HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 240407|
KISS
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

SEPERTI ada nuansa berbeda, ketika seseorang menyebut kiss untuk mengatakan ciuman. Sama seperti ketika seseorang ditanyakan sudah kawin atau belum, dengan menggunakan kata married.

Namun, ciuman adalah masalah yang sudah cukup dekat. Tontonan-tontonan, dalam 24 jam, sebagian besar dihabiskan dengan adegan-adegan ciuman dan ranjang. Adegan-adegan yang menyedihkan disiarkan televisi, bukan saja di waktu-waktu yang sepi dari jadwal tayang anak-anak. Sejak bangun pagi, begitu mata terbelalak, televisi sudah menghadirkan adegan-adegan yang tidak seharusnya.

Tapi ada masalah ratting. Sebuah lembaga produksi akan mengejar berapa persen keuntungan dari total biaya yang dikeluarkan. Hasil dari produksi-produksi, menghadirkan pula banyak bintang pujaan, yang bagi sebagian orang, bintang-bintang sudah diposisikan layaknya Tuhan.

Ini adalah masalah ciuman yang tidak halal. Dalam kehidupan muda di nanggroe kita, itu bukan lagi sesuatu yang asing. Banyak anak muda yang sudah berani dengan terang-terangan memeluk pacarnya di muka umum. Menyedihkan.

Orang-orang sedang sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga hampir tak ada waktu untuk mengontrol generasinya. Anak-anak seperti hidup sendiri. Lokasi-lokasi maksiat baru bertebaran. Maksiat dalam kehidupan kita, diakui atau tidak, masih didominasi oleh kepentingan para birahi.

Hasrat birahi dengan warna-warna baru menjadi fenomena menarik akhir-akhir ini. Seseorang yang bermesum tak sungkan menceritakan kisahnya seperti sebuah kisah cerita porno. Belum lagi penangkapan-penangkapan yang dilakukan di banyak tempat di sekitar kita: mobil mewah, gedung megah, semak-semak, hingga dalam kandang binatang.

Banyaknya kasus mesum, sudah seyogianya membuat kita berinstrospeksi untuk melakukan pemetaan-pemetaan di mana ada kesalahan mendidik generasi. Tak terlalu penting untuk mempertahankan bahwa tanah ini masih suci, sementara di tanah kita atau bahkan di dalam rumah kita, orang-orang menyalurkan nafsu birahinya dengan cara tidak sah.

Orang-orang yang berusia muda terlihat dominan memperlihatkan tingkahnya. Entah siapa yang salah. Yang jelas, fenomena menggelisahkan terus saja terjadi. Bukan hanya anak-anak orang awam, anak-anak dari yang dianggap tokoh pun pernah kedapatan berbuat hal yang menjijikkan.

Tapi orang seperti tak bisa membaca tanda-tanda. Alam sudah mengabarkan banyak hal dalam kehidupan kita. Tapi perilaku miring belum pernah berhenti. Perilaku-perilaku miring malah sudah hadir dengan bentuk-bentuknya yang baru lewat pesta pora yang diketahui secara jelas oleh banyak orang.

Siapa yang mau kita salahkan?[ST]