ADA pekerjaan baru bagi generasi muda sekarang ini,
kampanye menghindari virus HIV yang menyebabkan AIDs.
Pekerjaan itu, tentu sangat mulia. Apalagi, meminta
orang memahami penyakit mematikan itu.
Salah satu
penyebab AIDs terbesar, diyakini, sebuah aktivitas yang
bernama seks bebas. Di negara-negara bebas, atau
individu yang berpikiran bebas, seks bebas bukan sebuah
pekerjaan yang kotor. Seks bebas sudah dianggap sebagai
sebuah warna yang juga dibutuhkan dalam hidup.
Hal ini,
mungkin seirama dengan kampanye atau provokasi, bahwa
hidup adalah kebebasan, dan menyediakan banyak pilihan.
Semuanya menjadi bebas dan individu juga bebas memilih
kebebasan itu. Termasuk jalan hidup yang tidak ingin
terikat dengan sebuah perjanjian.
Seks bebas
adalah cermin dari ketidakmauan adanya ikatan. Seks
bebas, pada suatu ruang juga dapat dipandang sebagai
sebentuk perilaku yang tidak bertanggung jawab. Hidup
yang tidak mau diatur, pada dasarnya adalah hidup yang
tidak mau bertanggung jawab.
Seks bebas
inilah yang harus dihindari, maka orang-orang memiliki
program dan anak-anak memiliki sesuatu untuk
dikampanyekan kepada publik yang lebih luas –di luar
dirinya.
Di sinilah,
posisi seks bebas sebagai salah satu penyebab (utama)
AIDs, mulai menarik dilihat (secara kritis). Ketika
generasi muda melakukan kampanye, mereka disatu pihak
seperti dikorbankan untuk mengajak menggunakan kondom
saat berhubungan seks. Sementara di lain pihak, yang
mereka kampanyekan memang benar, secara ilmu kesehatan.
Tidak benar
dalam ruang agama karena seharusnya, kampanye yang
dilakukan oleh generasi muda, harus tegas mengajak untuk
menjauhi seks bebas. Bukan menggunakan kondom. Ini
seperti beberapa bunyi iklan, yang sama sekali tidak
menyentuh bahwa biangnya adalah seks bebas.
Zaman
memang lagi edan. Kalau tidak memiliki pondasi, kita
mudah terbawa kemana saja. Tidak jarang akan menemui
sebuah kondisi yang kadang-kadang sulit membedakan yang
benar dengan yang salah.
Bagi mereka
yang berfikir bebas, mengatakan tidak ada sebenarnya
yang benar, karena semua individu memiliki posisi
kebenaran. Bukankah bila seperti ini situasinya, kacau
sudah kehidupan kita.
Tapi siapa
sebenarnya yang peduli, di saat dunia sangat sering
berhadapan dengan anti kebenaran. Ketika di beberapa
kuta, ada rombongan siswa sekolah menengah yang
membagi-bagikan kondom. Kata mereka: kenakan kondom,
biar tidak kena!
Nah, kan?(ST)