HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 180607|
FIKTIF
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SEJARAH, berbeda dengan masa lalu, kata seorang teman, T. Kemal Pasya (2006). Sejarah (history) adalah tafsir dari masa lalu (past). Sebagai tafsir, ada di masing-masing orang. Bila yang terpampang berat, maka butuh energi tafsir yang besar. Namun bila ringan, juga tidak membutuhkan banyak ilmu tafsir.

Kita semua adalah sejarawan, kata T. Kemal Pasya pula. Di mana-mana, ini sudah terbukti dalam perjalanan beberapa keping sejarah. Sejarah yang satu dan mengubah generasi tertentu, kemudian menjadi bahasan menarik di waktu dan generasi yang lain.

Hal demikian terjadi di banyak tempat, di banyak wilayah, di banyak masyarakat. Di sekeliling kita, tafsir masa lalu juga terus diperdebatkan. Ini membawa ingatan, tentang siapa sebenarnya kepunyaan sejarah, yang digambarkan sebagai orang-orang yang menang. Nah, bila semua kita adalah sejarawan, sepertinya tidak ada yang akan menang, selain semua yang akan menang bersama-sama.

Tetapi siapa peduli dengan menang atau kalah. Di negeri Abang Sam, ada cerita tentang kemegahan perang. Media-media di awal 2003 sibuk dengan kampanye yang bertajuk “Gadis Kecil Rambo”.

Seorang gadis yang dilaporkan telah menjadi Rambo (tokoh dalam sebuah film yang diproyeksikan untuk menutupi kemaluan dari kenyataan kekalahan perang di Vietnam) karena sebelum ditangkap di Iraq dalam suatu pertempuran dengan gerilyawan, gadis itu digambarkan menembakkan banyak peluru dari senjatanya.

Lalu, Rambo menjadi sebutan di media-media. Padahal saat penyerangan, mungkin tidak ada peliput. Sebagaimana dalam Film Rambo yang menggambarkan betapa potongan impossible mission dari seorang manusia melawan angkatan perang dan gerilyawan yang telah menghancurkan gegap-gempita kekuatannya.

 Gadis itu, setelah sembilan hari ditangkap, kemudian diselamatkan oleh tentara dari negaranya. Gadis itu bebas. Mulai gembor sejarah kecemerlangan berlangsung.

Beberapa waktu kemudian, melewati rentang sekitar lebih 720 hari, prajurit itu, Jessica Lynch yang masih berusia 19 tahun, mengungkap kata-kata bijak: kejujuran terhadap perang tidak selalu mudah.

Negeri itu tersentak. Di depan Kongres, gadis yang berasal dari Wirl Country (West Virginia) itu, dengan lantang mengatakan bahwa militer negaranya sedang menyebarkan kebohongan. Dan itu, ia tidak bisa menerima.

Kini, fenomena itu juga berulang-ulang terjadi di Iraq. Kampanye bahwa keberhasilan di Iraq dibantah dengan kenyataan banyak orang yang melihatnya; ada kekacauan di negeri itu. Terakhir, Paus, di depan Bush, mengatakan bahwa tak ada perkembangan di Iraq.

Tetapi sejarah, seperti yang diakui banyak orang, adalah kecemerlangan kisah-kisah besar atau dibesarkan. Di antara kecemerlangan itu, ada yang berserat kepentingan. Salah satu yang dominan dilakukan adalah kampanye kemenangan walau sedang dalam kepungan kekalahan.

Hal ini dilakukan bila dalam perjalanan sejarahnya, kampanye tentang kekuatan dilakukan untuk menundukkan semangat pihak yang menjadi lawan. Pada masa kini, disadari atau tidak, media sudah menjadi ruang ampuh untuk melakukan itu. (ST)