HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 170507|
BUBEE
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

UBEE, tentu berbeda dengan bubee dua jab. Kalau bubee adalah alat. Sementara kalau bubee dua jab adalah sikap. Ada yang berkaitan, khususnya seputar pengorganisasian.

Bubee yang dipasang di tempat-tempat yang telah dikondisikan ruangnya. Di tempat-tempat ikan bermain, hanya disediakan satu pintu saja, dan di sanalah bubee dipasang.

Sedangkan bubee dua jab, harus dipasang di dua tempat, paling tidak. Bisa jadi lebih. Ruangnya berbeda. Bubee memandang air sebagai ruang, kalau bubee dua jab, memandang kondisi sebagai ruang.

Terkait dengan peruntungan, juga berbeda antara keduanya. Sebuah tempat yang dipasang bubee, belum tentu berhasil mendapatkan ikan. Orang yang memasang bubee menganggap ikan sebagai rezeki, ia akan mendapat haknya sebagai rezeki itu ada.

Ini berbeda dengan bubee dua jab yang selalu melahirkan dua peruntungan –sama-sama negatif. Bila berhasil memasang di banyak tempat, akan banyak diperoleh keuntungan yang tidak semestinya. Sementara bila gagal, maka seluruhnya akan hancur.

Namun demikian, dalam perjalanan waktu, ternyata banyak orang yang menyukai bubee dua jab ketimbang bubee. Padahal konsekuensinya sudah diukur sebelumnya.

Inilah yang menjadi sebab orang-orang yang membuat bubee sedang mengalami lesu pasar, karena banyak hasil pekerjaannya yang tidak menarik lagi oleh banyak orang.

Di samping itu, ada juga yang berfikir bek hana meuoh dengan pembuat bubee, lalu dibeli beberapa, tapi bukan untuk dipasang di air. Bubee-bubee itu dipasang di depan rumah sebagai hiasan.

Fenomena ini sering terlihat di kota-kota. Namun akhir-akhir ini, menjadikan bubee sebagai hiasan juga sudah mulai berlangsung di gampong-gampong. Padahal sebuah bubee mencerminkan roda ekonomi, lewat proses ikhtiar.

Begitu juga dengan bubee dua jab yang dulu hanya dijumpai di kota-kota, masa sekarang juga sudah mulai ditemukan di gampong-gampong.

Kenyataan ini sangat aneh. Cuma anehnya, banyak kawasan yang sudah tidak dianggap aneh. Lahirlah sebuah bidang ilmu yang mengajarkan bagaimana dengan bubee dua jab juga bisa melahirkan seni yang luar biasa indahnya.

Padahal semua tahu bahwa bubee dua jab sungguh tak layak dikategorikan sebagai seni. Sebagaimana ungkapan, “dengan ilmu membuat hidup lebih mudah, dengan agama membuat hidup lebih terarah, dan dengan seni membuat hidup lebih indah,” maka sungguh, bubee dua jab tidak memberi harapan adanya keindahan hidup.

Dengan bubee dua jab, orang akan lebih banyak mendapat problematika hidup ketimbang kesenangannya. Namun ini seperti menjadi catatan yang tidak penting.[ST]