ORANG-orang
yang berprofesi sebagai pemotret, biasanya mengerti
persoalan image. Orang-orang yang memiliki
keahlian komputer, juga sangat mengerti persoalan
image ini. Dalam wilayah pekerjaan mereka, kata ini
begitu dekat posisinya. Terutama dalam hal gambar.
Dalam
masyarakat kota, kenyataan image akan berbeda
maknanya. Maka dikenallah yang namanya jaga image.
Disingkat dengan jaim. Cukup banyak orang yang
akan berkorban habis-habisan untuk menjaga image
ini.
Konteks
jaim, walau tak sama persis, mungkin som gasien
pulumah kaya. Tidak apa adanya. Untuk menampakkan
image yang baik, banyak orang yang rela mengeluarkan
banyak uang. Setelah tsunami pun, ada lembaga yang
menyediakan banyak uang untuk menjaga image,
ketimbang melaksanakan program.
Artinya
apa? Ternyata jaga image, sudah menjalar ke
gampong-gampong, ke jurong-jurong. Siapa yang
bawa? Entahlah. Mungkin dari orang gampong
sendiri yang akhir-akhir banyak yang sudah bolak-balik
ke kota dan ke luar negeri.
Orang-orang
yang punya pengalaman baru, akan menerapkan pengalaman
barunya di tempat asal. Som gasien pulumah kaya,
sebagai sebuah missal kini mulai menggejala. Padahal,
itulah kekayaan asli kita yang tidak mesti dibuang.
Sudah
seharusnya kita belajar untuk menyampaikan apa adanya.
Tidak perlu harus menyembunyikan dengan sekuat tenaga,
namun dengan itu, harus menjadi obat di kemudian hari.
Tapi
ternyata tidak. Orang yang berperilaku buruk pun akan
marah bila ada orang yang membongkar-bongkar sesuatu
yang negatif yang dilakukannya. Tapi itu berlebihan.
Dalam agama, orang hanya diminta-ingatkan. Bukan membuka
borok kalau tidak membawa kebaikan. Tapi buka-membuka
juga terkait dengan berbagai hal.
Buat apa
membongkar keburukan, kalau itu tidak bermanfaat bagi
masa depan kebaikan. Tapi dasar, pada kenyataannya ada
yang sengaja membuat buruk, bersamaan dengan kampanye
antikeburukan.
Baik atau
buruk adalah kuncinya. Ketika pemilihan kepala kampung,
buruk-memburukkan terjadi. Dalam wilayah politik,
namanya black compaign. Tidak kurang orang-orang
yang menjadi sasaran politik kampanye hitam lalu menjadi
pemenang dalam pemilihan.
Namun bukan
berarti orang-orang yang buruk kemudian tidak bisa
menjadi orang baik. Inilah masalahnya, karena
orang-orang yang baik ada juga yang kemudian menjadi
buruk.
Namanya
saja image. Ada orang yang mau mengeluarkan
sedemikian besar isi kantong untuk menjaga image
itu, agar berkesan baik. Kesan, sebagaimana sering kita
dengar, akan membawa godaan-godaan.
Sayangnya,
termasuk som gasien pulumah kaya.(ST)