UA
malam yang lalu, tiba-tiba saya mendapatkan panggilan
telepon dari seorang teman di gampong yang tak
membayangkan saya akan mendapatkan telepon dari dia.
Teman itu memberitahukan tentang banyaknya lalat di
gampong.
Entah dari
mana dia dapat pengetahuan, yang jelas, malam itu ia
bilang bahwa lalat itu bisa mendatangkan penyakit.
Banyak penyakit yang bisa lahir karena adanya seekor
lalat. Barangkali karena dia sudah berbicara dengan
beberapa petugas kesehatan yang ada di gampong.
Sang teman
juga sangat fasih bercerita tentang lalat yang mengepung
kotoran lalu terbang menghinggap makanan. Dia bahkan
meminta saya untuk membayangkan bagaimana bila lalat
dari kotoran manusia, lalu mengepung makanan yang akan
dimakan. Sangat berbahaya.
Masalahnya
adalah banjir telah membawa kotoran ke seluruh pelosok
gampong. Banyak orang yang membuang segala sampah
dan kotoran ke dalam sungai. Ketika air sungai meluap
naik ke perkampungan, banyak kotoran dan sampah serapah
yang ditinggalkan. Belum lagi lumpur yang tersisa.
Tapi yang
paling berbahaya adalah kotoran manusia dan bangkai.
Ketika musim buah-buahan tiba, dapat dipastikan banyak
kotoran manusia karena hampir semua orang di sana
membuang hajat ke sungai. Lebih parah bila musim
taeuen tiba. Banyak ayam yang mati dan itu, biasanya
bukan ditanam, tapi dibuang ke dalam sungai. Kalau
ditanam membutuhkan energi lebih besar ketimbang hanya
melempar ke sungai
Selama
musim kering, debit air sungai menurun drastis. Sampah
dan kotoran (termasuk bangkai) dengan mudah terlihat
mengalir bersama air yang tidak deras. Berjalan
pelan-pelan hingga baunya juga menebar pelan-pelan.
Bayangkan kalau bangkai itu bukan sebentuk ayam, tapi
kambing atau kerbau. Wah!
Sementara
di pucuk sungai, pepohonan sudah gersang. Begitu hujan
tiba, air tak lagi diserap, tapi mengumpul diri dalam
sungai. Terjadilah luapan banjir. Segala sampah dan
kotoran yang tadinya berada di sungai, lalu merembes ke
perkampungan. Tumpukan yang tersisa dari banjir itu,
sudah menjadi rumah baru bagi lalat-lalat.
Teman saya
itu sudah begitu gelisah dengan lalat. Sama gelisahnya
dengan orang-orang di gampong yang merasakan
banyaknya lalat ijo dan lalat mirah di
sekeliling mereka. Dua bentuk lalat itu sama-sama
mendatangkan penyakit yang berbahaya. Ketika lalat itu
juga saya bilang sama teman tadi, ternyata dia memilih
diam.
Saya
menyarankan mereka agar membersihkan kotoran agar lalat
itu kemudian pergi. Itu disanggupi. Tapi saran saya yang
lain tak dilakukan, perihal membersihkan kampung dari
berbagai lalat-lalat besar yang tak kalah berbahayanya.
Selidik
punya selidik, ternyata banyak lalat ijo dan
lalat mirah di gampong itu, dipunyai oleh
orang-orang berada. Orang gampong juga takut
rupanya bila sewaktu-waktu mereka membutuhkan bantuan
orang berada, tidak mau dibantu lagi karena sudah
dibersihkan lalatnya.
Orang
berada sering menjadi tempat bersandar untuk meminta
utang semisal beras sekilo-dua. Atau ketika keluarganya
sakit tiba-tiba, satu-satunya jalan adalah mendekati
orang berada.
Sang teman,
juga sangat bergantung kepada orang-orang berada. Tentu
dengan pemanfaatan timbal-balik. Kampanye penyanjungan
menjadi penting walau ada di antara orang berada kerap
arogan dalam kehidupan. Malah ada yang mencari-cari muka
juga, agar ada yang dekat dan ada yang tidak dekat.
Ketergantungan semacam ini membuat seseorang tak bisa
berdiri dengan gagah dengan kakinya.
Banyak orang, seperti teman saya tadi, walau berbicara
masalah lalat, tapi telah menjadi lalat. Hingga
gampong, sudah penuh dengan berbagai lalat.
Kasihan![ST]