HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 150607|
FEMINIS
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SAYA belum menemukan adanya sebuah buku, jurnal, atau tulisan dari kaum feminis yang berani melakukan kritik terhadap diri sendiri. Kritik juga terhadap keyakinan tentang apa yang dilakukan untuk membumikan berbagai teori dan aplikasi feminis di Indonesia, termasuk di Aceh.

Mengapa kritik sangat penting?

Dalam kacamata putih bahwa segala sesuatu yang dipercaya dapat menjadi alat perekayasa sosial (a tool social of engginering), harus selalu mendapat kritik agar tidak salah dalam aplikasi. Latar belakangnya adalah, sebuah pendapat pada suatu masa dalam wilayah tertentu akan berkemungkinan berbeda dengan masa lain dan di tempat lain.

Harus ada pemahaman bahwa sesuatu yang dianggap benar, harus diugkapkan lewat cara dan proses yang benar. Ada latar belakang yang menyebabkan penglihatan harus selalu lebar dan luas. Jangan terbatas pada aspek dan wilayah tertentu karena akan melahirkan persoalan baru.

Kritik jangan dilakukan dengan menggunakan kacamata hitam. Biarkan orang lain memandang mata kita sebagaimana kita bisa memandang mata orang lain. Karena alat yang kita punya itu akan jernih memperlihatkan apa yang diungkapkan lewat tulisan dan bicara.

Kacamata hitam menjadi cermin ketidakjujuran (dan percaya diri) pada diri sendiri. Hal ini penting karena kacamata adalah salah satu alat Bantu. Mungkin bukan inti. Makanya alat yang digunakan juga harus menjadi cermin utuh dari tujuan wacana itu sendiri, hingga pada suatu saat tidak lagi hanya sebatas wacana.

Melihat diri, dengan demikian sangat penting untuk melihat segala hal yang berhubungan dengan segala yang di luar diri. Eksploitasi dua wajah harus mendapat perhatian. Bila asumsinya bahwa perempuan adalah kelompo rentan, maka dalam segenap aspek kerentanan menjadi keharusan untuk dilindungi.

Saya harus katakan bahwa dalam kenyataan tidak seperti itu. Kerentanan dalam wilayah sempit dilawan dengan keras, sementara kerentanan akibat gelombang pasang yang lebih luas dan besar, kita sering diam saja.

Bila ini yang terjadi, akan ada masalah yang dimulai dengan beragam tanda tanya di sebaliknya. Implikasi pertanyaan akan membuat semua masalah tidak lagi sederhana. Harus dilihat kompleks. Akibat teori dan akibat sosial dari sebuah teori, harus diperhitungkan bersamaan dengan apa yang kita ungkap sebagai penting.

Bukankah hal seperti ini yang kemudian melahirkan kontradiksi-kontradiksi? Hal ini tentu harus dihindari dari awal dengan mengkaji tidak hanya di luar diri, tapi juga yang di dalam diri.

Kemapanan gelombang dalam harus beriringan kajiannya dengan kerentanan gelombang dari luar. Inilah pluralism. Pentingnya pluralisme yang harus dilihat tidak akan mungkin dapat dipetakan selama kita tidak melihat diri kita daam waktu yang bersamaan. Percayalah!(ST)