SEPERTI ada nuansa berbeda, ketika
seseorang menyebut kiss untuk mengatakan ciuman.
Sama seperti ketika seseorang ditanyakan sudah kawin
atau belum, dengan menggunakan kata married.
Namun, ciuman adalah masalah yang
sudah cukup dekat. Tontonan-tontonan, dalam 24 jam,
sebagian besar dihabiskan dengan adegan-adegan ciuman
dan ranjang. Adegan-adegan yang menyedihkan disiarkan
televisi, bukan saja di waktu-waktu yang sepi dari
jadwal tayang anak-anak. Sejak bangun pagi, begitu mata
terbelalak, televisi sudah menghadirkan adegan-adegan
yang tidak seharusnya.
Tapi ada masalah ratting.
Sebuah lembaga produksi akan mengejar berapa persen
keuntungan dari total biaya yang dikeluarkan. Hasil dari
produksi-produksi, menghadirkan
pula
banyak bintang pujaan, yang bagi sebagian orang,
bintang-bintang sudah diposisikan layaknya Tuhan.
Ini adalah masalah ciuman yang tidak
halal. Dalam kehidupan muda di nanggroe kita, itu
bukan lagi sesuatu yang asing. Banyak anak muda yang
sudah berani dengan terang-terangan memeluk pacarnya di
muka umum. Menyedihkan.
Orang-orang sedang sibuk dengan
urusannya sendiri, sehingga hampir tak ada waktu untuk
mengontrol generasinya. Anak-anak seperti hidup sendiri.
Lokasi-lokasi maksiat baru bertebaran. Maksiat dalam
kehidupan kita, diakui atau tidak, masih didominasi oleh
kepentingan para birahi.
Hasrat birahi dengan warna-warna baru
menjadi fenomena menarik akhir-akhir ini. Seseorang yang
bermesum tak sungkan menceritakan kisahnya seperti
sebuah kisah cerita porno. Belum lagi
penangkapan-penangkapan yang dilakukan di banyak tempat
di sekitar kita: mobil mewah, gedung megah, semak-semak,
hingga dalam kandang binatang.
Banyaknya kasus mesum, sudah
seyogianya membuat kita berinstrospeksi untuk melakukan
pemetaan-pemetaan di mana ada kesalahan mendidik
generasi. Tak terlalu penting untuk mempertahankan bahwa
tanah ini masih suci, sementara di tanah kita atau
bahkan di dalam rumah kita, orang-orang menyalurkan
nafsu birahinya dengan cara tidak sah.
Orang-orang yang berusia muda
terlihat dominan memperlihatkan tingkahnya. Entah siapa
yang salah. Yang jelas, fenomena menggelisahkan terus
saja terjadi. Bukan hanya anak-anak orang awam,
anak-anak dari yang dianggap tokoh pun pernah kedapatan
berbuat hal yang menjijikkan.
Tapi orang seperti tak bisa membaca
tanda-tanda. Alam sudah mengabarkan banyak hal dalam
kehidupan kita. Tapi perilaku miring belum pernah
berhenti. Perilaku-perilaku miring malah sudah hadir
dengan bentuk-bentuknya yang baru lewat pesta pora yang
diketahui secara jelas oleh banyak orang.
Siapa yang mau kita salahkan?[ST]