SEORANG
buruh adalah pekerja. Buruh adalah orang yang dibayar.
Siapa saja yang bekerja pada seseorang atau perusahaan,
namanya buruh. Ini tidak bisa dibolak-balik. Pemahaman
seperti tak dapat diutak-atik.
Artinya
adalah, seorang yang menanggung biaya buruh, adalah
toke. Pemilik perusahaan adalah bos. Dalam masalah
tanggungan terhadap pekerja, bos bertanggung jawab atas
kesejahteraan anak buahnya, karena dapat dianggap bos
adalah pimpinan, paling tidak di tempat bekerja itu.
Ada sebuah
ungkapan: Aceh teungku, Melayu abang, Cina
toke, Kafe tuan. Ini ungkapan lama, untuk
mengambarkan bagaimana kehidupan juga berkaitan dengan
kerja. Sebuah wilayah yang jelas terlihat keragaman
kelompok masyarakatnya.
Coba lihat
lagi. Perusahaan atau seseorang yang memberikan kerja
kepada buruh, tidak bisa menempati posisi sebagai buruh.
Demikian juga sebaliknya, buruh menjadi seseorang atau
perusahaan yang membayarnya sebagai pekerja itu tidak
bisa berposisi sebagai toke.
Seseorang
atau perusahaan yang memperkerjakan orang lain yang
bernama buruh, sebenarnya menjalin hubungan kebutuhan.
Butuh-membutuh. Artinya apa, sebuah perusahaan
membutuhkan perusahaan agar tetap berproduksi. Sedangkan
pekerja membutuhkan kerja agar mendapat bayaran sebagai
biaya hidup.
Di sebalik
itu, ada yang saling memanfaatkan, ada juga yang
berlangsung alamiah. Proses pemanfaatan terjadi ketika
hubungan ini tidak berlangsung rasional. Tepatnya,
karena sebagai tenaga produksi, tidak rasional ketika
disamakan dengan mesin yang tugasnya hanya bekerja.
Tapi kerap
kali terjadi, perusahaan atau siapa saja yang memilik
modal, ada yang memandang seolah buruh bukan kebutuhan
mereka. Mungkin ini dipengaruhi karena banyak sekali
orang yang menjadi pekerja, walau bukan sebagai
kebutuhan.
Dunia akan
hancur ketika yang dipikirkan hanya pemasukan, sedang
kemanusiaan para pekerja terabai. Eksploitasi yang tak
masuk akal menyebabkan kerangka pikir saling membutuhkan,
menjadi tidak berjalan.
Padahal
kerangka pikir seperti ini sangat dibutuhkan. Bila buruh
dianggap sebagai manusia, maka selalu ada pertimbangan
bahwa ketika buruh bermasalah, maka dirinya juga akan
bermasalah. Karena posisi bos, pimpinan, tidak mungkin
mengantikan posisi buruh atau pekerja bila mereka telah
tiada. Jelas tidak bisa. Pimpinan bisa saja menyopiri
sendiri kendaraannya, namun tidak bisa melakukan banyak
pekerjaan lain yang dikerjakan oleh pekerja.
Dimana-mana, logikanya seperti itu. Di kawasan Kapitalis
sekalipun, hal ini berlangsung. Ada pesan manusia tidak
bisa hidup sendiri. Seorang butuh orang lain karena tak
semua keahlian ada pada satu orang.
Hanya orang
yang congkak yang berpikir sebaliknya. Orang-orang
seperti itu malah bisa dibilang sakit. Tak memiliki
nalar. Kalap mata dan hati. Dalam kehidupan, keberadaan
orang-orang ini akan menganggu lingkaran kebutuhan.
Dengan begitu, menjadi orang-orang yang tidak rasional.
Orang
cerdas adalah orang yang mengerti proses ketergantungan
ini. Orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang
memahami posisi ini. Tak banyak masalah ketika ini
dipahami sebagaimana mestinya.
Yang namanya buruh atau pekerja, adalah manusia.
Berbahaya bila buruh atau pekerjaan tak dipandang
sebagai manusia.[ST]