HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 150707|
IMAGE
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ORANG-orang yang berprofesi sebagai pemotret, biasanya mengerti persoalan image. Orang-orang yang memiliki keahlian komputer, juga sangat mengerti persoalan image ini. Dalam wilayah pekerjaan mereka, kata ini begitu dekat posisinya. Terutama dalam hal gambar.

Dalam masyarakat kota, kenyataan image akan berbeda maknanya. Maka dikenallah yang namanya jaga image. Disingkat dengan jaim. Cukup banyak orang yang akan berkorban habis-habisan untuk menjaga image ini.

Konteks jaim, walau tak sama persis, mungkin som gasien pulumah kaya. Tidak apa adanya. Untuk menampakkan image yang baik, banyak orang yang rela mengeluarkan banyak uang. Setelah tsunami pun, ada lembaga yang menyediakan banyak uang untuk menjaga image, ketimbang melaksanakan program.

Artinya apa? Ternyata jaga image, sudah menjalar ke gampong-gampong, ke jurong-jurong. Siapa yang bawa? Entahlah. Mungkin dari orang gampong sendiri yang akhir-akhir banyak yang sudah bolak-balik ke kota dan ke luar negeri.

Orang-orang yang punya pengalaman baru, akan menerapkan pengalaman barunya di tempat asal. Som gasien pulumah kaya, sebagai sebuah missal kini mulai menggejala. Padahal, itulah kekayaan asli kita yang tidak mesti dibuang.

Sudah seharusnya kita belajar untuk menyampaikan apa adanya. Tidak perlu harus menyembunyikan dengan sekuat tenaga, namun dengan itu, harus menjadi obat di kemudian hari.

Tapi ternyata tidak. Orang yang berperilaku buruk pun akan marah bila ada orang yang membongkar-bongkar sesuatu yang negatif yang dilakukannya. Tapi itu berlebihan. Dalam agama, orang hanya diminta-ingatkan. Bukan membuka borok kalau tidak membawa kebaikan. Tapi buka-membuka juga terkait dengan berbagai hal.

Buat apa membongkar keburukan, kalau itu tidak bermanfaat bagi masa depan kebaikan. Tapi dasar, pada kenyataannya ada yang sengaja membuat buruk, bersamaan dengan kampanye antikeburukan.

Baik atau buruk adalah kuncinya. Ketika pemilihan kepala kampung, buruk-memburukkan terjadi. Dalam wilayah politik, namanya black compaign. Tidak kurang orang-orang yang menjadi sasaran politik kampanye hitam lalu menjadi pemenang dalam pemilihan.

Namun bukan berarti orang-orang yang buruk kemudian tidak bisa menjadi orang baik. Inilah masalahnya, karena orang-orang yang baik ada juga yang kemudian menjadi buruk.

Namanya saja image. Ada orang yang mau mengeluarkan sedemikian besar isi kantong untuk menjaga image itu, agar berkesan baik. Kesan, sebagaimana sering kita dengar, akan membawa godaan-godaan.

Sayangnya, termasuk som gasien pulumah kaya.(ST)