UATU
hari, ketika keluarga abang saya Helmi Hass (mantan
Ketua Dewan Kesenian Aceh) dan D kemalawati (penyair
perempuan Indonesia) bersama anak-anaknya, menginap di
rumah saya, Panteraja, tanpa sengaja terjadi pembicaraan
seputar tikar pandan. Tika iboih atau tika
seukee.
Perbincangan ini bermula saat D Kemalawati mendapat
bagian shalat magrib di atas sehelai tikar pandan yang
terajut rapi dan berbunga aneka warna. Kami yang lain,
kebagian sembahyang di atas sajadah –yang mudah dibeli
dan didapatkan di toko-toko.
Begitu
selesai sembahyang, D Kemalawati melihat-lihat tempat
sembahyang itu. Lama ia memandangnya. Ia bertanya, di
mana bisa membelinya. Tetapi ia sedikit kecewa karena
tak banyak tempat menyediakan tikar-tikar seperti itu,
dengan motif dan anyaman yang khas.
Akhirnya
kami memang dapat dan membelinya esok hari, di suatu
gampong pedalaman Panteraja. Wah, ia senang sekali.
Mulailah
perbincangan itu. Mengapa kerajinan yang cantik seperti
itu semakin sulit ditemui. Padahal, tikar itu saja ada
yang dibuat dengan sengaja dua lapis, dengan corak dan
warna yang berbeda-beda. Pertanyaan selanjutnya, seputar
manajemen pasar.
Saya harus
cerita masa kecil dulu, saat masih melihat
perempuan-perempuan gampong menganyam tikar
dengan aneka bentuk, corak dan warna. Susunannya apik.
Memang butuh keahlian yang tidak sedikit untuk bisa
menganyam sebuah tikar yang utuh seperti itu.
Selesai
dianyam, mereka juga akan menjual sendiri dengan
berjalan kaki dari gampong ke gampong.
Dalam sehari, mungkin yang laku hanya dua atau tiga.
Dengan harga yang pasti, di bawah rata-rata.
Tikar yang
dibawa seperti itu, jarang dijual dengan harga maksimal,
harga tertinggi. Para pembeli, jarang memperhitungkan
betapa pahitnya para penganyam tikar itu dalam mencari
bahan baku. Konon lagi pandan pesisir itu sudah sedikit
dan di kantong-kantong pandan, sudah dilarang diambil
daunnya oleh pimpinan gampong, karena menyangkut
keselamatan orang banyak.
Ketika
sudah dikumpulkan, mereka juga harus membersihkan,
mewarnai, membelahnya, sampai menganyam dan itu butuh
waktu berbulan-bulan. Ketika hasil anyaman itu dibawa ke
gampong-gampong, pembeli menawar harga sampai ke
titik terendah.
Penawaran
seperti ini jarang terjadi di toko-toko atau swalayan
yang sudah tertera harganya. Untuk para pemroduksi yang
sudah mapan, kita jarang meminta kurang walau beberapa
rupiah saja. Tidak seperti kita membeli sesuatu dari
orang-orang gampong yang menawarnya sampai ke
titik terendah.
Terus-terang,
sebelum perbincangan di rumah hari itu, saya bahagia
karena D Kemalawati tak menawar sedikit pun harga saat
membeli selembar tikar di pedalaman Panteraja.
Berwarna-warni dengan bentuk yang sangat indah, namun
harga sudah pasti, berlipat-lipat di bawah tikar-tikar
modern yang dijual di toko-toko. Ia langsung membayar
sejumlah harga yang disebutkan oleh penjual.
Perbincangan seperti ini sering kami lakukan bila sedang
duduk-duduk dan sering tak ada solusi. Pada hari itu,
ternyata ada kesimpulan dari Kemalawati, katanya, pasar
sedang tidak adil.
Wah,
namanya saja pasar!(ST)