ALAH
satu penanda seseorang itu bule atau bukan,
adalah di rambutnya yang pirang. Sebutan bule,
kalau di gampong saya, hanya khusus untuk
orang-orang luar negeri yang berkulit putih. Selain yang
berkulit putih, walau itu orang luar negeri, kalau di
gampong saya, tidak akan disebut bule.
Konon lagi
kalau warna kulitnya hitam. Itu malah disebut negro.
Yang jelas, ada perbedaan ketika menyebut bule
dengan negro. Ada kebanggaan ketika menyebut
bule yang tidak sama bangganya ketika menyebut
dengan negro.
Maka di
sini, orang-orang yang disebut bule akan senang
hati menerimanya, tapi giliran menyebut negro,
dianggap sedang mencaci maki.
Membedakan
bule dan negro, adalah perilaku yang
diskriminatif. Tapi, terus terang, saya tak begitu paham
dengan makna kedua kata itu: bule dan negro.
Saya hanya menangkap perbedaan reaksi dari orang dalam
masyarakat gampong ketika menggunakan dua kata
itu.
Okelah,
kita tidak saja mengatakan bahwa bule itu
berambut pirang. Maka kita tutup buku terhadap negro.
Kita akan bicarakan tentang rambut pirang saja.
Adalah
suatu keanehan bila orang-orang yang tidak berambut
pirang, lalu akan mewarnai rambutnya. Orang-orang
seperti itu adalah orang yang miring. Warna rambut
adalah ciptaan Tuhan, yang sama seperti warna kulit,
atau warna bibir.
Sebagai
ciptaan Tuhan, maka tidak seharusnya diutak-atik. Orang
yang berusaha mengutak-atik, merupakan corak orang yang
tidak mau menerima kenyataan. Kalau di gampong,
orang seperti ini dikatakan sebagai; som gasien
pulumah kaya.
Orang-orang
yang sudah tua sekalipun, lalu menyembunyikan rambutnya
yang sudah beruban, juga sebagai orang yang miring. Uban
adalah penanda sebuah fase dari umur manusia, maka dapat
dibayangkan ketika orang melawan penanda-penanda itu.
Kembali ke
soal rambut pirang. Akhir-akhir ini, walau pun akan
dianggap sebagai orang-orang yang miring, tapi nyatanya
orang-orang yang mencat rambutnya agar terlihat pirang,
itu jumlahnya bertambah banyak. Baik laki-laki, maupun
perempuan. Biasanya, kalau perempuan, yang memakai
penutup kepala, akan memperlihatkan sedikit bagian
rambutnya, agar terlihat warna yang pirang itu.
Itulah
orang-orang yang berkeinginan menjadi bule.
Selebihnya, seputar kebanggaan tadi. Bahwa setelah
tsunami terjadi di Aceh, banyak orang yang datang ke
tanah ini. Banyak orang yang datang; ada yang berambut
pirang, berkulit putih, ada juga berkulit hitam.
Mereka
datang dengan berbagai maksud, berbagai tujuan. Datang
karena menjadi pekerja atau konsultan di berbagai NGO
atau lembaga lainya, baik negeri atau swasta.
Ada pula
yang datang secara khusus untuk mewakili negaranya
sebagai tenaga yang akan membantu pembangunan Aceh. Ada
juga yang melancong untuk melihat ekses tsunami yang
terbesar sepanjang sejarah.
Yang
menjadi perhatian, adalah mereka yang datang sebagai
pekerja. Mereka selalu ke lapangan, mewawancarai
orang-orang, kadang-kadang disertai membawa sesuatu,
buah tangan.
Mereka
selalu datang dengan ditemani para pekerja lokal. Kalau
ada kunjungan NGO, sebagian orang gampong sangat
menginginkan bule yang datang. Mereka akan sangat
merasa bergairah, walau timbul persoalaan di komunikasi.
Akhir-akhir
ini, orang gampong sudah berubah. Sebagian orang
lokal yang kerja dengan orang bule, juga akan
disebut bule. Tapi diberi catatan kaki. Kalau
bule lokal, sama sekali tak berambut pirang.
Entah
karena ada beberapa persoalan yang tak tuntas di
kalangan mereka, orang gampong mulai memprotes.
Tapi sebagian protes itu, oleh bule lokal, kerap
diputarbalikkan sebagai sanjungan.
Mudah-mudahan in tidak terjadi di sekitar kita.[ST]