HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 100607|
Lampu
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

APAT dikatakan sebagai sebentuk arogansi bila ada para pengendara sepeda motor yang sangat suka menyalakan lampu-lampu sorotnya ketika malam. Lampu jarak jauh itu-- sepertinya didesain untuk menembus kabut, agar jarak pandang bisa lebih jauh. Lampu itu akan diganti dengan lampu biasa bila ada kendaraan lain yang berlawanan arah. Bayangkan bila semua menggunakan lampu jauh di jalan pada malam hari, semua akan sapu mata.

Ternyata perilaku pengendara juga ada masalah. Di jalan, sering kita temui orang-orang yang tidak mau dengan kesusahan orang lain karena mendapat cahaya lampu yang tidak semestinya.

Dalam dua tahun terakhir, di jalan kita merasakan ada peningkatan jumlah kendaraan. Jalan-jalan seperti semakin sempit. Perilaku-perilaku yang tidak sabar semakin meningkat. Menerobos traffic light sering terlihat. Kendaraan diparkir tak tentu tempat. Jalan-jalan lebar, menjadi sempit karena sebagian jalan sudah digunakan sebagai tempat parkir.

Ada nada yang menggugah, di satu pihak, jumlah kendaraan seperti mensyaratkan adanya pertambahan jumlah dan ukuran jalan. Pada saat yang sama, sering didapati masalah susahnya membebaskan tanah bila ada sebuah program perluasan jalan. Di lain pihak, ternyata, sama sekali tak menjamin bahwa semakin lebarnya jalan akan mengurangi kemacetan lalu lintas di mana-mana.

Persoalan jalan, harus disyaratkan bahwa perilaku yang santun harus diambil pilihan. Jalan semakin lebar tidak bisa sebagai satu-satunya jawaban bila para pengendara kendaraan tidak santun di jalan raya.

Ini memberi semacam pemahaman bahwa di jalan raya juga perlu sopan santun dan keadaban. Di jalan dapat menjadi semacam cermin sejauhmana kita menghargai orang-orang lain yang juga menggunakan jalan. Memahami saling membutuhkan itu, akan menampakkan kesantunan di sana .

Lampu adalah secuil dari saling pengertian itu. Orang-orang yang hanya mengejar kepentingannya semata akan menyorot lampu jauhnya sepanjang jalan. Padahal, di jalan juga ada pengguna jalan yang berlawanan arah dan mereka juga harus mengerti bahwa tidak menggunakan lampu jauh karena kita sedang lewat.

Saya punya banyak pengalaman tentang lampu ini. Dengan memakai motor yang lampunya tidak menjangkau jauh, akan sangat terganggu dengan lampu-lampu kendaraan yang memakai lampu untuk menembus kabut. Tak jarang, kita harus berhenti karena jalan yang kita gunakan sudah tak tampak.

Seringkali kita sampai memberi kode, tapi ada juga yang tidak mau mengerti. Ditambah jalan kita yang penuh lubang, membuat kendaraan sering terperosok ke dalamnya.

Bukankah akan sangat berbahaya bila banyak orang terperosok ke dalam lubang, hanya gara-gara lampu?[ST]