HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 250407|
DAMPAK
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

HIDUP seperti roda yang terus berputar. Kehidupan terus mengikuti roda zaman yang kadang logis, kadang tidak. Seperti roda, berputar mulus bila putarannya normal. Namun ketika ada piranti tertentu yang tidak bekerja, banyak hal yang akan terhambat.

Seorang teman mengeluh dengan harga kendaraan yang semakin mahal. Padahal, ia sudah mengumpulkan sejumlah uang sejak bertahun-tahun yang lalu. Ketika uang mulai dikumpulkan, harga kendaraan masih sekian, tapi ketika uang sudah terkumpul, harga kendaraan pun meningkat empat kali lipat.

Ada teman lain yang memilih bertahan di dekat sebuah perusahaan eksplorasi. Keluarganya memilih tak menjual tanah rumah walau ganti rugi saat itu sangat tinggi. Ada pikiran yang logis dari sang teman itu, bahwa harga tanah akan naik, masyarakat akan memilih menjual tanahnya, lalu asoe lhok tak ada lagi.

Ternyata pengeluaran orang-orang mengikuti ritme pemasukan. Tanah dijual karena harganya sedikit tinggi, lalu sebagian uang dipergunakan untuk menyiapkan kediaman baru. Sedangkan banyak uang yang tersisa, menyebabkan konsumtif orang menjadi-jadi.

Orang-orang yang sudah membentuk komunitas baru membeli berbagai merek kendaraan terbaru. Sedangkan untuk mengisi bensinnya dalam waktu yang lama, cenderung akan menjadi masalah besar. Apalagi harga bahan bakar minyak tiap tahun naik.

Semua rumah di kediaman baru memiliki kendaraan masing-masing. Orang-orang memulai hidup dengan meniti kembali pekerjaan lain untuk ditekuni. Dan itu, butuh waktu. Seorang nelayan, butuh waktu untuk bisa menjadi petani yang sukses. Pedagang akan susah memahami siklus kehidupan para petani.

Pendapatan petani diperoleh dalam jangka waktu yang lama. Ini berbeda dengan nelayan yang tiap hari, mendapatkan pendapatannya. Pedagang demikian juga, perhari, perminggu, perbulan, pertahun, ia terus bisa melakukan kalkulasi-kalkulasi.

Konsekuensi dari kenyataan kediaman yang baru adalah perlunya norma-norma yang baru, adap-istiadat yang baru, dan sebagainya. Karena kumpulan tidak homogen, maka nilai-nilai baru pun menjadi milik bersama.

Paradigma asli kehidupannya menjadi hilang pelan-pelan. Kekayaan ini, semacam kearifan lokal, untuk waktu yang akan datang, bisa saja menjadi terasing di tanah sendiri. Ketika seseorang mengingatkan tentang adanya kekayaan lokal, orang-orang yang pernah memiliki itu sering tersentak.

Ini adalah dampak-dampak dari berbagai perkembangan kehidupan. Orang mengatakan butuh sebuah kearifan lokal, tapi tidak berusaha mempertahankan. Sangat mudah tergoda dengan hal-hal baru, yang barangkali, itu sudah berbanding terbalik dengan kekayaan yang sebenarnya kita punya.[ST]