UATU
waktu, saya berkesempatan ikut pelatihan manajemen
jurnal dan penulisan artikel ilmiah. Jurnal menjadi
media penting di kampus untuk mempublikasikan
karya-karya para intelektual. Karya yang dimuat di
jurnal, bisa saja berbentuk hasil penelitian, bisa juga
berbentuk ulasan dan artikel berdasarkan referensi
pustaka. Yang jelas, dua bentuk itu berbeda.
Ada yang menarik
dalam pelatihan tersebut, yakni masalah dana. Uang
dipandang sebagai faktor utama banyak jurnal, yang
akhirnya mati. Seperti orang yang selalu berfikir stres,
maka akan stres, walau tak berat. Benarkan demikian?
Banyak pengelola
penerbitan, merasakan hal yang sama. Namun bila melihat
dalam kenyataan, alasan itu kurang masuk akal. Selama
ini publikasi di jurnal hanya dipandang untuk memenuhi
kebutuhan tertentu seperti nilai kenaikan pangkat.
Kegunaan dari segi keilmuan untuk lingkungan yang lebih
luas, kalau di tempat kita, jarang menjadi pilihan.
Sebagai prasyarat
naik pangkat, banyak jurnal yang hanya dicetak
pas-pasan. Kalau sudah diakreditasi, jurnal disyaratkan
minimal 300 eksamplar. Entahlah kalau belum
diakreditasi. Masih lumayan bila dicetak walau beberapa
puluh saja, ketimbang seperti buku orang-orang tertentu
yang ingin naik pangkat, hanya dicetak lima atau sepuluh
buah saja. Kasihan!
Bayangkan, dengan
jumlah cetakan 300, misalnya, lalu bandingkan dengan
cetakan 1.000, berapa beda harganya. Tak jauh, otomatis
berapa banyak dana yang bisa dihemat. Lagi pula dengan
sekian jurnal yang dicetak, berapa persen yang bisa
dibagi-bagikan kepada banyak orang.
Ini satu bentuk
masalah. Lalu kemana distribusi jurnal dengan jumlah
yang sekian itu? Tentu hanya di beberapa tempat saja.
Tak banyak. Yang wajib ada untuk lembaga yang melakukan
akreditasi, tentu saja. Ada pertanyaan, bagaimana
komponen yang lebih luas bisa mengetahui pikiran-pikiran
dari kampus dengan jumlah cetakan yang demikian.
Penelitian apapun, tanpa publikasi, pada akhirnya
seperti mati, tak berbuat apa-apa.
Kondisi ini harus
dipermaklumkan bahwa ternyata publikasi ilmu pengetahuan
tak hanya dilakukan untuk kepentingan terbatas. Bila itu
yang terjadi, maka kesan menara gading tak bisa ditepis.
Tapi ketika menyebar jurnal yang lebih luas, kembali ke
persoalan dana yang minim.
Bahasa logisnya,
kerap tak banyak penyandang dana untuk hal-hal yang
begini. Namun tetap masalah, adakah jaminan bila dana
banyak maka penyebaran ilmu pengetahuan akan berlangsung
sampai ke gampong-gampong? Jawabannya, belum
tentu.
Masalah jurnal,
pada akhirnya tak hanya menyangkut masalah yang penting
terbit dan ada semata. Ada masalah kualitas isi,
kualitas cetakan, kualitas layout atau tata
letak, sampul. Ini produk, maka harus dibuat semenarik
mungkin agar orang tertarik.
Sebuah produk
sederhana yang dikemas bagus akan nampak genit dan orang
terangsang untuk (minimal) melihatnya. Ini kampanye.
Sebaliknya, produk yang mewah sekalipun, bila tak
dikemas dengan bagus, tidak akan dilirik orang.
Bila banyak orang
yang mau melihat dan kemudian merasa penting dengan isi
sebuah jurnal, maka itu akan dibutuhkan dan dibeli
publik, semisal memuat hasil-hasil penelitian yang up
to date. Bila ini berlangsung, publik butuh, jurnal
bisa dijual lebih luas, karena orang-orang membutuhkan
apa yang dipublikasikan di dalamnya.
Bila sudah memasuki
pasar, sebuah jurnal tentu tak cukup hanya dengan tiras
300 eksamplar. Normal berlangsung keadaan seperti ini,
bisa menjawab dua persoalan sekaligus: masalah dana
untuk pengelolaan dan honorarium penulis yang bisa
dibayar dengan layak-–bukan malah penulis yang membayar
biaya cetak jurnal.
Yang lebih penting,
banyak cetakan akan menyebarkan ilmu pengetahuan sampai
ke gampong-gampong.[ST]