SAYA
belum menemukan adanya sebuah buku, jurnal, atau tulisan
dari kaum feminis yang berani melakukan kritik terhadap
diri sendiri. Kritik juga terhadap keyakinan tentang apa
yang dilakukan untuk membumikan berbagai teori dan
aplikasi feminis di Indonesia, termasuk di Aceh.
Mengapa
kritik sangat penting?
Dalam
kacamata putih bahwa segala sesuatu yang dipercaya dapat
menjadi alat perekayasa sosial (a tool social of
engginering), harus selalu mendapat kritik agar
tidak salah dalam aplikasi. Latar belakangnya adalah,
sebuah pendapat pada suatu masa dalam wilayah tertentu
akan berkemungkinan berbeda dengan masa lain dan di
tempat lain.
Harus ada
pemahaman bahwa sesuatu yang dianggap benar, harus
diugkapkan lewat cara dan proses yang benar. Ada latar
belakang yang menyebabkan penglihatan harus selalu lebar
dan luas. Jangan terbatas pada aspek dan wilayah
tertentu karena akan melahirkan persoalan baru.
Kritik
jangan dilakukan dengan menggunakan kacamata hitam.
Biarkan orang lain memandang mata kita sebagaimana kita
bisa memandang mata orang lain. Karena alat yang kita
punya itu akan jernih memperlihatkan apa yang
diungkapkan lewat tulisan dan bicara.
Kacamata
hitam menjadi cermin ketidakjujuran (dan percaya diri)
pada diri sendiri. Hal ini penting karena kacamata
adalah salah satu alat Bantu. Mungkin bukan inti.
Makanya alat yang digunakan juga harus menjadi cermin
utuh dari tujuan wacana itu sendiri, hingga pada suatu
saat tidak lagi hanya sebatas wacana.
Melihat
diri, dengan demikian sangat penting untuk melihat
segala hal yang berhubungan dengan segala yang di luar
diri. Eksploitasi dua wajah harus mendapat perhatian.
Bila asumsinya bahwa perempuan adalah kelompo rentan,
maka dalam segenap aspek kerentanan menjadi keharusan
untuk dilindungi.
Saya harus
katakan bahwa dalam kenyataan tidak seperti itu.
Kerentanan dalam wilayah sempit dilawan dengan keras,
sementara kerentanan akibat gelombang pasang yang lebih
luas dan besar, kita sering diam saja.
Bila ini
yang terjadi, akan ada masalah yang dimulai dengan
beragam tanda tanya di sebaliknya. Implikasi pertanyaan
akan membuat semua masalah tidak lagi sederhana. Harus
dilihat kompleks. Akibat teori dan akibat sosial dari
sebuah teori, harus diperhitungkan bersamaan dengan apa
yang kita ungkap sebagai penting.
Bukankah
hal seperti ini yang kemudian melahirkan
kontradiksi-kontradiksi? Hal ini tentu harus dihindari
dari awal dengan mengkaji tidak hanya di luar diri, tapi
juga yang di dalam diri.
Kemapanan
gelombang dalam harus beriringan kajiannya dengan
kerentanan gelombang dari luar. Inilah pluralism.
Pentingnya pluralisme yang harus dilihat tidak akan
mungkin dapat dipetakan selama kita tidak melihat diri
kita daam waktu yang bersamaan. Percayalah!(ST)