BANYAK
anak-anak di gampong yang selalu menunggu acara
film kartun di televisi. Sangat banyak program yang
menawarkan film-film kartun itu. Tersebutlah, misalnya,
Sinchan, Tom & Jerry, Mickey Mouse, Dora Emon, dan
sebagainya. Malah ada stasiun televisi yang sebagian
besar programnya adalah film kartun.
Hampir
semua televisi memiliki program ini. Ada yang dikemas
dalam wajah lama, juga ada yang sudah dikemas dengan
gaya baru seperti Mr. Bean yag di perankan Rowan
Atkinson.
Film
kartun, dengan demikian, tak lagi sebatas sebagai
konsumsi anak-anak. Karena pada kenyataannya, ada orang
tua yang menyukainya.
Film
kartun, seolah menyiratkan kepentingan bagaimana
seseorang agar bisa tertawa, sebagai bagian dari
ekspresi kesenangan. Katakanlah berawal dari kartun. Tom
& Jerry yang dikemas bagaimana seekor kucing dan tikus
bisa saling berteman, juga bisa saling berantam.
Orang-orang yang menonton dibuat untuk bisa tertawa dari
tingkah polah binatang yang dibanggakan itu.
Hal yang
sama terlihat dalam Sinchan, seorang anak bandel, yang
tiba-tiba digambarkan mengetahui segala persoalan; dari
makan sampai tidur, dari main-main sampai seks. Nah,
yang terakhir ini, menjadi pembayangan yang krusial
untuk dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur.
Dalam
film-film itu, kartun sengaja didesain sebagai sebuah
ruang hiburan bagi masyarakat secara global. Tak hanya
masyarakat Indonesia. Dora Emon adalah sebuah alih
bahasa dari gambaran masyarakat pembuatnya yang bukan
Indonesia. Demikian juga Sinchan dan Tom & Jerry.
Tidak ada
masalah bagi masyarakat yang menganggap itu bukan
masalah. Namun akan ada masalah ketika ada orang yang
mengganggap itu sebagai sebuah masalah. Umumnya, itu
lahir dari orang-orang yang hidup di gampong yang
sangat susah menjawab pertanyaan anak-anaknya sehabis
menonton film kartun.
Bayangkan
bila anak-anak di gampong, sehabis menonton film
kartun, lalu menanyakan kepada orang tuanya perihal
kekuatan tokoh kartun sangat hebat; atau masalah seks
yang didapat dari bincang-bincang dalam film kartun
Sinchan; dan berbagai macam yang semacamnya.
Ini adalah
masalah kegelisahan. Sangat sulit mereka bisa
menjelaskan secara jelas tentang berbagai hal oleh yang
dibayangkan masyarakat kota sebagai pembuat film. Ini
tentu tidak semua bisa sinergi, karena ada yang salah
dari pembayangan masyarakat komunitas yang satu terhadap
masyarakat dari komunitas yang lain.
Kartun,
adalah gambaran untuk lahirnya ekspresi gembira dan
kesenangan bagi yang menontonnya, bagi yang
mengetahuinya. Seseorang yang menonton kartun, diimpikan
untuk selalu tertawa dan menampakkan ekspresi
kesenangannya.
Tokoh dalam
kartun, tentu, adalah tokoh yang bisa menertawakan, yang
bisa membuat gembira orang-orang. Lantas, bagaimana
kalau tokoh kartun dibuat untuk mendeskreditkan agama
lain, suku lain, ras lain, etnis lain, dan sebagainya.
Bila ini dipahami, tentu, ini sudah termasuk SARA.
Sangat
tidak etis, ketika sebuah kartun dengan mengambil tokoh
yang menjadi panutan agama lain, suku lain, ras lain,
etnis lain, untuk menjadi bahan tertawaan bagi
masyarakat lain. Ini akan sangat menyakitkan bagi
masyarakat yang tokohnya dibuat sebagai bahan tertawaan.
Pembuat
film atau pembuat kartun, yang disebarkan, pastinya
cukup memahami ini. Artinya, ekspresi kebebasan
berpendapat, sah dilakukan, tapi tidak melukai hati
orang lain. Ekspresi kebebasan berpendapat, bagaimanapun,
mensyaratkan adanya penghormatan terhadap masyarakat
lainnya.
Ini konsep
kebebasan berpendapat. Jadi tak perlu memaksakan
kehendak, bahwa seolah-olah, ketika menyebut kebebasan
berpendapat, itu sama sekali tak berbatas. Lihatlah
konteksnya, hidup di gampong dan di kuta,
adalah beda. Seharusnya, menghormati perbedaan ini juga
sebagai bentuk dari ekspresi kebebasan berpendapat.
Hal ini
menjadi satu masalah dalam konsep utuh demokrasi. Semua
orang, selalu mengatasnamakan demokrasi, walau dengan
tingkah-polahnya, menyakitkan masyarakat lain yang juga
menyebut demokrasi. Seharusnya, masyarakat demokrasi,
tidak menyakitkan masyarakat lain yang juga menyebut
demokrasi. Hargai perbedaan pendapat tentang tafsir
demokrasi. Itulah perbedaan pendapat.
Kartun, menjadi sebentuk media untuk menyampaikan kata
demokrasi itu. Namun bila tokoh suci sebuah masyarakat
yang dijadikan tokoh kartun, maka itu akan menyakitkan.
Itu SARA. Itu antidemokrasi. Tapi masyarakat demokratis
sekalipun, ironisnya, pernah melakukan pekerjaan yang
menyesatkan itu: mengolok-olok tokoh masyaraka lain. Ya,
lewat kartun.[ST]