LEWAT
berbagai ruang, kita sedang dipaksa menikmati keindahan
bahasa. Ada yang pro dan ada yang kontra terhadap suatu
masalah, kedua-duanya selalu merasionalisasikan
pendapatnya melalui bahasa-bahasa yang indah. Lewat
bahasa, akan terasa asin atau hambar suatu pembelaan
atau tuduhan. Dan itu, tersalurkan lewat sampaian suatu
kata-kata.
Sebuah
ajakan, sebuah perlawanan, sebuah kritik, sebuah
pembelaan, akan masuk akal ketika bahasa yang
dipergunakan mengena. Bahasa yang awut-awutan, kerap tak
mengundang perhatian, walau itu untuk mengajak orang
kepada hal-hal yang baik. Tapi sebuah bahasa yang masuk
akal, kerap bisa mengelabui orang-orang yang mendengar
atau membacanya, walau sampaian itu bukan hal-hal yang
baik.
Akhir-akhir
ini, malah, bahasa sudah bisa dipermainkan. Orang yang
berbuat sedikit, tapi dengan bahasa yang bagus, akan
terbaca seolah-olah berbuat sesuatu yang besar, wah.
Keindahan bahasa yang membuat seseorang akan dianggap
sebagai pahlawan, atau sebaliknya.
Bahasa,
bisa menjadi senjata. Karena keindahan bahasa, banyak
koruptor yang menjadi ringan hukuman. Kepiawaian dalam
menggunakan bahasa, seorang pembunuh tak lama berada di
balik jeruji besi, dan sebagainya.
Di semua
tempat, bahasa menjadi sangat dominan berperan. Dalam
tugas rehabilitasi dan rekonstruksi sekalipun, para ahli
pemakaian bahasa akan dibayar mahal. Orang-orang yang
bisa merumuskan bahasa bagus dari pelaksana program,
biasanya akan mendapatkan bayaran mahal.
Ini bisa
dibuktikan. Setiap akhir tahun, kita bisa mengumpulkan
banyak buku sebagai ruang untuk menyampaikan banyak
keberhasilan. Dalam buku yang tidak jarang akan dicetak
mewah, jarang disebutkan ada kegagalan. Kalau pun
terpaksa harus disebutkan ketidakberhasilan, maka akan
dirumuskan dalam bahasa yang bisa menjadi cermin dari
adanya kekurangan manusia.
Dengan
bahasalah seseorang diberi gambaran tidak bersalah atau
tidak sengaja. Dengan bahasa memungkinkan semua yang
tidak masuk akan menjadi masuk akal. Makanya yang bisa
melakukan itu akan dibayar mahal.
Orang-orang
yang berposisi di sini, juga dibantu dengan orang yang
memiliki hubungan baik dengan banyak orang. Jadi
keindahan bahasa, pada akhirnya juga tersalur lewat
orang-orang yang dipercayai bisa menyampaikannya dengan
fasih. (ST)