HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 270407|
KARTUN
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

BANYAK anak-anak di gampong yang selalu menunggu acara film kartun di televisi. Sangat banyak program yang menawarkan film-film kartun itu. Tersebutlah, misalnya, Sinchan, Tom & Jerry, Mickey Mouse, Dora Emon, dan sebagainya. Malah ada stasiun televisi yang sebagian besar programnya adalah film kartun.

Hampir semua televisi memiliki program ini. Ada yang dikemas dalam wajah lama, juga ada yang sudah dikemas dengan gaya baru seperti Mr. Bean yag di perankan Rowan Atkinson.

Film kartun, dengan demikian, tak lagi sebatas sebagai konsumsi anak-anak. Karena pada kenyataannya, ada orang tua yang menyukainya.

Film kartun, seolah menyiratkan kepentingan bagaimana seseorang agar bisa tertawa, sebagai bagian dari ekspresi kesenangan. Katakanlah berawal dari kartun. Tom & Jerry yang dikemas bagaimana seekor kucing dan tikus bisa saling berteman, juga bisa saling berantam. Orang-orang yang menonton dibuat untuk bisa tertawa dari tingkah polah binatang yang dibanggakan itu.

Hal yang sama terlihat dalam Sinchan, seorang anak bandel, yang tiba-tiba digambarkan mengetahui segala persoalan; dari makan sampai tidur, dari main-main sampai seks. Nah, yang terakhir ini, menjadi pembayangan yang krusial untuk dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur.

Dalam film-film itu, kartun sengaja didesain sebagai sebuah ruang hiburan bagi masyarakat secara global. Tak hanya masyarakat Indonesia. Dora Emon adalah sebuah alih bahasa dari gambaran masyarakat pembuatnya yang bukan Indonesia. Demikian juga Sinchan dan Tom & Jerry.

Tidak ada masalah bagi masyarakat yang menganggap itu bukan masalah. Namun akan ada masalah ketika ada orang yang mengganggap itu sebagai sebuah masalah. Umumnya, itu lahir dari orang-orang yang hidup di gampong yang sangat susah menjawab pertanyaan anak-anaknya sehabis menonton film kartun.

Bayangkan bila anak-anak di gampong, sehabis menonton film kartun, lalu menanyakan kepada orang tuanya perihal kekuatan tokoh kartun sangat hebat; atau masalah seks yang didapat dari bincang-bincang dalam film kartun Sinchan; dan berbagai macam yang semacamnya.

Ini adalah masalah kegelisahan. Sangat sulit mereka bisa menjelaskan secara jelas tentang berbagai hal oleh yang dibayangkan masyarakat kota sebagai pembuat film. Ini tentu tidak semua bisa sinergi, karena ada yang salah dari pembayangan masyarakat komunitas yang satu terhadap masyarakat dari komunitas yang lain.

Kartun, adalah gambaran untuk lahirnya ekspresi gembira dan kesenangan bagi yang menontonnya, bagi yang mengetahuinya. Seseorang yang menonton kartun, diimpikan untuk selalu tertawa dan menampakkan ekspresi kesenangannya.

Tokoh dalam kartun, tentu, adalah tokoh yang bisa menertawakan, yang bisa membuat gembira orang-orang. Lantas, bagaimana kalau tokoh kartun dibuat untuk mendeskreditkan agama lain, suku lain, ras lain, etnis lain, dan sebagainya. Bila ini dipahami, tentu, ini sudah termasuk SARA.

Sangat tidak etis, ketika sebuah kartun dengan mengambil tokoh yang menjadi panutan agama lain, suku lain, ras lain, etnis lain, untuk menjadi bahan tertawaan bagi masyarakat lain. Ini akan sangat menyakitkan bagi masyarakat yang tokohnya dibuat sebagai bahan tertawaan.

Pembuat film atau pembuat kartun, yang disebarkan, pastinya cukup memahami ini. Artinya, ekspresi kebebasan berpendapat, sah dilakukan, tapi tidak melukai hati orang lain. Ekspresi kebebasan berpendapat, bagaimanapun, mensyaratkan adanya penghormatan terhadap masyarakat lainnya.

Ini konsep kebebasan berpendapat. Jadi tak perlu memaksakan kehendak, bahwa seolah-olah, ketika menyebut kebebasan berpendapat, itu sama sekali tak berbatas. Lihatlah konteksnya, hidup di gampong dan di kuta, adalah beda. Seharusnya, menghormati perbedaan ini juga sebagai bentuk dari ekspresi kebebasan berpendapat.

Hal ini menjadi satu masalah dalam konsep utuh demokrasi. Semua orang, selalu mengatasnamakan demokrasi, walau dengan tingkah-polahnya, menyakitkan masyarakat lain yang juga menyebut demokrasi. Seharusnya, masyarakat demokrasi, tidak menyakitkan masyarakat lain yang juga menyebut demokrasi. Hargai perbedaan pendapat tentang tafsir demokrasi. Itulah perbedaan pendapat.

Kartun, menjadi sebentuk media untuk menyampaikan kata demokrasi itu. Namun bila tokoh suci sebuah masyarakat yang dijadikan tokoh kartun, maka itu akan menyakitkan. Itu SARA. Itu antidemokrasi. Tapi masyarakat demokratis sekalipun, ironisnya, pernah melakukan pekerjaan yang menyesatkan itu: mengolok-olok tokoh masyaraka lain. Ya, lewat kartun.[ST]