ARI
Ahad yang lalu, di gampong, saya berkesempatan
ikut pengajian bersama orang-orang di sana. Pengajian
ini rutin dilakukan di meunasah. Sengaja
dilaksanakan sehabis dhuhur biar banyak orang yang
datang. Bila dilaksanakan pagi, banyak orang yang masih
beraktivitas. Tapi dasar, orang-orang yang datang ke
pengajian, menurut beberapa orang yang saya tanya,
selalu sedikit.
Mungkin
sama seperti di kuta yang melaksanakan diskusi
atau seminar. Sudah sedikit yang datang. Apalagi bila
masalah yang diangkat tidak menarik, walau bisa jadi
sangat prinsipil. Ada yang bilang: selalu diskusi, kapan
pelaksanaannya?
Entah
karena itu, lalu ada beberapa lembaga yang membayar
orang-orang yang berdiskusi walau itu untuk kepentingan
orang-orang yang ikut diskusi itu. Malah di undangan,
selain dikirim term of reference (TOR), juga ada
catatan di bawahnya sering bertuliskan: catatan, panitia
menyediakan biaya ini dan itu berjumlah sekian. Titik.
Sekarang
ini kepayahan sudah mulai terasa. Ketika ada
lembaga-lembaga yang tidak punya uang ingin proh hai
dengan orang-orang, sudah ada yang tanya perdiem.
Ada-ada saja.
Perdiem
menjadi begitu dekat sudah dengan kehidupan orang di
sekeliling saya di gampong. Hingga masalah
penting sekalipun yang perlu dibahas di gampong,
sudah sedikit orang yang datang. Banyak yang akan datang
bila itu menyangkut dengan segala sesuatu yang berlapik
itu.
Nah, di
pengajian hari itu demikian juga. Pengajian itu dipimpin
oleh seorang teungku yang terasa masih sedikit
disegan di sana. Entah karena tidak tega melihat suasana
yang selalu seperti itu terus berlanjut, hari Ahad itu
teungku memakai mikrofon dalam pengajiannya.
Sebelumnya tak pernah dilakukan. Dia membahas pula
masalah sabar yang makin menurun tingkatnya di sana.
Berceritalah sang teungku dengan penuh semangat
tentang kisah sebuah kampung. Ada sebuah kawasan yang
baru saja tertimpa bencana. Lalu banyak orang dari luar
kampung yang datang untuk memberi bantuan. Di kawasan
itu, dulunya, orang-orang meyakini bencana itu sebagai
teguran dari Pencipta, karena manusia di dalamnya sudah
begitu rakus.
Menurut
cerita itu, bencana datang karena kezaliman yang
dilakukan manusia atas sesamanya, dan atas makhluk yang
selain manusia. Banyak hal yang jarang terlihat di
kampung dan bila terjadi akan dianggap aib, tiba-tiba
sudah menjadi kebiasaan baru yang seolah-olah menjadi
cermin dari kemajuan zaman. Datanglah bencana. Pencipta
menegur agar manusia kembali ke jalan yang benar.
Tapi ketika
banyak orang-orang yang datang membawa bantuan,
pemahaman itu sudah berubah drastis. Kalau merasa itu
sebagai teguran, seyogianya orang-orang yang terkena
bencana akan memperbesar ingatan dan rasa syukur kepada
Pencipta. Tapi ini tidak, sembahyang berjamaah makin
berkurang, pengajian sedikit orang yang datang, dan
sebagainya.
Bila
sewaktu-waktu ada pengumuman dari meunasah untuk
menghadiri upacara keagamaan, itu sedikit yang datang.
Sudah jumlahnya kecil, datang terlambat pula. Tapi
giliran disampaikan pengumuman oleh pimpinan kampung
perihal ada bantuan yang mau dibagi-bagikan, maka
berkerumun orang-orang yang datang. Dan super on time.
Itu sudah
sulit untuk diubah. Orang-orang di sana, menurut
teungku, sudah terlalu gabuek dengan hal-hal
yang sebenarnya tak perlu terlalu gabuek. Sudah
ada yang lupa diri pula.
Kisah itu
diceritakan teungku terdengar sampai ke ujung
gampong. Entah masih ingat tengku itu bahwa
saat itu ia sedang pengajian dengan orang-orang yang di
meunasah. Akhirnya bercerita juga, orang-orang
yang mengurus bantuan juga gabuek, hingga di
waktu-waktu yang tak boleh gabuek pun dibuat
gabuek.
Sampai di
sini, ia menutup kisah dan pengajian selesai pada hari
Ahad itu. Dua hari kemudian, ada pengajian lagi secara
rutin, dan ia berharap jumlah orang yang ikut akan
bertambah dengan kisah yang diceritanya lewat mikrofon.
Namun yang terjadi sebaliknya, orang-orang yang datang
menurun drastis. Padahal hari itu tak ada pembagian
barang berlapik.[ST]