HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 060707|
BAHASA
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

LEWAT berbagai ruang, kita sedang dipaksa menikmati keindahan bahasa. Ada yang pro dan ada yang kontra terhadap suatu masalah, kedua-duanya selalu merasionalisasikan pendapatnya melalui bahasa-bahasa yang indah. Lewat bahasa, akan terasa asin atau hambar suatu pembelaan atau tuduhan. Dan itu, tersalurkan lewat sampaian suatu kata-kata.

Sebuah ajakan, sebuah perlawanan, sebuah kritik, sebuah pembelaan, akan masuk akal ketika bahasa yang dipergunakan mengena. Bahasa yang awut-awutan, kerap tak mengundang perhatian, walau itu untuk mengajak orang kepada hal-hal yang baik. Tapi sebuah bahasa yang masuk akal, kerap bisa mengelabui orang-orang yang mendengar atau membacanya, walau sampaian itu bukan hal-hal yang baik.

Akhir-akhir ini, malah, bahasa sudah bisa dipermainkan. Orang yang berbuat sedikit, tapi dengan bahasa yang bagus, akan terbaca seolah-olah berbuat sesuatu yang besar, wah. Keindahan bahasa yang membuat seseorang akan dianggap sebagai pahlawan, atau sebaliknya.

Bahasa, bisa menjadi senjata. Karena keindahan bahasa, banyak koruptor yang menjadi ringan hukuman. Kepiawaian dalam menggunakan bahasa, seorang pembunuh tak lama berada di balik jeruji besi, dan sebagainya.

Di semua tempat, bahasa menjadi sangat dominan berperan. Dalam tugas rehabilitasi dan rekonstruksi sekalipun, para ahli pemakaian bahasa akan dibayar mahal. Orang-orang yang bisa merumuskan bahasa bagus dari pelaksana program, biasanya akan mendapatkan bayaran mahal.

Ini bisa dibuktikan. Setiap akhir tahun, kita bisa mengumpulkan banyak buku sebagai ruang untuk menyampaikan banyak keberhasilan. Dalam buku yang tidak jarang akan dicetak mewah, jarang disebutkan ada kegagalan. Kalau pun terpaksa harus disebutkan ketidakberhasilan, maka akan dirumuskan dalam bahasa yang bisa menjadi cermin dari adanya kekurangan manusia.

Dengan bahasalah seseorang diberi gambaran tidak bersalah atau tidak sengaja. Dengan bahasa memungkinkan semua yang tidak masuk akan menjadi masuk akal. Makanya yang bisa melakukan itu akan dibayar mahal.

Orang-orang yang berposisi di sini, juga dibantu dengan orang yang memiliki hubungan baik dengan banyak orang. Jadi keindahan bahasa, pada akhirnya juga tersalur lewat orang-orang yang dipercayai bisa menyampaikannya dengan fasih. (ST)