HIDUP seperti roda yang terus
berputar. Kehidupan terus mengikuti roda zaman yang
kadang logis, kadang tidak. Seperti roda, berputar mulus
bila putarannya normal. Namun ketika ada piranti
tertentu yang tidak bekerja, banyak hal yang akan
terhambat.
Seorang teman mengeluh dengan harga
kendaraan yang semakin mahal. Padahal, ia sudah
mengumpulkan sejumlah uang sejak bertahun-tahun yang
lalu. Ketika uang mulai dikumpulkan, harga kendaraan
masih sekian, tapi ketika uang sudah terkumpul, harga
kendaraan pun meningkat empat kali lipat.
Ada teman lain yang memilih bertahan
di dekat sebuah perusahaan eksplorasi. Keluarganya
memilih tak menjual tanah rumah walau ganti rugi saat
itu sangat tinggi. Ada pikiran yang logis dari sang
teman itu, bahwa harga tanah akan naik, masyarakat akan
memilih menjual tanahnya, lalu asoe lhok tak ada
lagi.
Ternyata pengeluaran orang-orang
mengikuti ritme pemasukan. Tanah dijual karena harganya
sedikit tinggi, lalu sebagian uang dipergunakan untuk
menyiapkan kediaman baru. Sedangkan banyak uang yang
tersisa, menyebabkan konsumtif orang menjadi-jadi.
Orang-orang yang sudah membentuk
komunitas baru membeli berbagai merek kendaraan terbaru.
Sedangkan untuk mengisi bensinnya dalam waktu yang lama,
cenderung akan menjadi masalah besar. Apalagi harga
bahan bakar minyak tiap tahun naik.
Semua rumah di kediaman baru memiliki
kendaraan masing-masing. Orang-orang memulai hidup
dengan meniti kembali pekerjaan lain untuk ditekuni. Dan
itu, butuh waktu. Seorang nelayan, butuh waktu untuk
bisa menjadi petani yang sukses. Pedagang akan susah
memahami siklus kehidupan para petani.
Pendapatan petani diperoleh dalam
jangka waktu yang lama. Ini berbeda dengan nelayan yang
tiap hari, mendapatkan pendapatannya. Pedagang demikian
juga, perhari, perminggu, perbulan, pertahun, ia terus
bisa melakukan kalkulasi-kalkulasi.
Konsekuensi dari kenyataan kediaman
yang baru adalah perlunya norma-norma yang baru,
adap-istiadat yang baru, dan sebagainya. Karena kumpulan
tidak homogen, maka nilai-nilai baru pun menjadi milik
bersama.
Paradigma asli kehidupannya menjadi
hilang pelan-pelan. Kekayaan ini, semacam kearifan
lokal, untuk waktu yang akan datang, bisa saja menjadi
terasing di tanah sendiri. Ketika seseorang mengingatkan
tentang adanya kekayaan lokal, orang-orang yang pernah
memiliki itu sering tersentak.
Ini adalah dampak-dampak dari
berbagai perkembangan kehidupan. Orang mengatakan butuh
sebuah kearifan lokal, tapi tidak berusaha
mempertahankan. Sangat mudah tergoda dengan hal-hal
baru, yang barangkali, itu sudah berbanding terbalik
dengan kekayaan yang sebenarnya kita punya.[ST]