HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 160607|
BLANG
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ADA tiga hal berbeda di gampong kita: blang, sebagai tempat untuk menanami sumber makan. Blang Padang, tempat bertapak replika pesawat terbang kebanggaan, yang bernama Seulawah. Sementara Blang Padang Mahsyar adalah tempat manusia dihisab, yang diimpikan oleh banyak orang yang mukmin untuk tak mengalami kesulitan sesampai di sana.

Berbicara tentang blang, adalah berbicara tentang tanah. Mungkin termasuk dalam konteks hak. Di mana-mana, akses terhadap tanah semakin sulit. Tanah sudah menampakkan permasalahan di banyak tempat. Banyak kasus perebutan tanah yang diiringi dengan kekerasan, ada yang berlangsung dengan penuh kedamaian.

Tanah tidak bisa berkembang sebagaimana orang-orang yang terus-menerus bereproduksi untuk melahirkan anak manusia ke muka bumi. Kalkulasi pertumbuhan manusia juga terus dilakukan sepanjang waktu, tentu ini tidak sebanding dengan angka-angka kematian. Bahkan negara-negara yang angka kematian manusianya tinggi dianggap sebagai negara-negara yang gagal dalam pembangunannya.

Perkembangan dan pertumbuhan penduduk, tentu tidak sebanding dengan persediaan tanah, karena tanah tidak pernah bertambah. Tanah hanya berkembang lewat pengalihgunaan. Bila di sepanjang jalan kita melihat banyak tanah blang yang digunakan untuk bangunan, maka itu dapat menjadi contoh betapa yang sering terjadi hanya pengalihguna, bukan mencipta.

Bayangkan bila semua orang yang memiliki tanah blang lalu membuat bangunan-bangunan di atasnya. Bagaimana sepuluh atau seabad yang akan datang? Wallahu ‘alam.

Dalam konteks ini, tanah berkaitan dengan ruang mencari rezeki. Jangan heran, di kota-kota, tempat mencari rezeki sudah sempit, lalu orang-orang yang kreatif mencari ruang baru, yang sebagiannya, merampas ruang bagi orang lain.

Mencari rezeki di atas trotoar jalan raya, adalah bentuk perampasan ruang bagi pejalan kaki. Tetapi siapa yang peduli. Alasan klasiknya, orang-orang berjualan itu dikategorikan sebagai orang-orang yang susah. Tapi di tepi jalan raya, ada sebagian orang yang diklaim susah itu juga berjualan atas mobilnya.

Inilah juga yang terjadi di lapangan Blang Padang, di mana itu menjadi kawasan baru untuk berdagang; mencari rezeki. Karena alasan mencari rezeki, maka kawasan itu menjadi pilihan banyak orang.

Orang-orang yang mengunjungi juga tidak begitu peduli dengan waktu. Saat magrib pun, kalau melintasi jalan-jalan seputar Blang Padang, orang-orang tetap kelihatan berkerumun. Padahal tidak ada tempat shalat di sana dan waktu shalat magrib sangat singkat.

Hal yang sama terlihat sepanjang trotoar jalan raya yang sudah digunakan sebagai tempat duduk-duduk sore. Berpasang-pasang manusia menghabiskan waktu di berbagai tempat, dengan berbagai alasan.

Bila ini yang terjadi, sungguh tidak masuk akal mengharap akan ada kemudahan di Blang Padang Mahsyar kelak. Yakinilah! (ST)