HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 280407|
BURUH
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SEORANG buruh adalah pekerja. Buruh adalah orang yang dibayar. Siapa saja yang bekerja pada seseorang atau perusahaan, namanya buruh. Ini tidak bisa dibolak-balik. Pemahaman seperti tak dapat diutak-atik.

Artinya adalah, seorang yang menanggung biaya buruh, adalah toke. Pemilik perusahaan adalah bos. Dalam masalah tanggungan terhadap pekerja, bos bertanggung jawab atas kesejahteraan anak buahnya, karena dapat dianggap bos adalah pimpinan, paling tidak di tempat bekerja itu.

Ada sebuah ungkapan: Aceh teungku, Melayu abang, Cina toke, Kafe tuan. Ini ungkapan lama, untuk mengambarkan bagaimana kehidupan juga berkaitan dengan kerja. Sebuah wilayah yang jelas terlihat keragaman kelompok masyarakatnya.

Coba lihat lagi. Perusahaan atau seseorang yang memberikan kerja kepada buruh, tidak bisa menempati posisi sebagai buruh. Demikian juga sebaliknya, buruh menjadi seseorang atau perusahaan yang membayarnya sebagai pekerja itu tidak bisa berposisi sebagai toke.

Seseorang atau perusahaan yang memperkerjakan orang lain yang bernama buruh, sebenarnya menjalin hubungan kebutuhan. Butuh-membutuh. Artinya apa, sebuah perusahaan membutuhkan perusahaan agar tetap berproduksi. Sedangkan pekerja membutuhkan kerja agar mendapat bayaran sebagai biaya hidup.

Di sebalik itu, ada yang saling memanfaatkan, ada juga yang berlangsung alamiah. Proses pemanfaatan terjadi ketika hubungan ini tidak berlangsung rasional. Tepatnya, karena sebagai tenaga produksi, tidak rasional ketika disamakan dengan mesin yang tugasnya hanya bekerja.

Tapi kerap kali terjadi, perusahaan atau siapa saja yang memilik modal, ada yang memandang seolah buruh bukan kebutuhan mereka. Mungkin ini dipengaruhi karena banyak sekali orang yang menjadi pekerja, walau bukan sebagai kebutuhan.

Dunia akan hancur ketika yang dipikirkan hanya pemasukan, sedang kemanusiaan para pekerja terabai. Eksploitasi yang tak masuk akal menyebabkan kerangka pikir saling membutuhkan, menjadi tidak berjalan.

Padahal kerangka pikir seperti ini sangat dibutuhkan. Bila buruh dianggap sebagai manusia, maka selalu ada pertimbangan bahwa ketika buruh bermasalah, maka dirinya juga akan bermasalah. Karena posisi bos, pimpinan, tidak mungkin mengantikan posisi buruh atau pekerja bila mereka telah tiada. Jelas tidak bisa. Pimpinan bisa saja menyopiri sendiri kendaraannya, namun tidak bisa melakukan banyak pekerjaan lain yang dikerjakan oleh pekerja.

Dimana-mana, logikanya seperti itu. Di kawasan Kapitalis sekalipun, hal ini berlangsung. Ada pesan manusia tidak bisa hidup sendiri. Seorang butuh orang lain karena tak semua keahlian ada pada satu orang.

Hanya orang yang congkak yang berpikir sebaliknya. Orang-orang seperti itu malah bisa dibilang sakit. Tak memiliki nalar. Kalap mata dan hati. Dalam kehidupan, keberadaan orang-orang ini akan menganggu lingkaran kebutuhan. Dengan begitu, menjadi orang-orang yang tidak rasional.

Orang cerdas adalah orang yang mengerti proses ketergantungan ini. Orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang memahami posisi ini. Tak banyak masalah ketika ini dipahami sebagaimana mestinya.

Yang namanya buruh atau pekerja, adalah manusia. Berbahaya bila buruh atau pekerjaan tak dipandang sebagai manusia.[ST]