SIANG itu, saya
berjumpa dengan seorang teman lama. Amir, namanya. Tak
ada yang istimewa dari pertemuan itu. Lazimnya, sebuah
pertemuan, terutama dengan teman-teman yang benar-benar
dekat, tentu ada pelukannya. Apalagi, teman ini sudah
lama tak jumpa.
Baru ada masalah
kecil, ketika ada beberapa teman yang tak terlalu dekat
melihat saya berpelukan dengan si Amir itu. Bagi orang
yang berfikir negatif, akan merasa ada yang aneh dengan
saya, apalagi saya yang belum kawin. Tapi orang yang
berfikir positif, akan merasa dua manusia ini
benar-benar sebagai sahabat sejati. Bayangkan, lama tak
jumpa sampai berpeluk-pelukan.
Di antara itu,
ada seorang yang berfikir negatif lain. Katanya, itu kan
hanya sandiwara yang bisa dilakukan oleh siapa saja.
Orang itu ternyata sering kesetrum acara di berbagai
televisi yang ia lihat, bahwa seseorang yang jumpa
dengan orang lain, apabila di depan orang banyak, akan
menampakkan baik kepada siapa saja.
Baik, kembali ke
dasar-–kalau kata Tukul Arwana, kembali ke Laptop. Tak
ada yang istimewa sebenarnya dari pertemuan kami itu.
Hanya tiba-tiba saja, tak direncanakan, lalu kami
bertemu, saling bicara, saling menanyakan kabar, dan
tentu saja, saling menanyakan sudah kawin atau belum.
Namun, tiba-tiba
ia menyebut kaplat. Suatu yang saya sudah jarang
mendengar di gampong. Padahal, teman saya itu
sudah lama tinggal di
Jakarta
dan saya sempat berfikir kapan ia punya kesempatan
memikirkan hal-hal yang seperti ini.
Praduga saya
ternyata salah. Sang teman tidak pernah membuang
dasarnya. Ia masih mengingat berbagai pelajaran
kehidupan yang berasal dari gampong, hingga walau
ia sudah berwara-wiri ke banyak kota sekali pun, ia
tidak pernah lupa akan berbagai khazanah gampong.
Memang, sebutan
kaplat tak bisa dipastikan akan ingatannya pada
kampung. Namun kami memang berbicara banyak hal. Selain
perihal kaplat itu.
Nah, suatu
waktu, ketika ia jalan-jalan di kota , ia mengatakan
kaplat dan geuleugong. Ia yang sudah tinggal
di
Jakarta tidak habis pikir, ternyata di gampong
juga sudah membumi ideologi kaplat. Tandanya,
menurut dia, salah satunya, dapat dilihat di jalan raya,
orang-orang sekitar kita yang sudah terlalu luar biasa
menampakkan cinta kepada pasangannya.
Di atas
kendaraan roda dua, berpasang-pasang dilihat orang
berangkulan di jalan raya. Bahkan ada yang berpakaian
sekolah. Fenomena ini, seperti menjadi sebentuk
kebebasan yang di
Jakarta
saja, masih berlangsung alamiah.
Orang-orang di
Jakarta saja sangat berbeda dengan di sini. Kalau
di tempat kita, anak-anak muda saling memegang kemaluan
di jalan raya juga seperti bukan suatu masalah.
Ternyata,
masalah itu juga diakui teman saya itu sebagai sangat
serius. Padahal ketika berada di kota besar, kehidupan
mereka mungkin sudah terbuka ketimbang dengan gampong
kita.
Hingga akhirnya,
ia berfikir, jangan-jangan ia sendiri secara tanpa
disadari sudah menjadi kaplat, karena mungkin ia
merasa terlalu berlebihan. Entahlah![ST]