SEJARAH,
berbeda dengan masa lalu, kata seorang teman, T. Kemal
Pasya (2006). Sejarah (history) adalah tafsir
dari masa lalu (past). Sebagai tafsir, ada di
masing-masing orang. Bila yang terpampang berat, maka
butuh energi tafsir yang besar. Namun bila ringan, juga
tidak membutuhkan banyak ilmu tafsir.
Kita semua
adalah sejarawan, kata T. Kemal Pasya pula. Di
mana-mana, ini sudah terbukti dalam perjalanan beberapa
keping sejarah. Sejarah yang satu dan mengubah generasi
tertentu, kemudian menjadi bahasan menarik di waktu dan
generasi yang lain.
Hal
demikian terjadi di banyak tempat, di banyak wilayah, di
banyak masyarakat. Di sekeliling kita, tafsir masa lalu
juga terus diperdebatkan. Ini membawa ingatan, tentang
siapa sebenarnya kepunyaan sejarah, yang digambarkan
sebagai orang-orang yang menang. Nah, bila semua kita
adalah sejarawan, sepertinya tidak ada yang akan menang,
selain semua yang akan menang bersama-sama.
Tetapi
siapa peduli dengan menang atau kalah. Di negeri Abang
Sam, ada cerita tentang kemegahan perang. Media-media di
awal 2003 sibuk dengan kampanye yang bertajuk “Gadis
Kecil Rambo”.
Seorang
gadis yang dilaporkan telah menjadi Rambo (tokoh dalam
sebuah film yang diproyeksikan untuk menutupi kemaluan
dari kenyataan kekalahan perang di Vietnam) karena
sebelum ditangkap di Iraq dalam suatu pertempuran dengan
gerilyawan, gadis itu digambarkan menembakkan banyak
peluru dari senjatanya.
Lalu, Rambo
menjadi sebutan di media-media. Padahal saat penyerangan,
mungkin tidak ada peliput. Sebagaimana dalam Film Rambo
yang menggambarkan betapa potongan impossible mission
dari seorang manusia melawan angkatan perang dan
gerilyawan yang telah menghancurkan gegap-gempita
kekuatannya.
Gadis itu,
setelah sembilan hari ditangkap, kemudian diselamatkan
oleh tentara dari negaranya. Gadis itu bebas. Mulai
gembor sejarah kecemerlangan berlangsung.
Beberapa
waktu kemudian, melewati rentang sekitar lebih 720 hari,
prajurit itu, Jessica Lynch yang masih berusia 19 tahun,
mengungkap kata-kata bijak: kejujuran terhadap perang
tidak selalu mudah.
Negeri itu
tersentak. Di depan Kongres, gadis yang berasal dari
Wirl Country (West Virginia) itu, dengan lantang
mengatakan bahwa militer negaranya sedang menyebarkan
kebohongan. Dan itu, ia tidak bisa menerima.
Kini,
fenomena itu juga berulang-ulang terjadi di Iraq.
Kampanye bahwa keberhasilan di Iraq dibantah dengan
kenyataan banyak orang yang melihatnya; ada kekacauan di
negeri itu. Terakhir, Paus, di depan Bush, mengatakan
bahwa tak ada perkembangan di Iraq.
Tetapi
sejarah, seperti yang diakui banyak orang, adalah
kecemerlangan kisah-kisah besar atau dibesarkan. Di
antara kecemerlangan itu, ada yang berserat kepentingan.
Salah satu yang dominan dilakukan adalah kampanye
kemenangan walau sedang dalam kepungan kekalahan.
Hal ini
dilakukan bila dalam perjalanan sejarahnya, kampanye
tentang kekuatan dilakukan untuk menundukkan semangat
pihak yang menjadi lawan. Pada masa kini, disadari atau
tidak, media sudah menjadi ruang ampuh untuk melakukan
itu. (ST)