HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 140507|
IDE
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

YEIKH Arsyad Banjar, adalah salah satu penulis paling ksatria masa silam. Dengan gagah, Syeikh Arsyad mengakui, bahwa kitab yang ditulisnya, Masailal Muhtadin, merupakan lanjutan dari sebuah kitab yang berasal dari buah pikiran Nuruddin Ar-Raniry, yang berjudul Shiratal Mustaqim.

Pengakuan itu, bukan dibuat sekarang. Tapi bersamaan dengan penulisan kitab tersebut. Artinya, pengakuan itu sudah dibuat sejak kitab itu ditulis.

Mungkin, kita terbayang bagaimana beralunnya bahasa Masailal Muhtadin itu, yang seorang guru saya, Profesor Safwan Idris, menyebutkan karya tersebut memiliki bahasa yang sangat cepat dipahami.

“Pasal, jika kita ditanyai orang kita,” merupakan contoh awalan-awalan yang beralun itu. Sehingga orang Aceh yang pernah mendapatkan ilmu-ilmu agama dalam keseharian, umumnya teringat bahasa-bahasa Kitab Masailai itu.

Syahdan, tulisan ini tidak ingin memperbincangkan isi. Namun lebih kepada pengakuan jujur seorang penulis. Ini menandakan, dalam konsep menulis, menyebutkan dasar datangnya ide, sama sekali tidak merendahkan kualitas ide yang dikeluarkan.

Hal ini berbeda dengan sekarang, lalu lintas ide yang luar bisa intensif, namun pencurian ide banyak berlangsung. Dalam beberapa kelas menulis yang pernah saya ikuti, selalu dipesan agar ide tidak pernah diungkapkan kepada orang lain.

Apa yang saya dapat dari kelas menulis, ternyata berbeda dengan yang saya dapat dari seorang teman yang profesinya jurnalis. Sang teman itu berprinsip, tak ada persoalan ide diambil oleh orang lain, asalkan ide-ide yang ditulis itu akan bermanfaat bagi kemanusiaan dan agama.

Sesederhana apapun sebuah ide, ketika ia sudah menjadi kumpulan yang bisa dibaca, maka itu sudah ada manfaat. Ide-ide yang brilian, bila hanya sebagai lalu lintas, maka itu tidak bisa diambil manfaat.

Ada perbedaan pendapat. Sebagian penulis besar yang saya kenal, mengatakan tak menyebutkan sumber ide pun tak apa-apa, asal bukan mengutip. Namun ada juga penulis yang mengatakan bahwa ide sekalipun, kalau bukan murni dari kita, seyogianya disebutkan.

Ini menjadi catatan penting bagi penulis. Bahwa seperti yang saya sebutkan, menyebutkan sumber ide pun, tidak akan meruntuhkan kualitas tulisan. Maka seyogianya, menjadi terhormat bila sumber ide disebut.

Mungkin inilah yang difikirkan Syeikh Arsyad Banjar, yang merasa tak kalah hormatnya kalau pun menyebutkan ada hubungan dengan kitab yang lain.

Apa yang dilakukan tersebut, bisa jadi berbeda dengan beberapa penulis. Yang jelas ada perbedaan pendapat.

Tapi terlepas bagaimana perbedaan pendapat ini bisa muncul, sepertinya penting untuk menyebutkan sumber ide –dan itu, sekali lagi, sama sekali tak merendahkan kualitas sebuah gagasan yang disampaikan. Malah seringkali, orang yang dengan jujur menyebutkan sumber ide, karyanya jauh lebih besar mendapatkan apresiasi ketimbang yang tidak menyebutkan sumber ide.[ST]