YEIKH
Arsyad Banjar, adalah salah satu penulis paling ksatria
masa silam. Dengan gagah, Syeikh Arsyad mengakui, bahwa
kitab yang ditulisnya, Masailal Muhtadin,
merupakan lanjutan dari sebuah kitab yang berasal dari
buah pikiran Nuruddin Ar-Raniry, yang berjudul
Shiratal Mustaqim.
Pengakuan
itu, bukan dibuat sekarang. Tapi bersamaan dengan
penulisan kitab tersebut. Artinya, pengakuan itu sudah
dibuat sejak kitab itu ditulis.
Mungkin,
kita terbayang bagaimana beralunnya bahasa Masailal
Muhtadin itu, yang seorang guru saya, Profesor
Safwan Idris, menyebutkan karya tersebut memiliki bahasa
yang sangat cepat dipahami.
“Pasal,
jika kita ditanyai orang kita,” merupakan contoh
awalan-awalan yang beralun itu. Sehingga orang Aceh yang
pernah mendapatkan ilmu-ilmu agama dalam keseharian,
umumnya teringat bahasa-bahasa Kitab Masailai
itu.
Syahdan,
tulisan ini tidak ingin memperbincangkan isi. Namun
lebih kepada pengakuan jujur seorang penulis. Ini
menandakan, dalam konsep menulis, menyebutkan dasar
datangnya ide, sama sekali tidak merendahkan kualitas
ide yang dikeluarkan.
Hal ini
berbeda dengan sekarang, lalu lintas ide yang luar bisa
intensif, namun pencurian ide banyak berlangsung. Dalam
beberapa kelas menulis yang pernah saya ikuti, selalu
dipesan agar ide tidak pernah diungkapkan kepada orang
lain.
Apa yang
saya dapat dari kelas menulis, ternyata berbeda dengan
yang saya dapat dari seorang teman yang profesinya
jurnalis. Sang teman itu berprinsip, tak ada persoalan
ide diambil oleh orang lain, asalkan ide-ide yang
ditulis itu akan bermanfaat bagi kemanusiaan dan agama.
Sesederhana
apapun sebuah ide, ketika ia sudah menjadi kumpulan yang
bisa dibaca, maka itu sudah ada manfaat. Ide-ide yang
brilian, bila hanya sebagai lalu lintas, maka itu tidak
bisa diambil manfaat.
Ada
perbedaan pendapat. Sebagian penulis besar yang saya
kenal, mengatakan tak menyebutkan sumber ide pun tak
apa-apa, asal bukan mengutip. Namun ada juga penulis
yang mengatakan bahwa ide sekalipun, kalau bukan murni
dari kita, seyogianya disebutkan.
Ini menjadi
catatan penting bagi penulis. Bahwa seperti yang saya
sebutkan, menyebutkan sumber ide pun, tidak akan
meruntuhkan kualitas tulisan. Maka seyogianya, menjadi
terhormat bila sumber ide disebut.
Mungkin
inilah yang difikirkan Syeikh Arsyad Banjar, yang merasa
tak kalah hormatnya kalau pun menyebutkan ada hubungan
dengan kitab yang lain.
Apa yang
dilakukan tersebut, bisa jadi berbeda dengan beberapa
penulis. Yang jelas ada perbedaan pendapat.
Tapi
terlepas bagaimana perbedaan pendapat ini bisa muncul,
sepertinya penting untuk menyebutkan sumber ide –dan
itu, sekali lagi, sama sekali tak merendahkan kualitas
sebuah gagasan yang disampaikan. Malah seringkali, orang
yang dengan jujur menyebutkan sumber ide, karyanya jauh
lebih besar mendapatkan apresiasi ketimbang yang tidak
menyebutkan sumber ide.[ST]