HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 170707|
KONDOM
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

  Kampanye yang dilakukan oleh generasi muda, harus tegas mengajak untuk menjauhi seks bebas, bukan menggunakan kondom!  


ADA
pekerjaan baru bagi generasi muda sekarang ini, kampanye menghindari virus HIV yang menyebabkan AIDs. Pekerjaan itu, tentu sangat mulia. Apalagi, meminta orang memahami penyakit mematikan itu.

Salah satu penyebab AIDs terbesar, diyakini, sebuah aktivitas yang bernama seks bebas. Di negara-negara bebas, atau individu yang berpikiran bebas, seks bebas bukan sebuah pekerjaan yang kotor. Seks bebas sudah dianggap sebagai sebuah warna yang juga dibutuhkan dalam hidup.

Hal ini, mungkin seirama dengan kampanye atau provokasi, bahwa hidup adalah kebebasan, dan menyediakan banyak pilihan. Semuanya menjadi bebas dan individu juga bebas memilih kebebasan itu. Termasuk jalan hidup yang tidak ingin terikat dengan sebuah perjanjian.

Seks bebas adalah cermin dari ketidakmauan adanya ikatan. Seks bebas, pada suatu ruang juga dapat dipandang sebagai sebentuk perilaku yang tidak bertanggung jawab. Hidup yang tidak mau diatur, pada dasarnya adalah hidup yang tidak mau bertanggung jawab.

Seks bebas inilah yang harus dihindari, maka orang-orang memiliki program dan anak-anak memiliki sesuatu untuk dikampanyekan kepada publik yang lebih luas –di luar dirinya.

Di sinilah, posisi seks bebas sebagai salah satu penyebab (utama) AIDs, mulai menarik dilihat (secara kritis). Ketika generasi muda melakukan kampanye, mereka disatu pihak seperti dikorbankan untuk mengajak menggunakan kondom saat berhubungan seks. Sementara di lain pihak, yang mereka kampanyekan memang benar, secara ilmu kesehatan.

Tidak benar dalam ruang agama karena seharusnya, kampanye yang dilakukan oleh generasi muda, harus tegas mengajak untuk menjauhi seks bebas. Bukan menggunakan kondom. Ini seperti beberapa bunyi iklan, yang sama sekali tidak menyentuh bahwa biangnya adalah seks bebas.

Zaman memang lagi edan. Kalau tidak memiliki pondasi, kita mudah terbawa kemana saja. Tidak jarang akan menemui sebuah kondisi yang kadang-kadang sulit membedakan yang benar dengan yang salah.

Bagi mereka yang berfikir bebas, mengatakan tidak ada sebenarnya yang benar, karena semua individu memiliki posisi kebenaran. Bukankah bila seperti ini situasinya, kacau sudah kehidupan kita.

Tapi siapa sebenarnya yang peduli, di saat dunia sangat sering berhadapan dengan anti kebenaran. Ketika di beberapa kuta, ada rombongan siswa sekolah menengah yang membagi-bagikan kondom. Kata mereka: kenakan kondom, biar tidak kena!

Nah, kan?(ST)