HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 080707|
KEJI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SHALAT, akan menjauhkan perilaku yang keji dan mungkar. Lewat ibadah itu, orang akan berdisiplin. Lima kali sehari, secara rutin, yang di dalamnya berisi peringatan-peringatan, renungan-renungan, doa-doa, harapan-harapan, pengakuan-pengakuan. Shalat, intinya doa.

Seseorang yang bershalat, seyogianya tahu doa-doa apa yang disampaikan: Ya, Allah, hidupku, rezekiku, matiku, semua kuserahkan pada-Mu, Allah penguasa alam. Lalu bagaimana bila orang yang melaksanakan shalat tak tahu doa-doa seperti itu yang di dalam shalat.

Sebagai sebuah doa, kita meminta dengan setulus hati sambil berusaha. Doa tanpa usaha, sama saja. Ya gani, ya gani, tiek peng saboh guni. Sedangkan dalam agama tidak boleh seperti itu.

Dalam shalat, kita meyakini kekuasaan Tuhan melebihi segala-galanya. Tidak ada kekuasaan yang lain. Kekuasaan untuk meminta terletak pada Allah, bukan pada elite politik atau pimpinan.

Orang-orang yang menjadi pemimpin adalah pengemban amanah. Seyogianya, karena itu sebagai amanah tidak ada kejar-mengejar jabatan. Seharusnya tidak ada yang kejar-mengejar amanah.

Seharusnya tidak perlu ada perhitungan rugi-laba untuk mendapatkan jabatan: mengeluarkan sejumlah ini untuk kampanye, akan mendapatkan sejumlah itu saat mendapatkan jabatan. Tidak perlu, karena itu zalim.

Melalui shalat, kita meyakini bahwa jalan rezeki itu hanya dari Tuhan, bukan dari yang lain. Kita bisa makan atau tidak, tentu tidak tergantung dari orang-orang tertentu dan kantoran, apalagi dari bantuan untuk korban tsunami. Namun jalan rezeki berkaitan dengan ikhtiar kita sebagai manusia.

Semua itu, kita ucapkan melalui shalat. Kita selalu berucap dalam shalat, hidup-mati, semata-mata hanya kekuasaan Allah semata. Tidak pada yang lain. Takut kepada sesama manusia, pada dasarnya menghambakan diri pada sesama manusia. Hamba-menghamba, akan menjerumuskan kita kepada sikap menduakan kekuasaan yang sebenarnya.

Semua ucapan dalam shalat, hanya bagi yang sungguh-sungguh saja yang akan menjauhkan dirinya dari perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau orang yang tidak sungguh-sungguh, maka tidak akan ada yang berubah.

Lihatlah, orang-orang yang sudah dihukum karena mencuri harta rakyat, juga shalat. Artinya, kemungkaran masih ada. Shalat, dalam makna ini, hanya menjadi rutinitas semata, tanpa berpengaruh pada perilaku yang sesungguhnya. Orang-orang yang seperti ini, akan dihukum dua kali karena berulang-ulang melakukan kejahatan di hadapan Tuhan. Kejahatan karena mengingkari doa yang dipanjatkan, seterusnya kejahatan karena melakukan kemungkaran.(ST)