HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 130507
KONFERENSI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

DA sebuah debat di kuta pada saat dilaksanakan sebuah konferensi pers di sebuah kedai kopi. Konferensi pers itu dilaksanakan untuk membicarakan rencana pelaksanaan sebuah konferensi besar oleh para intelektual. Dan patut dicatat, bahwa konferensi yang direncanakan ini adalah untuk pertama kali.

Sebuah konferensi, menurut sebagian orang di kuta, itu tetap penting. Tapi ada sebagian orang yang juga menganggap penting, tapi bukan yang terpenting. Sebenarnya ada empat kelompok yang bisa dikategorikan dari rencana itu, selain tentu saja sebuah kelompok yang hanya mengamati saja, melihat debat itu lalu menulisnya. Sebagai pengamat, mereka tidak menentukan sikap, baik pada posisi penting atau pada posisi terpenting.

Pengamat itulah yang mencatat ada empat pihak yang memiliki pendapat sendiri –saya dengar dari salah satu orang yang termasuk dalam kategori pengamat ini. Pertama, konferensi itu harus dilaksanakan. Namun sama sekali tidak dijelaskan mengapa konferensi itu harus dilaksanakan. Sama sekali tak memberikan alasan. Yang jelas, konferensi harus terlaksana.

Kedua, orang-orang yang mengharapkan konferensi itu dilaksanakan karena itu sangat penting bagi masa depan, dengan melihat masa lalu yang panjang. Banyak masalah yang harus dibahas dan itu harus diberikan pemikiran-pemikiran melalui sebuah konferensi.

Ketiga, orang-orang yang menolak konferensi, tapi juga tidak menjelaskan mengapa konferensi harus ditolak. Sama sekali tidak dijelaskan alasannya. Ada kebiasaan sekelompok orang, adalah menolak segala hal yang dilaksanakan di kuta, apalagi bila itu tercantum jumlah dana yang sangat besar.

Keempat, orang-orang yang menolak konferensi, dengan alasang didanai bukan oleh lembaga yang tepat, dan menggunakan dana yang seharusnya dapat dipergunakan untuk bidang lain yang lebih mendesak. Mereka beranggapan banyak korban bencana yang masih belum terpenuhi hak-haknya. Maka konferensi itu dianggap sebagai suatu kegiatan yang bukan terpenting.

Keempat pihak, berada dalam satu konferensi dengan empat kapling. Para pengamat memberitahukan kepada banyak orang semua sikap orang-orang itu. Ada empat kapling yang berada dalam satu konferensi pers yang digelar, dan seperti berada dalam empat konferensi yang berbeda.

Para intelektual lain muncul untuk memikirkan konferensi lainnya. Konferensi ini yang akan membahas empat pihak yang berbeda pendapat dalam satu konferensi pers yang membahas rencana pelaksanaan konferensi.

Menurut sebagian orang ini, sangat penting untuk memikirkan solusi atas perbedaan-perbedaan pandangan dalam sebuah konferensi pers yang ada empat pendapat itu. Bagi mereka, konferensi ini maha penting untuk dilaksanakan terlebih dahulu.

Ketika konferensi mau dilaksanakan, ternyata gelombang masalah makin meletup. Bayangkan konferensi untuk menyelesaikan masalah dalam konferensi tidak juga selesai. Entah menjadi pertanda apa yang sedang diperlihatkan oleh Yang Maha Kuasa.

Tapi ada orang yang tidak kunjung mengerti semua fenomena, sampai-sampai muncul sekelompok orang lain yang mengatakan: namanya saja konferensi![ST]