ADA
tiga hal berbeda di gampong kita: blang,
sebagai tempat untuk menanami sumber makan. Blang Padang,
tempat bertapak replika pesawat terbang kebanggaan, yang
bernama Seulawah. Sementara Blang Padang Mahsyar
adalah tempat manusia dihisab, yang diimpikan oleh
banyak orang yang mukmin untuk tak mengalami kesulitan
sesampai di sana.
Berbicara
tentang blang, adalah berbicara tentang tanah.
Mungkin termasuk dalam konteks hak. Di mana-mana, akses
terhadap tanah semakin sulit. Tanah sudah menampakkan
permasalahan di banyak tempat. Banyak kasus perebutan
tanah yang diiringi dengan kekerasan, ada yang
berlangsung dengan penuh kedamaian.
Tanah tidak
bisa berkembang sebagaimana orang-orang yang terus-menerus
bereproduksi untuk melahirkan anak manusia ke muka bumi.
Kalkulasi pertumbuhan manusia juga terus dilakukan
sepanjang waktu, tentu ini tidak sebanding dengan
angka-angka kematian. Bahkan negara-negara yang angka
kematian manusianya tinggi dianggap sebagai
negara-negara yang gagal dalam pembangunannya.
Perkembangan dan pertumbuhan penduduk, tentu tidak
sebanding dengan persediaan tanah, karena tanah tidak
pernah bertambah. Tanah hanya berkembang lewat
pengalihgunaan. Bila di sepanjang jalan kita melihat
banyak tanah blang yang digunakan untuk bangunan,
maka itu dapat menjadi contoh betapa yang sering terjadi
hanya pengalihguna, bukan mencipta.
Bayangkan
bila semua orang yang memiliki tanah blang lalu
membuat bangunan-bangunan di atasnya. Bagaimana sepuluh
atau seabad yang akan datang? Wallahu ‘alam.
Dalam
konteks ini, tanah berkaitan dengan ruang mencari rezeki.
Jangan heran, di kota-kota, tempat mencari rezeki sudah
sempit, lalu orang-orang yang kreatif mencari ruang
baru, yang sebagiannya, merampas ruang bagi orang lain.
Mencari
rezeki di atas trotoar jalan raya, adalah bentuk
perampasan ruang bagi pejalan kaki. Tetapi siapa yang
peduli. Alasan klasiknya, orang-orang berjualan itu
dikategorikan sebagai orang-orang yang susah. Tapi di
tepi jalan raya, ada sebagian orang yang diklaim susah
itu juga berjualan atas mobilnya.
Inilah juga
yang terjadi di lapangan Blang Padang, di mana itu
menjadi kawasan baru untuk berdagang; mencari rezeki.
Karena alasan mencari rezeki, maka kawasan itu menjadi
pilihan banyak orang.
Orang-orang
yang mengunjungi juga tidak begitu peduli dengan waktu.
Saat magrib pun, kalau melintasi jalan-jalan seputar
Blang Padang, orang-orang tetap kelihatan berkerumun.
Padahal tidak ada tempat shalat di sana dan waktu shalat
magrib sangat singkat.
Hal yang
sama terlihat sepanjang trotoar jalan raya yang sudah
digunakan sebagai tempat duduk-duduk sore.
Berpasang-pasang manusia menghabiskan waktu di berbagai
tempat, dengan berbagai alasan.
Bila ini
yang terjadi, sungguh tidak masuk akal mengharap akan
ada kemudahan di Blang Padang Mahsyar kelak. Yakinilah!
(ST)