PERKEMBANGAN informasi dan komunikasi, akan
berbanding lurus dengan perkembangan alat teknologi itu
sendiri. Bayangkan ketika 30 tahun lalu, orang-orang
yang memiliki jaringan telepon bisa dihitung dengan
jari. Di kota Banda Aceh, hanya beberapa orang saja yang
memakai telepon. Sebelumnya, orang memakai telegram
untuk menyampaikan pesan.
Tak berapa
lama, telepon menjadi tersedia di mana-mana. Orang-orang
yang tidak memakai telepon di rumah, tersedia banyak
telepon umum dan warung telepon (Wartel). Maka untuk
berbicara kemana-mana, bisa dilakukan kapan saja.
Kekurangannya, kadangkala orang yang ditelepon tidak ada
di sekitar telepon. Maka pager pun mulai dikenal.
Perkembangan teknologi berlangsung begitu cepat. Sebelum
orang merasa puas memakai satu jenis alat teknologi,
sudah hadir bentuk yang baru. Ketika orang belum
semuanya memiliki telepon –bahkan ada orang yang belum
tahu telepon, apalagi menggunakanya—sudah hadir berbagai
alat telekomunikasi yang lain.
Handphone yang hadir pertama sangat terbatas
fasilitas layanan yang ditawarkan. Tapi sekarang,
beraneka ragam fasilitas layanan sudah tersedia.
Perusahaan yang memproduksi alat telekomunikasi
berlomba-lomba menciptakan yang baru yang merebut pasar
agar orang-orang menyukai dan membelinya.
Kini,
handphone bukan lagi alat yang asing. Orang juga
tidak akan tercengang lagi bila ada orang yang di
sekitarnya sudah memakai handphone. Perkembangan
zaman terjadi begitu cepat.
Pada
akhirnya, semua alat –sebagaimana alat yang lain—akan
tergantung pada penggunanya. Bila penggunanya baik, akan
menggunakannya untuk hal-hal yang baik. Akan tetapi bila
penggunanya bermental “miring” maka akan digunakan untuk
hal-hal yang buruk.
Begitu juga
dengan handphone, bisa dipergunakan untuk hal-hal
yang makruf, bisa juga dipergunakan untuk hal-hal
yang mungkar.
Intinya,
tergantung penggunanya. Alat itu bisa dipakai. Sedangkan
untuk apa dipakai alat itu, sepenuhnya dikelola oleh
pengguna. Yang sombong itu adalah penggunanya, bukan
handphone-nya. Yang congkak itu manusia, bukan
alatnya.
Maka sudah
pasti tidak bisa disalahkan hanphone ketika sesuatu yang
“salah atau tidak baik atau tidak benar” terjadi. Posisi
itu ada pada pengguna, pada pengelolanya.
Di
tempat-tempat yang mengharuskan handphone
dimatikan, juga bukan salah handphone-nya, tapi
orang-orang yang menggunakannya. Handphone bisa
dimatikan, bisa dinyalakan. Logikanya, dimatikan atau
dinyalakan, itu tergantung pada penggunanya –yang selalu
melakukannya dengan alpa atau secara sengaja.
Bila di
dalam masjid berbunyi handphone, padahal di
segala sudut sudah tertempel pengumuman agar
handphone dimatikan-–ditambah ingatan yang diberikan
bilal, maka bila handphone tetap berbunyi, itu
merupakan cermin dari penggunanya -–yang bisa saja
karena alpa, bisa juga karena melakukannya dengan
sengaja.
Ini adalah
zaman sibuk, kata orang. Maka handphone sering
dianggap untuk mencerminkan tingkat kesibukan. Apa yang
terjadi ketika kesibukan itu tidak mau dikurangi walau
untuk menghadap Tuhan sekalipun?. Bukankah ketika orang
masuk ke masjid, masuk ke meunasah, orang-orang
sebenarnya meluangkan waktu untuk berhadapan dengan
Tuhannya, Rabb-nya, Penciptanya?. Nah, bila ada
orang yang ketika sedang menghadap Tuhan, menghadap
Rabb, menghadap Pencipta, ternyata masih bunyi
handphone sebagai panggilan dari yang lain, bukankah
yang lain itu sudah dianggap sebagai sesuatu yang
penting juga –yang seharusnya tidak boleh terjadi ketika
sedang menghadap Tuhan, Rabb, Khaliq?.
Tapi
kenyataannya, di dalam masjid, di dalam meunasah,
di waktu shalat, di waktu menghadap Tuhan, Rabb,
Pencipta, Khaliq, handphone-handphone juga sering
berbunyi. Logikanya, apalagi di waktu yang lain.
Sebagai
manusia, cukup sering terlihat, ketika ada pertemuan
penting entah dengan siapa akan mau mematikan
handphone-nya, yang barangkali tak semua orang mau
melakukannya ketika ia berhadapan dengan Tuhannya.
Sebenarnya,
ini menjadi “miring”, menjadi ganjil, menjadi irasional,
menjadi tidak sehat, menjadi tidak waras. Tapi dalam
kehidupan masyarakat kita, hal ini terjadi. Benar-benar
terjadi, hingga kita kadangkala harus selalu mengurut
dada, sembari mengatakan: namanya saja handphone![ST]