HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 090507|
DEMOPHOBIA
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

UATU waktu, saya benar-benar kecewa pada seorang teman akrab, yang kini sudah tinggal di Jakarta. Ia, kita sebut saja namanya dengan Tarzi, adalah seorang penulis, aktivis liberal, dan setelah tsunami menjadi pekerja untuk sebuah lembaga (sampai akhir tahun 2006).

Ada satu pertemuan di pinggiran gampong, di mana setiap minggu saya mengajar menulis pada sekitar tujuh orang yang sedang belajar di dayah. Pada hari Ahad itu, saya bawa Tarzi, karena ia ingin melihat kelas menulis saya. Bagi saya tak masalah, dan saya pikir ia tidak memiliki pikiran-pikiran yang tertutup, sebagaimana sering ia tuliskan.

Tapi apa yang terjadi?

Dalam pertemuan itu, saya beri dia kesempatan untuk berdiskusi dengan para santri. Memang, di dayah itu, bila bergabung santri agam dan santri inong, maka yang inong selalu memakai cadar.

Saya sudah terbiasa melihat cadar. Dulu, sewaktu kuliah di Fakultas Hukum, ada juga teman-teman perempuan saya yang memakai cadar. Begini-begini, saya pernah dipercayakan oleh teman-teman untuk menjadi salah satu pemimpin pada lembaga dakwah kampus.

Ketika pertama kali berjumpa dan berdiskusi menulis, saya juga tak terkejut karena saya juga pernah jak beud, walau tak meudagang. Kaum bersarung, saya sudah mengenalnya sejak lama. Apalagi orang tua saya juga seorang yang memakai sarung. Beliau sampai saat ini masih menjadi iman masjid di gampong.

Teman saya, begitu saya persilakan, ia langsung bersemangat berbicara masalah cadar. Tarzi, hari itu berbicara tangkas, mempertanyakan mengapa harus memakai cadar? Ia menguraikanlah berbagai pengetahuan yang ia miliki tentang jilbab. Ia lupa, hari itu, kami ke sana bukan berdiskusi tentang cadar, tapi diskusi menulis.

Hampir satu jam ia berbicara tentang cadar. Bahkan ketika membicarakan masalah yang tak ada hubungan sekali pun, ia selalu memberi contoh pada jilbab. Ia benar-benar seperti sangat terganggu dengan ada orang yang memakai cadar.

Saya sendiri mendapat banyak pengetahuan dari Tarzi tentang menghargai keyakinan orang-orang. Maka kalau bukan hal yang prinsipil, saya jarang mau tanggapi. Kecuali saya merasa ada sesuatu yang batin saya tak menerima, maka saya akan memberikan pendapat.

Tapi Tarzi yang saya kenal ternyata terbelah jiwanya. Untuk orang-orang yang tidak se ide ia gagaskan menghargai perbedaan, namun ketika berjumpa dengan orang-orang yang bercadar, ia sendiri sangat merasa terganggu.

Setelah pertemuan itu, saya mulai mengetahui pribadi Tarzi, mengkampanye kebebasan tapi gelisah bila ada orang yang berlainan dengan harapannya, dengan keinginannya. Sebagai teman, ku ikuti tulisan-tulisannya, bahwa ia tidak pernah menulis tentang orang-orang yang memperlihatkan celana dalamnya, atau orang-orang yang memperlihatkan celah payudaranya. Dengan demikian, Tarzi sama sekali tak gelisah dengan orang-orang yang memperlihatkan keindahan tubuhnya, tapi begitu gelisah dengan orang-orang yang menutup tubuhnya. Ini bukan masalah benar atau salah, tapi masalah menghargai.

Sikap Tarzi adalah antidemokrasi –katakan saja seperti itu. Ketika beberapa negara mengklaim sebagai negara demokrasi, ternyata juga bermasalah. Sebutlah Perancis, Denmark, Inggris, Jerman, merupakan negara-negara yang pernah melarang orang-orang memakai jilbab, padahal mereka mengklaim sebagai demokrasi. Negara-negara itu, sama wataknya dengan Tarzi.[ST]