HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 280507|
DAKWAH
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

I hampir semua penjuru gampong, sudah dilaksanakan banyak dakwah. Dakwah yang dimaksudkan ini, sebentuk acara ceramah dalam perayaan berbagai hari-hari besar keagamaan. Namun pada saat yang sama, hiburan malam juga banyak dihadirkan di berbagai tempat.

Ada perbedaan yang mencolok, bahwa kalau yang namanya hiburan malam, walau menurut izin diberikan harus ada pemisahan tempat laki-laki dan perempuan, tetapi dalam kenyataan, jarang ada pemisahan tempat. Namanya saja hiburan. Nah, bila acara dakwah, terbagi dalam dua kelompok; ada tempat yang memisahkan, namun ada pelaksanaan dakwah yang tidak memerintahkan adanya pemisahan tempat antara laki-laki dan perempuan.

Dakwah, hakikatnya adalah menceramahi orang-orang. Dalam sebuah dakwah, umumnya diikuti oleh orang-orang yang ingin belajar ilmu agama. Tetapi bukan berarti orang-orang yang tidak ingin belajar agama, lantas tidak mau datang ke acara dakwah. Kenyataannya, ada orang yang datang itu untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dakwah –sekali lagi, makna di gampong disebut seperti itu, walau intinya adalah penyampaian ajaran atau pengetahuan agama—berbeda dengan khutbah. Kalau dakwah, orang-orang akan langsung pulang bila masing-masing menurut ukuran mereka, dirasakan tidak atau kurang menarik. Hal ini tentu tidak boleh dilakukan saat mengikuti khutbah –khususnya khutbah Jumat, karena khutbah merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan shalat Jumat itu sendiri.

Menariknya, ukuran menarik itu, bagi orang-orang tertentu sangat subjektif. Di banyak tempat, penceramah yang disukai adalah yang bisa melihat keadaan kesukaan dominan. Untuk membuat pendengar bertahan, belum tentu sesuai dengan inti dakwah yang diharapkan.

Nah, ini keanehan pertama yang menggejala. Ketika dakwah mau dilaksanakan, disusunlah nama-nama penceramah –yang di lingkungan saya-- sengaja dipilih yang lucu. Ini aneh. Sangat aneh. Sebab nyaris tidak ada hubungan langsung antara lucu dengan ceramah.

Ternyata, setelah memantau beberapa tempat, suasana seperti dalam lingkungan saya juga seperti itu. Makanya saya katakana menggejala. Dan ini, menurut saya, sangat aneh.

Kemudian ada keanehan kedua, di mana dalam beberapa waktu saya datang ke tempat dakwah, sudah sudah mulai menggejala bagai hiburan malam. Para remaja mengambil momentum acara dakwah itu untuk membawa pasangannya.

Beberapa kali saya melihat di beberapa tempat saya kembali ke Banda Aceh, tempat-tempat acara dakwah di pinggir jalan raya, maka berjejer pasangan-pasangan anak manusia di atas kendaraan roda dua. Entah mereka mendengar ceramah!

Gejala-gejala ini, sebenarnya bisa dijadikan alat ukur atau indikator keberhasilan dalam konteks ceramah-menceramahi. Barangkali, karena saya hanya melihat beberapa tempat saja. Mungkin di luar itu, banyak tempat lain, yang mungkin tidak seperti itu. Namun sebagai catatan, fenomena seperti itu juga menarik untuk dicermati sebagai fenomena untuk mengukur, paling tidak, ketercapaian masa depan. Dakwah –ceramah—salah satunya.(ST)