UBEE,
tentu berbeda dengan bubee dua jab. Kalau
bubee adalah alat. Sementara kalau bubee dua jab
adalah sikap. Ada yang berkaitan, khususnya seputar
pengorganisasian.
Bubee
yang dipasang di tempat-tempat yang telah dikondisikan
ruangnya. Di tempat-tempat ikan bermain, hanya
disediakan satu pintu saja, dan di sanalah bubee
dipasang.
Sedangkan
bubee dua jab, harus dipasang di dua tempat,
paling tidak. Bisa jadi lebih. Ruangnya berbeda.
Bubee memandang air sebagai ruang, kalau bubee
dua jab, memandang kondisi sebagai ruang.
Terkait
dengan peruntungan, juga berbeda antara keduanya. Sebuah
tempat yang dipasang bubee, belum tentu berhasil
mendapatkan ikan. Orang yang memasang bubee
menganggap ikan sebagai rezeki, ia akan mendapat haknya
sebagai rezeki itu ada.
Ini berbeda
dengan bubee dua jab yang selalu melahirkan dua
peruntungan –sama-sama negatif. Bila berhasil memasang
di banyak tempat, akan banyak diperoleh keuntungan yang
tidak semestinya. Sementara bila gagal, maka seluruhnya
akan hancur.
Namun
demikian, dalam perjalanan waktu, ternyata banyak orang
yang menyukai bubee dua jab ketimbang bubee.
Padahal konsekuensinya sudah diukur sebelumnya.
Inilah yang
menjadi sebab orang-orang yang membuat bubee
sedang mengalami lesu pasar, karena banyak hasil
pekerjaannya yang tidak menarik lagi oleh banyak orang.
Di samping
itu, ada juga yang berfikir bek hana meuoh dengan
pembuat bubee, lalu dibeli beberapa, tapi bukan
untuk dipasang di air. Bubee-bubee itu dipasang
di depan rumah sebagai hiasan.
Fenomena
ini sering terlihat di kota-kota. Namun akhir-akhir ini,
menjadikan bubee sebagai hiasan juga sudah mulai
berlangsung di gampong-gampong. Padahal sebuah
bubee mencerminkan roda ekonomi, lewat proses
ikhtiar.
Begitu juga
dengan bubee dua jab yang dulu hanya dijumpai di
kota-kota, masa sekarang juga sudah mulai ditemukan di
gampong-gampong.
Kenyataan
ini sangat aneh. Cuma anehnya, banyak kawasan yang sudah
tidak dianggap aneh. Lahirlah sebuah bidang ilmu yang
mengajarkan bagaimana dengan bubee dua jab juga
bisa melahirkan seni yang luar biasa indahnya.
Padahal
semua tahu bahwa bubee dua jab sungguh tak layak
dikategorikan sebagai seni. Sebagaimana ungkapan,
“dengan ilmu membuat hidup lebih mudah, dengan agama
membuat hidup lebih terarah, dan dengan seni membuat
hidup lebih indah,” maka sungguh, bubee dua jab
tidak memberi harapan adanya keindahan hidup.
Dengan
bubee dua jab, orang akan lebih banyak mendapat
problematika hidup ketimbang kesenangannya. Namun ini
seperti menjadi catatan yang tidak penting.[ST]