HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 140407|
KAPLAT
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SIANG itu, saya berjumpa dengan seorang teman lama. Amir, namanya. Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu. Lazimnya, sebuah pertemuan, terutama dengan teman-teman yang benar-benar dekat, tentu ada pelukannya. Apalagi, teman ini sudah lama tak jumpa.

Baru ada masalah kecil, ketika ada beberapa teman yang tak terlalu dekat melihat saya berpelukan dengan si Amir itu. Bagi orang yang berfikir negatif, akan merasa ada yang aneh dengan saya, apalagi saya yang belum kawin. Tapi orang yang berfikir positif, akan merasa dua manusia ini benar-benar sebagai sahabat sejati. Bayangkan, lama tak jumpa sampai berpeluk-pelukan.

Di antara itu, ada seorang yang berfikir negatif lain. Katanya, itu kan hanya sandiwara yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Orang itu ternyata sering kesetrum acara di berbagai televisi yang ia lihat, bahwa seseorang yang jumpa dengan orang lain, apabila di depan orang banyak, akan menampakkan baik kepada siapa saja.

Baik, kembali ke dasar-–kalau kata Tukul Arwana, kembali ke Laptop. Tak ada yang istimewa sebenarnya dari pertemuan kami itu. Hanya tiba-tiba saja, tak direncanakan, lalu kami bertemu, saling bicara, saling menanyakan kabar, dan tentu saja, saling menanyakan sudah kawin atau belum.

Namun, tiba-tiba ia menyebut kaplat. Suatu yang saya sudah jarang mendengar di gampong. Padahal, teman saya itu sudah lama tinggal di Jakarta dan saya sempat berfikir kapan ia punya kesempatan memikirkan hal-hal yang seperti ini.

Praduga saya ternyata salah. Sang teman tidak pernah membuang dasarnya. Ia masih mengingat berbagai pelajaran kehidupan yang berasal dari gampong, hingga walau ia sudah berwara-wiri ke banyak kota sekali pun, ia tidak pernah lupa akan berbagai khazanah gampong.

Memang, sebutan kaplat tak bisa dipastikan akan ingatannya pada kampung. Namun kami memang berbicara banyak hal. Selain perihal kaplat itu.

Nah, suatu waktu, ketika ia jalan-jalan di kota , ia mengatakan kaplat dan geuleugong. Ia yang sudah tinggal di Jakarta tidak habis pikir, ternyata di gampong juga sudah membumi ideologi kaplat. Tandanya, menurut dia, salah satunya, dapat dilihat di jalan raya, orang-orang sekitar kita yang sudah terlalu luar biasa menampakkan cinta kepada pasangannya.

Di atas kendaraan roda dua, berpasang-pasang dilihat orang berangkulan di jalan raya. Bahkan ada yang berpakaian sekolah. Fenomena ini, seperti menjadi sebentuk kebebasan yang di Jakarta saja, masih berlangsung alamiah.

Orang-orang di Jakarta saja sangat berbeda dengan di sini. Kalau di tempat kita, anak-anak muda saling memegang kemaluan di jalan raya juga seperti bukan suatu masalah.

Ternyata, masalah itu juga diakui teman saya itu sebagai sangat serius. Padahal ketika berada di kota besar, kehidupan mereka mungkin sudah terbuka ketimbang dengan gampong kita.

Hingga akhirnya, ia berfikir, jangan-jangan ia sendiri secara tanpa disadari sudah menjadi kaplat, karena mungkin ia merasa terlalu berlebihan. Entahlah![ST]