HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 270507|
KASIH
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

NAK-anak sekarang, menurut sebagian orang, sudah tidak seperti ketika masa kita masih sebagai anak-anak. Anak-anak sekarang banyak kemauannya, dan kita sering memenuhinya dengan tanpa pertimbangan.

Anak-anak yang batat muncul di mana-mana. Ada peuleurong orang tua juga. Bila ada anak yang berkelahi, kadang-kadang orang tua juga ikut berkelahi. Padahal seperti banyak anak-anak, kasusnya dimulai dari hal-hal yang sepele, yang tak seharusnya ada perkelahian.

Orang-orang yang sudah dewasa sekalipun ada yang berkelahi. Itu dapat dimengerti sebagai orang tua yang memiliki jiwa seperti anak-anak. Kadang-kadang masalah sepele, bisa jadi masalah besar dalam kehidupan sosial masyarakat.

Orang tua yang berkelahi, secara tidak langsung, merupakan pengajaran agar anaknya juga berkelahi. Biasanya, rekaman yang dilihat langsung akan mudah diingat, ketimbang mendapatkan pengetahuan yang tidak langsung.

Selebihnya, tuntutan materil dari seorang anak, kadangkala dituntut secara berlebihan. Entah sadar atau tidak. Anak-anak sangat jarang mendapat apa yang seharusnya lewat proses yang rasional.

Kita cukup sering tidak bisa memberi adil pada diri sendiri. Apalagi yang menyangkut dengan orang lain. Saya ingin mengisahkan betapa banyak orang tua yang berharap anaknya mendapat nilai maksimal di sekolahnya, tanpa ingin tahu proses yang harus dilalui.

Seorang anak yang tiba-tiba di buku rapornya tertera banyak angka sembilan, dalam sekejap kita akan memenuhi segala permintaannya untuk membeli sepeda baru atau motor kecil. Hadiah yang mampu kita berikan, langsung kita berikan. Kita akan menyisihkan sebagian pendapatan untuk itu.

Saya terperanjat, ketika seorang Aceh, doktor lulusan Jerman, dalam satu kesempatan mengingatkan, betapa orang Aceh sangat kurang berterima kasih kepada anaknya yang memiliki sifat kejujuran.

Seorang anak yang kita suruh membeli sesuatu dengan duit besar dan ia mengembalikan setulusnya uang yang lebih dari harga pembelian itu, maka sangat jarang terdengar ucapan terima kasih dari kita. Seperti berat, padahal itu kata-kata yang sederhana.

Ada hal lain yang sering dipaksakan para orang tua, seputar masalah “birahi” kemauan kita. Seorang anak, umumnya kita mengharapkan untuk mengikuti kemauan kita, padahal pilihan ilmu adalah kemampuan.

Dalam lingkup yang lebih luas, anak adalah milik dunia, bukan milik kita, walau lahir melalui kita. Kita hanya patut menjaganya agar tak salah jalan dan langkah.

Banyak orang yang memaksakan anak untuk memilih profesi yang sebetulnya tidak ia senangi. Tapi karena kita senang, maka seperti ada keharusan anak untuk mengikutinya. Ironisnya, ukuran-ukuran itu umumnya sangat materil, menyangkut dengan klaim sejauhmana potensi berkecukupan dalam hidup.

Bukan yang lain. Padahal pilihan seperti itu, tak selalu berarti itu sebentuk kasih yang kita berikan kepada anak-anak kita.[ST]