HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 170407|
JURNAL
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

UATU waktu, saya berkesempatan ikut pelatihan manajemen jurnal dan penulisan artikel ilmiah. Jurnal menjadi media penting di kampus untuk mempublikasikan karya-karya para intelektual. Karya yang dimuat di jurnal, bisa saja berbentuk hasil penelitian, bisa juga berbentuk ulasan dan artikel berdasarkan referensi pustaka. Yang jelas, dua bentuk itu berbeda.

Ada yang menarik dalam pelatihan tersebut, yakni masalah dana. Uang dipandang sebagai faktor utama banyak jurnal, yang akhirnya mati. Seperti orang yang selalu berfikir stres, maka akan stres, walau tak berat. Benarkan demikian?

Banyak pengelola penerbitan, merasakan hal yang sama. Namun bila melihat dalam kenyataan, alasan itu kurang masuk akal. Selama ini publikasi di jurnal hanya dipandang untuk memenuhi kebutuhan tertentu seperti nilai kenaikan pangkat. Kegunaan dari segi keilmuan untuk lingkungan yang lebih luas, kalau di tempat kita, jarang menjadi pilihan.

Sebagai prasyarat naik pangkat, banyak jurnal yang hanya dicetak pas-pasan. Kalau sudah diakreditasi, jurnal disyaratkan minimal 300 eksamplar. Entahlah kalau belum diakreditasi. Masih lumayan bila dicetak walau beberapa puluh saja, ketimbang seperti buku orang-orang tertentu yang ingin naik pangkat, hanya dicetak lima atau sepuluh buah saja. Kasihan!

Bayangkan, dengan jumlah cetakan 300, misalnya, lalu bandingkan dengan cetakan 1.000, berapa beda harganya. Tak jauh, otomatis berapa banyak dana yang bisa dihemat. Lagi pula dengan sekian jurnal yang dicetak, berapa persen yang bisa dibagi-bagikan kepada banyak orang.

Ini satu bentuk masalah. Lalu kemana distribusi jurnal dengan jumlah yang sekian itu? Tentu hanya di beberapa tempat saja. Tak banyak. Yang wajib ada untuk lembaga yang melakukan akreditasi, tentu saja. Ada pertanyaan, bagaimana komponen yang lebih luas bisa mengetahui pikiran-pikiran dari kampus dengan jumlah cetakan yang demikian. Penelitian apapun, tanpa publikasi, pada akhirnya seperti mati, tak berbuat apa-apa.

Kondisi ini harus dipermaklumkan bahwa ternyata publikasi ilmu pengetahuan tak hanya dilakukan untuk kepentingan terbatas. Bila itu yang terjadi, maka kesan menara gading tak bisa ditepis. Tapi ketika menyebar jurnal yang lebih luas, kembali ke persoalan dana yang minim.

Bahasa logisnya, kerap tak banyak penyandang dana untuk hal-hal yang begini. Namun tetap masalah, adakah jaminan bila dana banyak maka penyebaran ilmu pengetahuan akan berlangsung sampai ke gampong-gampong? Jawabannya, belum tentu.

Masalah jurnal, pada akhirnya tak hanya menyangkut masalah yang penting terbit dan ada semata. Ada masalah kualitas isi, kualitas cetakan, kualitas layout atau tata letak, sampul. Ini produk, maka harus dibuat semenarik mungkin agar orang tertarik.

Sebuah produk sederhana yang dikemas bagus akan nampak genit dan orang terangsang untuk (minimal) melihatnya. Ini kampanye. Sebaliknya, produk yang mewah sekalipun, bila tak dikemas dengan bagus, tidak akan dilirik orang.

Bila banyak orang yang mau melihat dan kemudian merasa penting dengan isi sebuah jurnal, maka itu akan dibutuhkan dan dibeli publik, semisal memuat hasil-hasil penelitian yang up to date. Bila ini berlangsung, publik butuh, jurnal bisa dijual lebih luas, karena orang-orang membutuhkan apa yang dipublikasikan di dalamnya.

Bila sudah memasuki pasar, sebuah jurnal tentu tak cukup hanya dengan tiras 300 eksamplar. Normal berlangsung keadaan seperti ini, bisa menjawab dua persoalan sekaligus: masalah dana untuk pengelolaan dan honorarium penulis yang bisa dibayar dengan layak-–bukan malah penulis yang membayar biaya cetak jurnal.

Yang lebih penting, banyak cetakan akan menyebarkan ilmu pengetahuan sampai ke gampong-gampong.[ST]