HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 290407|
LALAT
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

UA malam yang lalu, tiba-tiba saya mendapatkan panggilan telepon dari seorang teman di gampong yang tak membayangkan saya akan mendapatkan telepon dari dia. Teman itu memberitahukan tentang banyaknya lalat di gampong.

Entah dari mana dia dapat pengetahuan, yang jelas, malam itu ia bilang bahwa lalat itu bisa mendatangkan penyakit. Banyak penyakit yang bisa lahir karena adanya seekor lalat. Barangkali karena dia sudah berbicara dengan beberapa petugas kesehatan yang ada di gampong.

Sang teman juga sangat fasih bercerita tentang lalat yang mengepung kotoran lalu terbang menghinggap makanan. Dia bahkan meminta saya untuk membayangkan bagaimana bila lalat dari kotoran manusia, lalu mengepung makanan yang akan dimakan. Sangat berbahaya.

Masalahnya adalah banjir telah membawa kotoran ke seluruh pelosok gampong. Banyak orang yang membuang segala sampah dan kotoran ke dalam sungai. Ketika air sungai meluap naik ke perkampungan, banyak kotoran dan sampah serapah yang ditinggalkan. Belum lagi lumpur yang tersisa.

Tapi yang paling berbahaya adalah kotoran manusia dan bangkai. Ketika musim buah-buahan tiba, dapat dipastikan banyak kotoran manusia karena hampir semua orang di sana membuang hajat ke sungai. Lebih parah bila musim taeuen tiba. Banyak ayam yang mati dan itu, biasanya bukan ditanam, tapi dibuang ke dalam sungai. Kalau ditanam membutuhkan energi lebih besar ketimbang hanya melempar ke sungai

Selama musim kering, debit air sungai menurun drastis. Sampah dan kotoran (termasuk bangkai) dengan mudah terlihat mengalir bersama air yang tidak deras. Berjalan pelan-pelan hingga baunya juga menebar pelan-pelan. Bayangkan kalau bangkai itu bukan sebentuk ayam, tapi kambing atau kerbau. Wah!

Sementara di pucuk sungai, pepohonan sudah gersang. Begitu hujan tiba, air tak lagi diserap, tapi mengumpul diri dalam sungai. Terjadilah luapan banjir. Segala sampah dan kotoran yang tadinya berada di sungai, lalu merembes ke perkampungan. Tumpukan yang tersisa dari banjir itu, sudah menjadi rumah baru bagi lalat-lalat.

Teman saya itu sudah begitu gelisah dengan lalat. Sama gelisahnya dengan orang-orang di gampong yang merasakan banyaknya lalat ijo dan lalat mirah di sekeliling mereka. Dua bentuk lalat itu sama-sama mendatangkan penyakit yang berbahaya. Ketika lalat itu juga saya bilang sama teman tadi, ternyata dia memilih diam.

Saya menyarankan mereka agar membersihkan kotoran agar lalat itu kemudian pergi. Itu disanggupi. Tapi saran saya yang lain tak dilakukan, perihal membersihkan kampung dari berbagai lalat-lalat besar yang tak kalah berbahayanya.

Selidik punya selidik, ternyata banyak lalat ijo dan lalat mirah di gampong itu, dipunyai oleh orang-orang berada. Orang gampong juga takut rupanya bila sewaktu-waktu mereka membutuhkan bantuan orang berada, tidak mau dibantu lagi karena sudah dibersihkan lalatnya.

Orang berada sering menjadi tempat bersandar untuk meminta utang semisal beras sekilo-dua. Atau ketika keluarganya sakit tiba-tiba, satu-satunya jalan adalah mendekati orang berada.

Sang teman, juga sangat bergantung kepada orang-orang berada. Tentu dengan pemanfaatan timbal-balik. Kampanye penyanjungan menjadi penting walau ada di antara orang berada kerap arogan dalam kehidupan. Malah ada yang mencari-cari muka juga, agar ada yang dekat dan ada yang tidak dekat. Ketergantungan semacam ini membuat seseorang tak bisa berdiri dengan gagah dengan kakinya.

Banyak orang, seperti teman saya tadi, walau berbicara masalah lalat, tapi telah menjadi lalat. Hingga gampong, sudah penuh dengan berbagai lalat. Kasihan![ST]