ALAM
masyarakat Aceh, acara peutron aneuk, selalu
diselingi dengan khanduri. Ada yang khas dari
pelaksanaan khanduri itu, bahwa yang diundang
khusus orang-orang yang berusia belia. Mungkin ada
harapan, bahwa masa itu dianggap sebagai titik krusial
kehidupan manusia, akan sukses dilalui oleh bayi yang
diturunkan.
Sejak dari
kelahiran, seseorang sudah diberitahukan sopan santun.
Mulai dari bayi juga sensivitas anak sudah terasa.
Buktinya, mereka akan menangis bila digendong oleh orang
yang tidak dikenal atau tidak disukainya.
Perekaman
masih terlalu jernih pada anak-anak bawah lima tahun (balita).
Apa yang diucapkan oleh orang tua, pada masa itu,
berkemungkinan untuk diucapkan oleh anak-anak itu
sewaktu usianya bertambah. Bahkan perilaku orang tua,
juga akan direkam olehnya.
Inilah yang
menjadi sebab mengapa ilmu antropologi budaya modern,
memberi salah satu titik fokus pada kebiasaan orang tua
mengasuh anaknya. Ini tidak aneh, karena anak-anak akan
merekam.
Orang
tualah yang memberitahukan bahwa kotoran tak boleh
dipegang. Bayangkan bila ternyata anak-anak sudah
membiasakan makan dengan tangan kiri dalam masyarakat
yang memandang baik memakai tangan kanan. Apalagi
memanggil ayah atau ibu dengan: kau. Nah, hal-hal itu
sudah diturunkan sejak kecil.
Perjalanan
masa kecil sangat menentukan perilaku ketika ia sudah
beranjak remaja. Masa itu sangat krusial, khususnya
berkaitan dengan perkembangan seksualitas yang
berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ahli
seksologi sekalipun, memandang usia puber pertama adalah
masa-masa yang berpotensi mengalami gejolak-gejolak yang
luar biasa dalam kehidupan.
Empat atau
lima dekade sebelumnya, orang tua menikahkan anaknya
pada usia-usia yang krusial itu. Ini dapat dimaklumi
karena pendidikan seks belum beradab sekaligus kacau
seperti sekarang. Orang tua tak tahu mengisahkah proses
reproduksi manusia sehingga seorang anak yang tiba-tiba
mendapatkan adiknya, mendapat pengetahuan tentang adanya
helicopter atau pesawat terbang yang mengantar bayinya.
Informasi
ini berjalan secara alamiah dan didapati di banyak
tempat. Hingga pada masa-masa silam, mungkin sampai
remaja sekalipun, belum tahu proses reproduksi yang
sebenarnya.
Kenyataan
ini masih didukung oleh pengetahuan lain yang diturunkan
dari generasi ke generasi. Bahwa di Aceh dalam konteks
agama dan budaya, laki-laki dan perempuan yang bukan
muhrim tidak boleh ‘kelewatan’ bertemu.
Pada masa
lalu, jarang terjadi perilaku mesum di luar nikah.
Jarang terdengar ada orang yang hamil di luar nikah
karena itu sejak dari pikiran sudah terpatron bahwa aib
dalam hubungan agama dan sosial-budaya, sangat besar
harus ditanggung oleh siapapun.
Ketika
informasi tentang reproduksi dan seks demikian terbuka
seperti sekarang, ternyata gejala-gejala perilaku miring
meningkat luar biasa. Apalagi beberapa ideologi global
terus-menerus berkampanye bahwa kenikmatan atas tubuh,
kapan saja bisa dinikmati.
Entah di
mana yang salah. Yang jelas, masa-masa krusial dalam
hidup adalah remaja. Lukisannya adalah perilaku seksual.
Sungguh banyak orang-orang yang baik dan santun
sepanjang hidupnya, setelah melewati masa-masa ini
dengan benar. (ST)