ORANG-orang
lokal sangat malas, kata orang-orang dari Barat.
Orang-orang Barat, sangat perhitungan, kata orang-orang
lokal.
Orang-orang
Barat, melihat banyak orang-orang lokal yang
santai-santai pada jam-jam sibuk. Kemalasan ini juga
diukur, semakin pudarnya semangat meuseuraya
dalam masyarakat Aceh, di mana mereka mempelajarinya
dalam berbagai buku sejarah Aceh.
Tapi,
ketiadaan meuseuraya dalam masyarakat Aceh paka
tsunami, adalah menyangkut efektivitas dan efisiensi;
semua pekerjaan sudah bisa dibayar, lalu orang-orang
yang menerima upah, selalu bisa dituntut bila
pekerjaannya tidak selesai. Sebuah kerja, adalah
persoalan atas-bawah; ada yang membayar, ada yang
menerima bayar.
Tuntutan
inilah yang tidak bisa dituntut dari proses
meuseuraya. Maka lihatlah, paska tsunami, berapa
banyak ada kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi yang
meupangkai pada meuseuraya.
Dalam
pelaksanaan sebuah pekerjaan, yang tujuannya diukur
dengan sejauhmana hasil bisa dilihat, maka ada orang
yang perintah dengan orang yang menerima perintah,
menjadi penting untuk ada.
Pekerjaan
bersama-sama, sering tidak efektif, walau ada nilai
penting yang bisa dikuatkan dalam masyarakat. Beginilah
anggapan orang-orang yang bergiat pada
pekerjaan-pekerjaan praktis.
Jarang ada
pengukuran efek. Biasanya, sebuah fasilitas umum yang
dibangun tanpa saham orang-orang gampong, proses
penjagaan terhadap fasilitas itu tidak maksimal.
Sebaliknya, orang-orang akan malu bila yang dibangun
dengan keringat sendiri tidak dijaga.
Beginilah
yang logis. Perlu ada pengawasan, ketika proses
penyadaran tidak tuntas dilakukan. Proses penyadaran,
tidak selalu harus dilakukan dari atas ke bawah. Kita
harus sering membuka mata bahwa nilai-nilai yang dari
bawah, cukup banyak yang bernilai.
Pengawasan
oleh semua mata sangat berbeda dengan pengawasan oleh
beberapa pasang mata saja. Pengawasan yang terbatas,
akan menyebabkan orang tidak saling meluruskan satu sama
lain. Orang baru memberi perhatian ketika kepentingannya
terganggu.
Dalam
sebuah tatanan lokal, segala yang berasal dari pribadi,
pada akhirnya berkaitan dengan antarpribadi. Selingkuh
adalah masalah pribadi, namun berkaitan dengan masalah
sosial karena nilai-nilai akan mengganggu orang lain.
Banyak
masalah individu seolah-olah tidak terkait dengan orang
banyak. Ini menjadi masalah saat Barat berbeda dalam
melihat lokal. Para fundamental Barat berpikir
seolah-olah hanya dengan konsep Barat saja yang mampu
memperbaiki kehidupan umat manusia sejagad.
Dari asal
mula sebagai pikir, lalu diunjukkan melalui perilaku dan
kampanye secara global. Yang berlainan dengan konsep
yang ditawarkan, dianggap sebagai anti. Sesuatu yang
anti, akan dengan mudah disebutkan sebagai tidak maju,
tidak sesuai, tidak memenuhi harapan. Lahirlah
standar-standar, dimana alat ukurnya selalu standar yang
digunakan oleh manusia tertentu.
Ada hal-hal
tertentu yang sesuai, seperti kapling malas. Namun
lihatlah kepungan yang membuat kemalasan, itu dari mana
datangnya? Malas tak selalu berhubungan dengan pemasukan
ekonomi. Seorang yang tidak bekerja untuk mendapatkan
ongkos disebut malas, seorang yang tidak bekerja untuk
kebersamaan juga harus disebut sebagai malas.
Lokal
bersama sejarahnya, harus dilihat sebentuk komunitas
yang berbeda dengan global. Menyelesaikan persoalan
lokal, dengan demikian tidak mesti menggunakan
kerangka-kerangka global.
Banyak
masalah lokal yang diakibatkan oleh kejahatan global.
Tapi lokal menjadi pihak yang tidak membela diri. Ketika
terjadi berbagai bencana, lokal yang sangat mudah
dituduhkan.
Padahal,
global sudah cukup banyak menghabiskan energi lokal
untuk memikirkan kapan lagi banjir akan datang ke
gampongnya, bencana alam, minyak naik, listrik,
sedang ekonomi (pendapatan) tak berubah.
Semua
masalah itu, tentu tidak selesai bila malas yang menjadi
tertuduh. Malas hanya ekses. Ini tidak pernah selesai,
bila tidak mampu memahami bahwa kini, sejarah kampung
yang tertulis dalam pelepah pinang, tidak selalu kita
temui dalam buku sejarah modern. Maka ketika tsunami
dikenal dengan smoong di Simeulu, maka itu
sejarah kampung yang seharusnya di ingat-ingat. Tapi
katanya, itu hanya untuk orang yang di luar lokal,
kalaupun orang-orang yang memperjuangkan lokal, kerap
jauh lebih berbahaya ketimbang menghegemoni lokal.
Orang-orang
lokal sering tak tahu bagaimana berbicara dengan gaya
yang beralun-alun. Mereka tak tahu memproduksi bahasa
yang bisa mengenakkan orang-orang mendengarnya. Maka
jangan heran, ketika dunia memberi kemalasan kepada
mereka, orang-orang gampong sampai tidak tahu
lagi cara memperbaiki diri.
Tapi tak
masalah, bila ingin menyebut bahwa banyak orang malas di
sekitar kita.[ST]