, lalu dicarikan jalan keluar yang menuntungkan bersama-sama. Orang-orang yang bertipe seperti ini, akan mengatakan: semua masalah bisa dibicarakan.

Juga ada orang yang bertipe egois, yang di mana saja akan memproklamirkan bahwa dirinyalah yang benar. Orang-orang yang bertipe seperti ini, akan selalu mengatakan: lihatlah, karena mereka tak mendengar perkataan saya.

Terdapat pula tipe orang yang memilih diam, lagee biri jikap le asee. Orang-orang yang seperti ini selalu menjadi tumbal. Tak peduli tentang apa yang diderita. Biasanya, orang bertipe seperti ini akan mengatakan: biarkan saja, tak masalah.

Terakhir, ada orang yang bertipe pahlawan. Biasanya sangat tidak suka bila ada masalah. Orang-orang yang bertipe seperti ini akan mengatakan: semua masalah bisa diselesaikan.

Enam tipe itu, memperlihatkan bagaimana rumus matematika dipergunakan oleh orang-orang bertipe itu. Masalah baru ada ketika semua rumus tidak bisa difungsikan. Masalah mengental ketika tidak semua rumus dipakai. Padahal, taraf semua rumus matematika itu sama pentingnya.

Orang yang berhasil menjalankan kebersamaan, tak hanya membutuhkan pengetahuan tentang rumus matematika, tapi juga bisa dan mau menerapkannya. Banyak orang yang memiliki pengetahuan dan bisa menerapkan, tapi tak mau mengaplikasikan. Ini juga menjadi masalah.

Sebenarnya tidak penting untuk membuat urutan mana yang penting. Artinya skala prioritas bisa diurutkan asal masuk akan bagi semua. Dalam masalah kebersamaan, masalah skala prioritas ini kerap subjektif. Masing-masing memiliki kehendak yang bisa jadi itu tidak sesuai dengan kehendak bersama.

Ketika kehendak individu sudah dikedepankan, menjadi tidak ada artinya kebersamaan –yang mensyaratkan bahwa sebuah kumpulan adalah kehendak yang akan diterima oleh semuanya.

Inilah yang tidak dipunyai oleh semua orang, termasuk orang pandai sekalipun. Ini tentu harus dituntaskan, bila ingin menjawab persoalan dua teman saya di atas. Hanya dengan kehendak bersama yang membuat seseorang itu, tahu, bisa, dan mau mempergunakan semua rumus matematika. Tidak hanya bertambah-tambah, berkurang-kurang, berkali-kali, tapi juga berbagi-bagi.[ST]