I
hampir semua penjuru gampong, sudah dilaksanakan
banyak dakwah. Dakwah yang dimaksudkan ini, sebentuk
acara ceramah dalam perayaan berbagai hari-hari besar
keagamaan. Namun pada saat yang sama, hiburan malam juga
banyak dihadirkan di berbagai tempat.
Ada
perbedaan yang mencolok, bahwa kalau yang namanya
hiburan malam, walau menurut izin diberikan harus ada
pemisahan tempat laki-laki dan perempuan, tetapi dalam
kenyataan, jarang ada pemisahan tempat. Namanya saja
hiburan. Nah, bila acara dakwah, terbagi dalam dua
kelompok; ada tempat yang memisahkan, namun ada
pelaksanaan dakwah yang tidak memerintahkan adanya
pemisahan tempat antara laki-laki dan perempuan.
Dakwah,
hakikatnya adalah menceramahi orang-orang. Dalam sebuah
dakwah, umumnya diikuti oleh orang-orang yang ingin
belajar ilmu agama. Tetapi bukan berarti orang-orang
yang tidak ingin belajar agama, lantas tidak mau datang
ke acara dakwah. Kenyataannya, ada orang yang datang itu
untuk tujuan-tujuan tertentu.
Dakwah
–sekali lagi, makna di gampong disebut seperti
itu, walau intinya adalah penyampaian ajaran atau
pengetahuan agama—berbeda dengan khutbah. Kalau dakwah,
orang-orang akan langsung pulang bila masing-masing
menurut ukuran mereka, dirasakan tidak atau kurang
menarik. Hal ini tentu tidak boleh dilakukan saat
mengikuti khutbah –khususnya khutbah Jumat, karena
khutbah merupakan bagian tak terpisahkan dari
pelaksanaan shalat Jumat itu sendiri.
Menariknya,
ukuran menarik itu, bagi orang-orang tertentu sangat
subjektif. Di banyak tempat, penceramah yang disukai
adalah yang bisa melihat keadaan kesukaan dominan. Untuk
membuat pendengar bertahan, belum tentu sesuai dengan
inti dakwah yang diharapkan.
Nah, ini
keanehan pertama yang menggejala. Ketika dakwah mau
dilaksanakan, disusunlah nama-nama penceramah –yang di
lingkungan saya-- sengaja dipilih yang lucu. Ini aneh.
Sangat aneh. Sebab nyaris tidak ada hubungan langsung
antara lucu dengan ceramah.
Ternyata,
setelah memantau beberapa tempat, suasana seperti dalam
lingkungan saya juga seperti itu. Makanya saya katakana
menggejala. Dan ini, menurut saya, sangat aneh.
Kemudian
ada keanehan kedua, di mana dalam beberapa waktu saya
datang ke tempat dakwah, sudah sudah mulai menggejala
bagai hiburan malam. Para remaja mengambil momentum
acara dakwah itu untuk membawa pasangannya.
Beberapa
kali saya melihat di beberapa tempat saya kembali ke
Banda Aceh, tempat-tempat acara dakwah di pinggir jalan
raya, maka berjejer pasangan-pasangan anak manusia di
atas kendaraan roda dua. Entah mereka mendengar ceramah!
Gejala-gejala ini, sebenarnya bisa dijadikan alat ukur
atau indikator keberhasilan dalam konteks
ceramah-menceramahi. Barangkali, karena saya hanya
melihat beberapa tempat saja. Mungkin di luar itu,
banyak tempat lain, yang mungkin tidak seperti itu.
Namun sebagai catatan, fenomena seperti itu juga menarik
untuk dicermati sebagai fenomena untuk mengukur, paling
tidak, ketercapaian masa depan. Dakwah –ceramah—salah
satunya.(ST)