DALAM
bidang kesehatan, gampong kita seperti sedang
banyak kasus. Berbagai masalah yang menimpa orang-orang,
dari hari ke hari makin banyak. Belum selesai satu
kasus, timbul kasus lainnya.
Kasus flu
burung (avian influenza) dan kasus formalin,
adalah dua kasus berbeda. Akhir-akhir ini, kasus itu
kembali menggusar kita. Padahal, porak-poranda karena
tsunami saja belum semua orang bisa berbenah, walau
sudah lebih dua tahun. Kasus terbaru di Aceh itu seolah
memberi tanda bahwa masih perlu banyak usaha untuk
memberi makna hidup bagi sesama.
Saat
seperti inilah, sepertinya kemampuan kita sedang diuji.
Dalam berbagai bencana, kita padahal selalu mendapat
tanda bahwa banyak hal yang harus diperbaiki. Namun pada
kenyataannya, kekhilafan (entah benar itu khilaf) selalu
terjadi. Selalu berulang.
Selalu
saja, saat ada bencana, kita baru bergerak. Itu pun
masih terhambat di sana-sini. Saat ancaman kematian
membuncah, kita juga masih disibuki terlebih dahulu
dengan pembentukan panitia, teken kanan-kiri, rumuskan
anggaran, baru bergerak. Padahal, kasus serupa yang
terjadi di seluruh Indonesia dengan pemberitaan yang
luar biasa, seharusnya sudah membuat kita bersiap-siap.
Sudah
seharusnya pemerintah, ketika terjadi kasus di daerah
lain, harus sudah menyiapkan berbagai hal untuk
antisipasi. Para intelektual, seharusnya sudah memiliki
semacam hasil survei, atau malah hasil penelitian secara
mendalam dan konkret tentang berbagai kemungkinan
mewabahnya penyakit.
Demikian
juga mereka yang bergerak di bidang kesehatan (entah itu
pemerintah atau nonpemerintah), seharusnya sudah selesai
melaksanakan penyuluhan untuk masyarakat dan kawasan
yang berpotensi terjangkit.
Demikian
juga media. Menurut saya, media juga harus lebih
responsif untuk melakukan reportase langsung ke
lapangan, lalu melakukan cek ulang ke pihak yang
berwenang. Salah satu kekurangan media dalam kasus ini,
adalah lebih menonjolkan laporan para pihak sebagai
sumber utama ketimbang kajian lapangan yang dominan
berada sebagai sumber kedua.
Komunikasi
ini saya kira belum terbangun. Semua orang mengatakan
tugasnya sudah dilakukan. Para orang yang bertanggung
jawab, misalnya, lebih condong asal mengeluarkan
komentar ketimbang menurunkan tim yang benar-benar
memiliki kapasitas ke lapangan, melihat secara langsung,
kaji secara mendalam.
Selama ini
yang terjadi, jauh dari harapan seperti itu.
Seolah-olah, semua hal lalu menjadi kepentingan politik
masing-masing. Akhirnya lebih banyak berbicara daripada
berbuat.
Untuk
sekelas wabah flu burung yang nyatanya sangat
membahayakan, fenomena seperti itu seharusnya dihindari.
Bahasa kasarnya, janganlah bermain-main dengan sesuatu
yang sangat membahayakan nyawa manusia.
Saya kira
saat seperti ini pula diuji, dengan gerak secepat kilat
agar bisa menghasilkan hasil penelitian yang up to
date. Lalu mengambil tindakan yang cepat dan tepat.
Inilah pentingnya kapasitas seseorang pemegang jabatan
tertentu, yang sering dikatakan pejabat yang berwenang.
Kalau tidak mampu seperti itu, berarti ada yang salah
dengan penempatan.
Dalam kasus
formalin demikian juga. Jangan sampai seperti kata orang
tua kita dulu, pula lada watee trok Belanda (tanam
lada waktu sampai Belanda). Itu akan terlambat.
Bayangkan, lada baru ditanam saat Belanda yang mau
membeli sudah sampai ke tempat kita.
Tamsil itu
sangat bermakna untuk kita dalam memberi makna bagi
hidup sesama. Apalagi di Aceh banyak orang yang masih
sedang menuntaskan banyak beban hidupnya.
Kasus
formalin menjadi ibrah bagi kasus lain yang mungkin saja
hadir. Badan berwenang sudah seharusnya untuk meneliti
segala sesuatu sebelum orang lain menemukannya. Para
intelektual juga harus selalu mencium kelainan-kelainan
dalam masyarakat. Inilah hakikatnya pengabdian.
Di Aceh
sekarang cukup banyak elemen untuk mendeteksi segala
keganjilan. Banyak lembaga yang memiliki peralatan
canggih di sini. Seharusnya itu bisa dioptimalkan peran
agar masyarakat terbebas dari segala gelisah.
Di sebagian
kawasan, sudah muncul kasus lain, orang meninggal
tiba-tiba. Ini membuat gelisah berlipat-lipat.[ST]