HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 290507|
Iboih
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

UATU hari, ketika keluarga abang saya Helmi Hass (mantan Ketua Dewan Kesenian Aceh) dan D kemalawati (penyair perempuan Indonesia) bersama anak-anaknya, menginap di rumah saya, Panteraja, tanpa sengaja terjadi pembicaraan seputar tikar pandan. Tika iboih atau tika seukee.

Perbincangan ini bermula saat D Kemalawati mendapat bagian shalat magrib di atas sehelai tikar pandan yang terajut rapi dan berbunga aneka warna. Kami yang lain, kebagian sembahyang di atas sajadah –yang mudah dibeli dan didapatkan di toko-toko.

Begitu selesai sembahyang, D Kemalawati melihat-lihat tempat sembahyang itu. Lama ia memandangnya. Ia bertanya, di mana bisa membelinya. Tetapi ia sedikit kecewa karena tak banyak tempat menyediakan tikar-tikar seperti itu, dengan motif dan anyaman yang khas.

Akhirnya kami memang dapat dan membelinya esok hari, di suatu gampong pedalaman Panteraja. Wah, ia senang sekali.

Mulailah perbincangan itu. Mengapa kerajinan yang cantik seperti itu semakin sulit ditemui. Padahal, tikar itu saja ada yang dibuat dengan sengaja dua lapis, dengan corak dan warna yang berbeda-beda. Pertanyaan selanjutnya, seputar manajemen pasar.

Saya harus cerita masa kecil dulu, saat masih melihat perempuan-perempuan gampong menganyam tikar dengan aneka bentuk, corak dan warna. Susunannya apik. Memang butuh keahlian yang tidak sedikit untuk bisa menganyam sebuah tikar yang utuh seperti itu.

Selesai dianyam, mereka juga akan menjual sendiri dengan berjalan kaki dari gampong ke gampong. Dalam sehari, mungkin yang laku hanya dua atau tiga. Dengan harga yang pasti, di bawah rata-rata.

Tikar yang dibawa seperti itu, jarang dijual dengan harga maksimal, harga tertinggi. Para pembeli, jarang memperhitungkan betapa pahitnya para penganyam tikar itu dalam mencari bahan baku. Konon lagi pandan pesisir itu sudah sedikit dan di kantong-kantong pandan, sudah dilarang diambil daunnya oleh pimpinan gampong, karena menyangkut keselamatan orang banyak.

Ketika sudah dikumpulkan, mereka juga harus membersihkan, mewarnai, membelahnya, sampai menganyam dan itu butuh waktu berbulan-bulan. Ketika hasil anyaman itu dibawa ke gampong-gampong, pembeli menawar harga sampai ke titik terendah.

Penawaran seperti ini jarang terjadi di toko-toko atau swalayan yang sudah tertera harganya. Untuk para pemroduksi yang sudah mapan, kita jarang meminta kurang walau beberapa rupiah saja. Tidak seperti kita membeli sesuatu dari orang-orang gampong yang menawarnya sampai ke titik terendah.

Terus-terang, sebelum perbincangan di rumah hari itu, saya bahagia karena D Kemalawati tak menawar sedikit pun harga saat membeli selembar tikar di pedalaman Panteraja. Berwarna-warni dengan bentuk yang sangat indah, namun harga sudah pasti, berlipat-lipat di bawah tikar-tikar modern yang dijual di toko-toko. Ia langsung membayar sejumlah harga yang disebutkan oleh penjual.

Perbincangan seperti ini sering kami lakukan bila sedang duduk-duduk dan sering tak ada solusi. Pada hari itu, ternyata ada kesimpulan dari Kemalawati, katanya, pasar sedang tidak adil.

Wah, namanya saja pasar!(ST)