HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 290407|
GABHUK
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ARI Ahad yang lalu, di gampong, saya berkesempatan ikut pengajian bersama orang-orang di sana. Pengajian ini rutin dilakukan di meunasah. Sengaja dilaksanakan sehabis dhuhur biar banyak orang yang datang. Bila dilaksanakan pagi, banyak orang yang masih beraktivitas. Tapi dasar, orang-orang yang datang ke pengajian, menurut beberapa orang yang saya tanya, selalu sedikit.

Mungkin sama seperti di kuta yang melaksanakan diskusi atau seminar. Sudah sedikit yang datang. Apalagi bila masalah yang diangkat tidak menarik, walau bisa jadi sangat prinsipil. Ada yang bilang: selalu diskusi, kapan pelaksanaannya?

Entah karena itu, lalu ada beberapa lembaga yang membayar orang-orang yang berdiskusi walau itu untuk kepentingan orang-orang yang ikut diskusi itu. Malah di undangan, selain dikirim term of reference (TOR), juga ada catatan di bawahnya sering bertuliskan: catatan, panitia menyediakan biaya ini dan itu berjumlah sekian. Titik.

Sekarang ini kepayahan sudah mulai terasa. Ketika ada lembaga-lembaga yang tidak punya uang ingin proh hai dengan orang-orang, sudah ada yang tanya perdiem. Ada-ada saja.

Perdiem menjadi begitu dekat sudah dengan kehidupan orang di sekeliling saya di gampong. Hingga masalah penting sekalipun yang perlu dibahas di gampong, sudah sedikit orang yang datang. Banyak yang akan datang bila itu menyangkut dengan segala sesuatu yang berlapik itu.

Nah, di pengajian hari itu demikian juga. Pengajian itu dipimpin oleh seorang teungku yang terasa masih sedikit disegan di sana. Entah karena tidak tega melihat suasana yang selalu seperti itu terus berlanjut, hari Ahad itu teungku memakai mikrofon dalam pengajiannya. Sebelumnya tak pernah dilakukan. Dia membahas pula masalah sabar yang makin menurun tingkatnya di sana.

Berceritalah sang teungku dengan penuh semangat tentang kisah sebuah kampung. Ada sebuah kawasan yang baru saja tertimpa bencana. Lalu banyak orang dari luar kampung yang datang untuk memberi bantuan. Di kawasan itu, dulunya, orang-orang meyakini bencana itu sebagai teguran dari Pencipta, karena manusia di dalamnya sudah begitu rakus.

Menurut cerita itu, bencana datang karena kezaliman yang dilakukan manusia atas sesamanya, dan atas makhluk yang selain manusia. Banyak hal yang jarang terlihat di kampung dan bila terjadi akan dianggap aib, tiba-tiba sudah menjadi kebiasaan baru yang seolah-olah menjadi cermin dari kemajuan zaman. Datanglah bencana. Pencipta menegur agar manusia kembali ke jalan yang benar.

Tapi ketika banyak orang-orang yang datang membawa bantuan, pemahaman itu sudah berubah drastis. Kalau merasa itu sebagai teguran, seyogianya orang-orang yang terkena bencana akan memperbesar ingatan dan rasa syukur kepada Pencipta. Tapi ini tidak, sembahyang berjamaah makin berkurang, pengajian sedikit orang yang datang, dan sebagainya.

Bila sewaktu-waktu ada pengumuman dari meunasah untuk menghadiri upacara keagamaan, itu sedikit yang datang. Sudah jumlahnya kecil, datang terlambat pula. Tapi giliran disampaikan pengumuman oleh pimpinan kampung perihal ada bantuan yang mau dibagi-bagikan, maka berkerumun orang-orang yang datang. Dan super on time.

Itu sudah sulit untuk diubah. Orang-orang di sana, menurut teungku, sudah terlalu gabuek dengan hal-hal yang sebenarnya tak perlu terlalu gabuek. Sudah ada yang lupa diri pula.

Kisah itu diceritakan teungku terdengar sampai ke ujung gampong. Entah masih ingat tengku itu bahwa saat itu ia sedang pengajian dengan orang-orang yang di meunasah. Akhirnya bercerita juga, orang-orang yang mengurus bantuan juga gabuek, hingga di waktu-waktu yang tak boleh gabuek pun dibuat gabuek.

Sampai di sini, ia menutup kisah dan pengajian selesai pada hari Ahad itu. Dua hari kemudian, ada pengajian lagi secara rutin, dan ia berharap jumlah orang yang ikut akan bertambah dengan kisah yang diceritanya lewat mikrofon. Namun yang terjadi sebaliknya, orang-orang yang datang menurun drastis. Padahal hari itu tak ada pembagian barang berlapik.[ST]