HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 020607|
ILHAP
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ALAM konsep orang Aceh, ada pertanyaan, siapa sebenarnya yang dikatakan sebagai tidak waras? Pertanyaan ini bisa hadir tiba-tiba bila kita sering duduk di bale-bale gampong. Pembicaraan orang-orang yang dengan mudah disebut awam, biasanya menghadirkan waras dalam konsep yang berbeda. Konsep menurut mereka, bisa jadi berbeda dengan konsep menurut kita.

Di gampong, melihat persoalan ini, agak berbeda dengan kita yang kebanyakan, yang terdidik, yang intelektual. Pada saat bulan Puasa tiba, maka orang-orang gampong seperti bersepakat untuk menyebut ilhap untuk orang-orang yang tidak berpuasa. Logikanya, karena orang ilhap memang tidak wajib berpuasa.

Ilhap, dengan demikian, merupakan konsepsi tentang kewarasan. Ilhap, berarti tidak waras. Orang yang disebutkan sebagai ilhap, dianggap sedang mengindap sesuatu; teks atau konteks. Orang yang secara kesehatan dikatakan waras, tapi orang gampong akan menyebut ilhap bila terdapat perilakunya yang tak waras. Dengan demikian, perilaku tidak waras, bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang waras.

Demikian juga orang yang tidak sembahyang Jumat atau tidak sembahyang lima waktu, juga akan dikatakan ilhap bila tidak melakukannya. Menunaikan kewajiban adalah waras. Orang yang berusaha meninggalkan kewajiban, akan dianggap tidak waras.

Dalam hal ini, sebagai kenyataan Ketuhanan. Di samping orang ilhap juga disebut untuk orang-orang yang tidak mengindahkan keharusan kenyataan Kemanusiaan. Orang-orang yang membatasi hubungan dengan orang lain, dikatakan sebagai ilhap.

Berhubungan dengan orang lain, adalah prasyarat untuk tinggal bersama dalam satu gampong, satu jurong, dalam satu lingkungan. Tentu bila jalan ini tidak mau diakui, tentu saja harus memilih jalan hidup sendiri –di luar kehidupan bersama dengan orang lain. Hutan sekalipun, belum tentu bisa menjadi jawaban ini, karena secara alamiah, hewan dengan kebinatangannya pun, harus hidup berkelompok. Maka dikatakan ilhap bila mengingkari konsekuensi kemanusiaan.

Konsekuensi hidup bersama adalah mengikuti aturan dan nilai yang berlaku bersama; tertulis atau tidak tertulis. Orang-orang yang mengganggu orang lain, juga ilhap. Orang-orang yang mengganggu ketenangan, juga ilhap. Semua perilaku miring di sekitar kita, walau dilakukan oleh orang-orang sehat menurut medis, tapi bisa dikategorikan sebagai ilhap dalam konteks ini.

Itu keyakinan orang-orang gampong. Kalau seseorang yang dikatakan ilhap di seluruh gampong, biasanya akan malu dan memilih menghindar untuk beberapa waktu atau selamanya. Orang-orang yang disebut ilhap, secara naluriah akan sangat malu.

Bayangkan kalau orang ternyata ada yang bangga disebut ilhap. Berarti, kadaritas warasnya sedang bermasalah berlipat-lipat. Tingkat kesehatan rohaninya, sudah masuk dalam kategori kronis bin kritis.

Tak bisa dibayangkan, bila orang-orang seperti itu ternyata makin banyak dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Mereka merasa sangat bangga bila ada yang menyebutnya ilhap.

Dasar ilhap!(ST)