I
jalan-jalan umum di Banda Aceh, kekacauan sudah
terlihat. Pengemudi, sebagiannya sudah “miring”.
Ugal-ugalan sering terlihat di jalan raya, sehingga ada
ungkapan: jalan raya menjadi salah satu sebab
“tercabutnya” nyawa manusia. Banyak orang yang sudah
berakhir hidupnya di sana.
Orang-orang
mulai tidak sabar dalam menggunakan jalan raya, sehingga
yang timbul adalah orang-orang akan langsung menerobos
bila sedikit macet. Tidak sabar lagi menunggu dan
bergerak seperti air yang mengikuti alur. Entah
bagaimana kalau seandainya tingkat kemacetan Banda Aceh
sudah sebanding dengan kemacetan di Jakarta. Mungkin
akan banyak orang yang akan berantam, rebut, saling
bersangar wajah karena ingin menggunakan jalan lebih
dulu.
Ketidaksabaran ini, di Kota Banda Aceh, masih ditambah
lagi dengan lokasi parkir di sembarang tempat.
Jalan-jalan utama, tiba-tiba sudah menjadi lahan parkir
yang bisa menghabiskan sampai dua pertiga bagian
jalannya. Lihatlah jalan-jalan di Banda Aceh, bagaimana
kacaunya sekarang. Mobil-mobil berbadan lebar pun masuk
ke segala pelosok yang seharusnya hanya bisa dimasuki
untuk jenis-jenis kendaraan tertentu saja. Ini
persoalan, ketika ada yang menganggap kota ini sebagai
kota yang tidak lagi memiliki aturan dan tata krama.
Setiap
lampu traffic harus selalu dijaga lalu lintas,
karena orang-orang yang tidak sabar akan langsung
menerobos. Padahal dalam konteks sosial, ketika lampu
merah sedang menyala, maka sesungguhnya kita harus
menunaikan kewajiban untuk membiarkan orang lain yang
mendapat lampu hijau untuk lewat.
Seharusnya,
gampong kita yang berbudaya dan Islami, tidak
akan membiarkan perilaku-perilaku yang asosial itu
mengemuka. Toh lampu traffic bukan untuk polisi
lalu lintas, maka seharusnya tidak perlu dijaga. Sebagai
pemakai jalan, seharusnya ada kesadaran bahwa keegoan
dalam memakai jalan tidak boleh ada.
Itu baru
satu kekacauan. Masih ada kekacauan lain di jalan raya,
yaitu bunyi klakson. Sedikit macet, mungkin karena suatu
sebab, maka para pengemudi akan berlomba-lomba memencet
klakson kendaraannya. Berhenti di traffic light
karena lampu merah, begitu lampu hijau menyala,
orang-orang menyalakan klakson, padahal kendaraan di
depannya baru bisa bergerak sesudah beberapa waktu
setelahnya karena harus memasukkan gigi, dan sebagainya.
Fenomena
ini juga memperlihatkan keterkaitan antara bunyi klakson
dengan tingkat kesabaran. Orang-orang yang sakit jantung,
tentunya harus mengurangi mengendarai kendaraan sendiri
karena akan menambah parah sakit jantungnya karena bunyi
klakson yang kerap bersuara walau bukan sebagai pertanda
apa-apa.
Seorang
teman yang baru pulang menuntut ilmu di Malaysia
bercerita, bahwa kalau di luar negeri sana, klakson baru
berbunyi ketika ada lokasi-lokasi khusus yang banyak
hewannya. Ini juga menjadi pembeda di tempat kita, bahwa
jalan-jalan kota sekalipun ternyata cukup banyak hewan
yang berkeliaran.
Akan tetapi
terlepas ada atau tidaknya hewan, klakson pada
kenyataannya selalu dibunyikan di jalan raya. Seorang
dosen saya di kampus, mengatakan: sungguh tak sopan
seseorang memberi salam dengan klakson. Tapi sekarang,
menyahut salam juga dengan klakson. Mau dibilang apa, ya
‘kan?
Teman yang
baru pulang menuntut ilmu di Malaysia tadi berseloroh:
Jangan-jangan segala yang lewat di jalan raya di tempat
kita, sudah terlanjur dianggap hewan oleh pengemudi
kendaraan!
Mungkin
bisa saja seperti itu. Namun ada juga kenyataan lain
yang mendukung: lihatlah di tempat-tempat yang dilarang
berbunyi klakson, orang-orang juga membunyikan
klaksonnya. Melewati masjid atau meunasah
misalnya, banyak tempat yang sudah dipasang rambu
dilarang klakson pada waktu-waktu shalat, tapi bunyi
klakson tetap ada. Orang-orang yang memakai knalpot
bersuara besar juga sering membesarkan suara
kendaraannya begitu sampai di tempat-tempat yang
dilarang bersuara keras. Sangat sering terjadi seperti
itu.
Banyak
anomali sudah di sekitar kita. Dilarang berhenti, orang
berhenti. Dilarang parkir, banyak yang memarkir.
Dilarang lewat, dilewati. Jalan satu arah, menjadi dua
arah. Sudah tidak jelas. Mungkin harus ditanya kenapa.
Masalahnya, menanyakan kepada siapa?
Bingung
‘kan?
Mungkin, di
jalan raya sudah kehilangan tata krama. Alat ukurnya
bisa digunakan suara klakson. Menarik untuk mengamati
bagaimana orang-orang seperti sangat senang dengan suara
klakson. Seperti di tempat kita ini![ST]