SHALAT,
akan menjauhkan perilaku yang keji dan mungkar. Lewat
ibadah itu, orang akan berdisiplin. Lima kali sehari,
secara rutin, yang di dalamnya berisi
peringatan-peringatan, renungan-renungan, doa-doa,
harapan-harapan, pengakuan-pengakuan. Shalat, intinya
doa.
Seseorang
yang bershalat, seyogianya tahu doa-doa apa yang
disampaikan: Ya, Allah, hidupku, rezekiku, matiku, semua
kuserahkan pada-Mu, Allah penguasa alam. Lalu bagaimana
bila orang yang melaksanakan shalat tak tahu doa-doa
seperti itu yang di dalam shalat.
Sebagai
sebuah doa, kita meminta dengan setulus hati sambil
berusaha. Doa tanpa usaha, sama saja. Ya gani, ya
gani, tiek peng saboh guni. Sedangkan dalam agama
tidak boleh seperti itu.
Dalam
shalat, kita meyakini kekuasaan Tuhan melebihi segala-galanya.
Tidak ada kekuasaan yang lain. Kekuasaan untuk meminta
terletak pada Allah, bukan pada elite politik atau
pimpinan.
Orang-orang
yang menjadi pemimpin adalah pengemban amanah.
Seyogianya, karena itu sebagai amanah tidak ada
kejar-mengejar jabatan. Seharusnya tidak ada yang
kejar-mengejar amanah.
Seharusnya
tidak perlu ada perhitungan rugi-laba untuk mendapatkan
jabatan: mengeluarkan sejumlah ini untuk kampanye, akan
mendapatkan sejumlah itu saat mendapatkan jabatan. Tidak
perlu, karena itu zalim.
Melalui
shalat, kita meyakini bahwa jalan rezeki itu hanya dari
Tuhan, bukan dari yang lain. Kita bisa makan atau tidak,
tentu tidak tergantung dari orang-orang tertentu dan
kantoran, apalagi dari bantuan untuk korban tsunami.
Namun jalan rezeki berkaitan dengan ikhtiar kita sebagai
manusia.
Semua itu,
kita ucapkan melalui shalat. Kita selalu berucap dalam
shalat, hidup-mati, semata-mata hanya kekuasaan Allah
semata. Tidak pada yang lain. Takut kepada sesama
manusia, pada dasarnya menghambakan diri pada sesama
manusia. Hamba-menghamba, akan menjerumuskan kita kepada
sikap menduakan kekuasaan yang sebenarnya.
Semua
ucapan dalam shalat, hanya bagi yang sungguh-sungguh
saja yang akan menjauhkan dirinya dari perbuatan yang
keji dan mungkar. Kalau orang yang tidak
sungguh-sungguh, maka tidak akan ada yang berubah.
Lihatlah, orang-orang yang sudah dihukum karena mencuri
harta rakyat, juga shalat. Artinya, kemungkaran masih
ada. Shalat, dalam makna ini, hanya menjadi rutinitas
semata, tanpa berpengaruh pada perilaku yang
sesungguhnya. Orang-orang yang seperti ini, akan dihukum
dua kali karena berulang-ulang melakukan kejahatan di
hadapan Tuhan. Kejahatan karena mengingkari doa yang
dipanjatkan, seterusnya kejahatan karena melakukan
kemungkaran.(ST)