SAYA
kadang-kadang masih sempat berfikir aneh saat
penyampaian nasehat yang disampaikan pembaca khutbah
waktu shalat Jumat. Pikiran aneh itu timbul ketika
nasehat yang diberikan itu sedikit panjang. Biasanya,
nasehat itu sekitar 15-25 menit. Namun kalau melebihi
setengah jam, biasanya ada saja orang yang geureuhem
dan pura-pura batuk di beberapa sudut masjid.
Geureuhem yang dilakukan
tersebut, ada yang disengaja, dan bukan tidak mungkin,
ada yang memang tidak disengaja. Kalau yang disengaja,
umumnya mereka yang merasa nasehat sudah terlalu
panjang. Lalu mereka secara tidak langsung mencoba
menegur.
Orang-orang
yang melakukan geureuhem secara tidak disengaja,
umumnya dilakoni oleh orang-orang yang kerongkongannya
bermasalah. Pada perokok umumnya, kerongkongan mereka
kerap kering dan untuk menetralkan perasaan, mereka
terbawa perasaan untuk melakukan geureuhem.
Sudah
pasti, dua bentuk itu sangat berbeda. Geureuhem
yang tak disengaja, biasanya berlangsung secara refleks.
Berbeda dengan yang melakukannya dengan sengaja.
Orang-orang seperti ini, biasanya akan ada penyambungnya.
Ketika ada geureuhem yang dilakukan dengan
sengaja, tak berapa lama, terdengar geureuhem
yang lain menyambung.
Nah, waktu
geureuhem terjadi bersambung itulah, saya sering
berfikir (barangkali) aneh. Saya sering bertanya dalam
hati pada waktu-waktu seperti itu, mengapa sih,
kalau ada penyampaian nasehat yang sedikit panjang,
orang sudah menunjukkan ketidaksabarannya. Padahal
nasehat itu umumnya berkaitan dengan amar makruf nahi
mungkar.
Ini tentu
patut menjadi pertanyaan, karena apalah artinya
menghabiskan sedikit banyak waktu untuk mendengar yang
baik-baik, sementara untuk kebutuhan-kebutuhan donya,
ada orang yang rela menghabisan waktu sampai berjam-jam.
Ada orang
yang menonton televisi sampai subuh, menonton sepakbola
sampai tinggal shalat, menonton konser sampai lupa
waktu. Lalu tiba-tiba mendengar ceramah yang sedikit
lama, sudah kasak-kusuk lewat perilaku yang namanya
geureuhem itu.
Ternyata,
ketika saya berfikir lebih dalam, geureuhem juga
menyimpan sebuah tanda tersendiri. Karena dalam
kenyataan, sepertinya ada juga pembaca khutbah yang
tidak mengerti psikologi massa. Tipe pembaca khutbah
seperti ini, biasanya hanya mengatakan sesuatu yang
pahit untuk orang-orang yang shalat Jumat. Pernah ada
seorang tua, ketika selesai shalat Jumat, mengatakan,
kok kita yang datang shalat Jumat justru yang
mendapat banyak nasehat yang seharusnya itu ditujukan
untuk orang-orang yang tidak shalat Jumat.
Benar juga.
Soalnya ada pemberi nasehat yang tidak melihat suasana
itu. Seharusnya diperhitungkan bahwa yang datang ke
masjid, ada hal-hal yang seharusnya dibatasi pesannya.
Pesan-pesan yang memang tidak perlu disampaikan kepada
orang yang datang ke masjid, tidak usah diungkapkan
lagi.
Ini mungkin
salah satu yang menyebabkan orang jadi melakukan
geureuhem. Pada kenyataannya, banyak khatib yang
mengerti psikologi orang-orang, walau membaca nasehat
lama, tapi jarang ada orang yang melakukan geureuhem.
Artinya,
penyampaian pesan juga menjadi penting diperhatikan
tingkat penyerapan. Jangan sampai berbicara berjam-jam,
tapi tingkat penyerapan inti pesan berlangsung sangat
kurang.
Yang
terakhir disampaikan ini, mungkin tidak berhubungan
langsung dengan geureuhem. Karena harus diingat,
memang ada orang yang tipenya memang suka geureuhem.
Kata orang, sudah keenakan geureuhem. Sehingga
mengikuti acara apapun, orang-orang yang tipe seperti
ini akan tetap melakukan geureuhem.
Bila sudah seperti ini, maka geureuhem sudah bisa lagi
disebut sebagai sebentuk tanda.[ST]