HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 070607|
BELIA
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ALAM masyarakat Aceh, acara peutron aneuk, selalu diselingi dengan khanduri. Ada yang khas dari pelaksanaan khanduri itu, bahwa yang diundang khusus orang-orang yang berusia belia. Mungkin ada harapan, bahwa masa itu dianggap sebagai titik krusial kehidupan manusia, akan sukses dilalui oleh bayi yang diturunkan.

Sejak dari kelahiran, seseorang sudah diberitahukan sopan santun. Mulai dari bayi juga sensivitas anak sudah terasa. Buktinya, mereka akan menangis bila digendong oleh orang yang tidak dikenal atau tidak disukainya.

Perekaman masih terlalu jernih pada anak-anak bawah lima tahun (balita). Apa yang diucapkan oleh orang tua, pada masa itu, berkemungkinan untuk diucapkan oleh anak-anak itu sewaktu usianya bertambah. Bahkan perilaku orang tua, juga akan direkam olehnya.

Inilah yang menjadi sebab mengapa ilmu antropologi budaya modern, memberi salah satu titik fokus pada kebiasaan orang tua mengasuh anaknya. Ini tidak aneh, karena anak-anak akan merekam.

Orang tualah yang memberitahukan bahwa kotoran tak boleh dipegang. Bayangkan bila ternyata anak-anak sudah membiasakan makan dengan tangan kiri dalam masyarakat yang memandang baik memakai tangan kanan. Apalagi memanggil ayah atau ibu dengan: kau. Nah, hal-hal itu sudah diturunkan sejak kecil.

Perjalanan masa kecil sangat menentukan perilaku ketika ia sudah beranjak remaja. Masa itu sangat krusial, khususnya berkaitan dengan perkembangan seksualitas yang berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ahli seksologi sekalipun, memandang usia puber pertama adalah masa-masa yang berpotensi mengalami gejolak-gejolak yang luar biasa dalam kehidupan.

Empat atau lima dekade sebelumnya, orang tua menikahkan anaknya pada usia-usia yang krusial itu. Ini dapat dimaklumi karena pendidikan seks belum beradab sekaligus kacau seperti sekarang. Orang tua tak tahu mengisahkah proses reproduksi manusia sehingga seorang anak yang tiba-tiba mendapatkan adiknya, mendapat pengetahuan tentang adanya helicopter atau pesawat terbang yang mengantar bayinya.

Informasi ini berjalan secara alamiah dan didapati di banyak tempat. Hingga pada masa-masa silam, mungkin sampai remaja sekalipun, belum tahu proses reproduksi yang sebenarnya.

Kenyataan ini masih didukung oleh pengetahuan lain yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bahwa di Aceh dalam konteks agama dan budaya, laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh ‘kelewatan’ bertemu.

Pada masa lalu, jarang terjadi perilaku mesum di luar nikah. Jarang terdengar ada orang yang hamil di luar nikah karena itu sejak dari pikiran sudah terpatron bahwa aib dalam hubungan agama dan sosial-budaya, sangat besar harus ditanggung oleh siapapun.

Ketika informasi tentang reproduksi dan seks demikian terbuka seperti sekarang, ternyata gejala-gejala perilaku miring meningkat luar biasa. Apalagi beberapa ideologi global terus-menerus berkampanye bahwa kenikmatan atas tubuh, kapan saja bisa dinikmati.

Entah di mana yang salah. Yang jelas, masa-masa krusial dalam hidup adalah remaja. Lukisannya adalah perilaku seksual. Sungguh banyak orang-orang yang baik dan santun sepanjang hidupnya, setelah melewati masa-masa ini dengan benar. (ST)