HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 020507|
Geureuhem
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SAYA kadang-kadang masih sempat berfikir aneh saat penyampaian nasehat yang disampaikan pembaca khutbah waktu shalat Jumat. Pikiran aneh itu timbul ketika nasehat yang diberikan itu sedikit panjang. Biasanya, nasehat itu sekitar 15-25 menit. Namun kalau melebihi setengah jam, biasanya ada saja orang yang geureuhem dan pura-pura batuk di beberapa sudut masjid.

Geureuhem yang dilakukan tersebut, ada yang disengaja, dan bukan tidak mungkin, ada yang memang tidak disengaja. Kalau yang disengaja, umumnya mereka yang merasa nasehat sudah terlalu panjang. Lalu mereka secara tidak langsung mencoba menegur.

Orang-orang yang melakukan geureuhem secara tidak disengaja, umumnya dilakoni oleh orang-orang yang kerongkongannya bermasalah. Pada perokok umumnya, kerongkongan mereka kerap kering dan untuk menetralkan perasaan, mereka terbawa perasaan untuk melakukan geureuhem.

Sudah pasti, dua bentuk itu sangat berbeda. Geureuhem yang tak disengaja, biasanya berlangsung secara refleks. Berbeda dengan yang melakukannya dengan sengaja. Orang-orang seperti ini, biasanya akan ada penyambungnya. Ketika ada geureuhem yang dilakukan dengan sengaja, tak berapa lama, terdengar geureuhem yang lain menyambung.

Nah, waktu geureuhem terjadi bersambung itulah, saya sering berfikir (barangkali) aneh. Saya sering bertanya dalam hati pada waktu-waktu seperti itu, mengapa sih, kalau ada penyampaian nasehat yang sedikit panjang, orang sudah menunjukkan ketidaksabarannya. Padahal nasehat itu umumnya berkaitan dengan amar makruf nahi mungkar.

Ini tentu patut menjadi pertanyaan, karena apalah artinya menghabiskan sedikit banyak waktu untuk mendengar yang baik-baik, sementara untuk kebutuhan-kebutuhan donya, ada orang yang rela menghabisan waktu sampai berjam-jam.

Ada orang yang menonton televisi sampai subuh, menonton sepakbola sampai tinggal shalat, menonton konser sampai lupa waktu. Lalu tiba-tiba mendengar ceramah yang sedikit lama, sudah kasak-kusuk lewat perilaku yang namanya geureuhem itu.

Ternyata, ketika saya berfikir lebih dalam, geureuhem juga menyimpan sebuah tanda tersendiri. Karena dalam kenyataan, sepertinya ada juga pembaca khutbah yang tidak mengerti psikologi massa. Tipe pembaca khutbah seperti ini, biasanya hanya mengatakan sesuatu yang pahit untuk orang-orang yang shalat Jumat. Pernah ada seorang tua, ketika selesai shalat Jumat, mengatakan, kok kita yang datang shalat Jumat justru yang mendapat banyak nasehat yang seharusnya itu ditujukan untuk orang-orang yang tidak shalat Jumat.

Benar juga. Soalnya ada pemberi nasehat yang tidak melihat suasana itu. Seharusnya diperhitungkan bahwa yang datang ke masjid, ada hal-hal yang seharusnya dibatasi pesannya. Pesan-pesan yang memang tidak perlu disampaikan kepada orang yang datang ke masjid, tidak usah diungkapkan lagi.

Ini mungkin salah satu yang menyebabkan orang jadi melakukan geureuhem. Pada kenyataannya, banyak khatib yang mengerti psikologi orang-orang, walau membaca nasehat lama, tapi jarang ada orang yang melakukan geureuhem.

Artinya, penyampaian pesan juga menjadi penting diperhatikan tingkat penyerapan. Jangan sampai berbicara berjam-jam, tapi tingkat penyerapan inti pesan berlangsung sangat kurang.

Yang terakhir disampaikan ini, mungkin tidak berhubungan langsung dengan geureuhem. Karena harus diingat, memang ada orang yang tipenya memang suka geureuhem. Kata orang, sudah keenakan geureuhem. Sehingga mengikuti acara apapun, orang-orang yang tipe seperti ini akan tetap melakukan geureuhem.

Bila sudah seperti ini, maka geureuhem sudah bisa lagi disebut sebagai sebentuk tanda.[ST]