DA
bayang-bayang baru di sebuah gampong.
Bayang-bayang itu bernama banjir. Air yang mengalir di
sungai, bisa seperti air laut yang memantik gelombang
raya, berbias untuk melahirkan berbagai tafsir. Yang
lebih dominan adalah ujung, bukan pangkal. Sama seperti
pepohonan yang dibawa oleh air yang deras, berupa
potongan sisa.
Gampong
saya, beberapa waktu yang lalu juga menimpa banjir. Ada
kebiasaan bagi anak muda tanggung di sana, ketika banjir
datang sore hari, mereka akan memakai pakaian kotor dan
menunggu di pinggir sungai sambil menunggu ada sisa
pepohonan yang lewat.
Begitu
terlihat, ada beberapa yang langsung bersiap. Siapa yang
memegang lebih dulu, ia yang dianggap berkuasa. Sedang
di pinggir, orang bersorak-sorai begitu ada yang menang
dan ada yang kalah. Ini menjadi kebiasaan saat banjir
datang sejak sore hari. Gulungan air coklat susu tidak
dianggap menakutkan.
Namun apa
yang terjadi dengan banjir yang terakhir? Datangnya
pukul 23.00 malam. Jelas, tak memungkinkan anak muda
tanggung untuk menunggu sisa pepohonan di pinggir sungai.
Kejadian yang terakhir, membuat mereka harus
menyelamatkan apa saja isi rumah karena air masuk ke
gampong sampai mencapai ketinggian 1,5 meter.
Tua-muda,
remaja-bayi, akhirnya memilih mengungsi di pinggir bukit.
Kali ini, mereka sudah mulai sering bertanya, kenapa
banjir? Ketika banjir menjadi kebiasaan dan kualitas
biasa-biasa saja, sudah terlanjur dianggap bukan sebagai
keanehan. Apalagi anak-anak memang sesekali suka
bermandi ria di depan rumah.
Padahal,
banjir, mau besar atau kecil, sebenarnya adalah masalah.
Banjir teuka karena alam sedang tak normal. Tapi
orang yang mengingatkan bahwa manusia sering membuat
ketidaknormalan alam, sering dianggap sebagai angin
lalu.
Lihatlah
yang terakhir, di mana-mana, ada banjir. Rumah-rumah di
gampong, yang umumnya terletak tak jauh dari
sungai, sudah pasti turut dikunjungi genangan air dan
sisanya adalah, tentunya lumpur. Tempat tinggal di Banda
Aceh, juga seperti itu. Pada saat yang sama, dengan
beberapa banjir.
Di
televisi, di radio, di suratkabar, berita banjir
terdengar di mana-mana. Di Jakarta lumpuh, karena
banjir. Di Bogor, Bandung, Tanggerang, semua banjir.
Apalagi di sebagian wilayah Jakarta yang tiap tahun
dikunjungi banjir.
Ketika
sesuatu sudah sangat akrab dengan kehidupan kita,
seperti banjir, misalnya, maka itu sudah tidak dianggap
lagi sebagai sebuah keanehan. Sesuatu yang sudah sering,
sudah lazim, tidak lagi terlihat aneh. Sama sekali
tidak.
Anda yang
tinggal di kawasan yang langganan banjir, tidak pernah
merasa ganjil lagi dengan banjir. Seperti beberapa
kawasan di Jakarta, ketika musim hujan tiba, maka mereka
pun bersiap-siap untuk menghadapi yang namanya banjir.
Tak ada
keanehan, menyebabkan kesigapan oleh pihak yang
berwenang, juga akan berlangsung biasa-biasa saja.
Bayangkan bila sebuah kawasan karena terlalu sering
banjir, tapi upaya untuk menghindari banjir tidak
dilakukan secara serius. Yang banyak adalah menyediakan
bantuan ketika banjir tiba. Ada orang yang kehilangan
makanan karena banjir, lalu diberikan bantuan sosial
berupa makanan untuk korban banjir. Sedang banjir terus
ada tiap tahun.
Banjir,
telah menyebabkan rapuhnya konsep matematika. Persoalan
kemanusiaan menjadi ruang untuk program baru. Sangat
ironis bila efektivitas program yang semestinya, menjadi
berkurang.
Kita memang
aneh. Semoga tidak menjadi selalu aneh![ST]