UATU
waktu, saya benar-benar kecewa pada seorang teman akrab,
yang kini sudah tinggal di Jakarta. Ia, kita sebut saja
namanya dengan Tarzi, adalah seorang penulis, aktivis
liberal, dan setelah tsunami menjadi pekerja untuk
sebuah lembaga (sampai akhir tahun 2006).
Ada satu
pertemuan di pinggiran gampong, di mana setiap
minggu saya mengajar menulis pada sekitar tujuh orang
yang sedang belajar di dayah. Pada hari Ahad itu, saya
bawa Tarzi, karena ia ingin melihat kelas menulis saya.
Bagi saya tak masalah, dan saya pikir ia tidak memiliki
pikiran-pikiran yang tertutup, sebagaimana sering ia
tuliskan.
Tapi apa
yang terjadi?
Dalam
pertemuan itu, saya beri dia kesempatan untuk berdiskusi
dengan para santri. Memang, di dayah itu, bila bergabung
santri agam dan santri inong, maka yang
inong selalu memakai cadar.
Saya sudah
terbiasa melihat cadar. Dulu, sewaktu kuliah di Fakultas
Hukum, ada juga teman-teman perempuan saya yang memakai
cadar. Begini-begini, saya pernah dipercayakan oleh
teman-teman untuk menjadi salah satu pemimpin pada
lembaga dakwah kampus.
Ketika
pertama kali berjumpa dan berdiskusi menulis, saya juga
tak terkejut karena saya juga pernah jak beud,
walau tak meudagang. Kaum bersarung, saya sudah
mengenalnya sejak lama. Apalagi orang tua saya juga
seorang yang memakai sarung. Beliau sampai saat ini
masih menjadi iman masjid di gampong.
Teman saya,
begitu saya persilakan, ia langsung bersemangat
berbicara masalah cadar. Tarzi, hari itu berbicara
tangkas, mempertanyakan mengapa harus memakai cadar? Ia
menguraikanlah berbagai pengetahuan yang ia miliki
tentang jilbab. Ia lupa, hari itu, kami ke sana bukan
berdiskusi tentang cadar, tapi diskusi menulis.
Hampir satu
jam ia berbicara tentang cadar. Bahkan ketika
membicarakan masalah yang tak ada hubungan sekali pun,
ia selalu memberi contoh pada jilbab. Ia benar-benar
seperti sangat terganggu dengan ada orang yang memakai
cadar.
Saya
sendiri mendapat banyak pengetahuan dari Tarzi tentang
menghargai keyakinan orang-orang. Maka kalau bukan hal
yang prinsipil, saya jarang mau tanggapi. Kecuali saya
merasa ada sesuatu yang batin saya tak menerima, maka
saya akan memberikan pendapat.
Tapi Tarzi
yang saya kenal ternyata terbelah jiwanya. Untuk
orang-orang yang tidak se ide ia gagaskan menghargai
perbedaan, namun ketika berjumpa dengan orang-orang yang
bercadar, ia sendiri sangat merasa terganggu.
Setelah
pertemuan itu, saya mulai mengetahui pribadi Tarzi,
mengkampanye kebebasan tapi gelisah bila ada orang yang
berlainan dengan harapannya, dengan keinginannya.
Sebagai teman, ku ikuti tulisan-tulisannya, bahwa ia
tidak pernah menulis tentang orang-orang yang
memperlihatkan celana dalamnya, atau orang-orang yang
memperlihatkan celah payudaranya. Dengan demikian, Tarzi
sama sekali tak gelisah dengan orang-orang yang
memperlihatkan keindahan tubuhnya, tapi begitu gelisah
dengan orang-orang yang menutup tubuhnya. Ini bukan
masalah benar atau salah, tapi masalah menghargai.
Sikap Tarzi
adalah antidemokrasi –katakan saja seperti itu. Ketika
beberapa negara mengklaim sebagai negara demokrasi,
ternyata juga bermasalah. Sebutlah Perancis, Denmark,
Inggris, Jerman, merupakan negara-negara yang pernah
melarang orang-orang memakai jilbab, padahal mereka
mengklaim sebagai demokrasi. Negara-negara itu, sama
wataknya dengan Tarzi.[ST]