NAK-anak
sekarang, menurut sebagian orang, sudah tidak seperti
ketika masa kita masih sebagai anak-anak. Anak-anak
sekarang banyak kemauannya, dan kita sering memenuhinya
dengan tanpa pertimbangan.
Anak-anak
yang batat muncul di mana-mana. Ada peuleurong
orang tua juga. Bila ada anak yang berkelahi,
kadang-kadang orang tua juga ikut berkelahi. Padahal
seperti banyak anak-anak, kasusnya dimulai dari hal-hal
yang sepele, yang tak seharusnya ada perkelahian.
Orang-orang
yang sudah dewasa sekalipun ada yang berkelahi. Itu
dapat dimengerti sebagai orang tua yang memiliki jiwa
seperti anak-anak. Kadang-kadang masalah sepele, bisa
jadi masalah besar dalam kehidupan sosial masyarakat.
Orang tua
yang berkelahi, secara tidak langsung, merupakan
pengajaran agar anaknya juga berkelahi. Biasanya,
rekaman yang dilihat langsung akan mudah diingat,
ketimbang mendapatkan pengetahuan yang tidak langsung.
Selebihnya,
tuntutan materil dari seorang anak, kadangkala dituntut
secara berlebihan. Entah sadar atau tidak. Anak-anak
sangat jarang mendapat apa yang seharusnya lewat proses
yang rasional.
Kita cukup
sering tidak bisa memberi adil pada diri sendiri.
Apalagi yang menyangkut dengan orang lain. Saya ingin
mengisahkan betapa banyak orang tua yang berharap
anaknya mendapat nilai maksimal di sekolahnya, tanpa
ingin tahu proses yang harus dilalui.
Seorang
anak yang tiba-tiba di buku rapornya tertera banyak
angka sembilan, dalam sekejap kita akan memenuhi segala
permintaannya untuk membeli sepeda baru atau motor
kecil. Hadiah yang mampu kita berikan, langsung kita
berikan. Kita akan menyisihkan sebagian pendapatan untuk
itu.
Saya
terperanjat, ketika seorang Aceh, doktor lulusan Jerman,
dalam satu kesempatan mengingatkan, betapa orang Aceh
sangat kurang berterima kasih kepada anaknya yang
memiliki sifat kejujuran.
Seorang
anak yang kita suruh membeli sesuatu dengan duit besar
dan ia mengembalikan setulusnya uang yang lebih dari
harga pembelian itu, maka sangat jarang terdengar ucapan
terima kasih dari kita. Seperti berat, padahal itu
kata-kata yang sederhana.
Ada hal
lain yang sering dipaksakan para orang tua, seputar
masalah “birahi” kemauan kita. Seorang anak, umumnya
kita mengharapkan untuk mengikuti kemauan kita, padahal
pilihan ilmu adalah kemampuan.
Dalam
lingkup yang lebih luas, anak adalah milik dunia, bukan
milik kita, walau lahir melalui kita. Kita hanya patut
menjaganya agar tak salah jalan dan langkah.
Banyak
orang yang memaksakan anak untuk memilih profesi yang
sebetulnya tidak ia senangi. Tapi karena kita senang,
maka seperti ada keharusan anak untuk mengikutinya.
Ironisnya, ukuran-ukuran itu umumnya sangat materil,
menyangkut dengan klaim sejauhmana potensi berkecukupan
dalam hidup.
Bukan yang
lain. Padahal pilihan seperti itu, tak selalu berarti
itu sebentuk kasih yang kita berikan kepada anak-anak
kita.[ST]