HOME| GAMPONG LAINYA |

 

Kolom Gampong STRIPA 080507|
LHON
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

NI zaman penuh keanehan yang sedang mengepung gampong. Berbagai berita miris terdengar dari kanan-kiri, dari muka-belakang. Benar-benar miris. Masalah racun belum terselesaikan. Tiba-tiba banyak orang sudah menjadi korban setelah memakan makanan. Lalu badan pemeriksa makanan memeriksa, hasilnya, negatif. Tak ada racun. Timbullah berbagai analisis, hingga spekaluasi.

Selain racun, timbul juga masalah banyaknya ketidaklaziman. Bila ada orang atau sekelompok orang yang setuju dengan format, maka dilawan bukan orang yang membuat format, tapi tujuan format.

Akhir-akhir ini, keanehan lain yang nampak. Banyak anak-anak gampong yang sedang kedapatan sedang teulhon. Anak-anak orang yang berekonomi lemah, teulhon mereka ditemukan di rumah-rumah kosong di sudut gampong. Bila anak-anak orang yang berada, teulhon mereka ditemukan di kamar-kamar hotel atau mobil-mobil mewah. Masya Allah, ada apa dengan gampong kita.

Lebih tragis lagi, yang ditemukan teulhon adalah anak-anak tokoh gampong yang selama ini berbicara jangan ada anak orang gampong yang teulhon.

Anak-anak yang teulhon, setelah ditemukan, tidak merasa sesuatu yang menggelisahkan dari wajah mereka. Tak ada juga gurat kegusaran di wajah anaknya, tak juga di wajah orang tuanya. Orang tua yang sudah menganut mazhab bebas, dengan enteng akan mengatakan: biarkan saja!

Anak-anak yang kedapatan teulhon, malah ketawa-ketawa. Orang-orang yang melihat, malah ditebar senyum penuh pesona. Mungkin dalam hati, ia sedang mengatakan: bayangkan kalau seperti kami.

Yang pahitnya, anak-anak tokoh, jarang yang diberitakan secara layak bin semestinya. Ini berbeda dengan teulhon yang dialami oleh anak-anak orang gampong yang berekonomi biasa-biasa saja, dan kurang jaringan ke pihak yang kompeten. Anak-anak seperti ini, bila ditemukan teulhon, biasanya akan menangis sejadi-jadinya.

Tapi ada satu anak gampong yang berekonomi lemah, ketika ditemukan sedang teulhon, malah dengan bangga mengatakan memang sedang berkeinginan teulhon. Sebagai seorang yang masih muda, birahinya masih di puncak, maka menurutnya, energi harus dilepaskan dan itu memang harus dengan lhon.

Yang malu adalah para orang tua yang memang masih punya kemaluan. Juga orang-orang gampong yang merasa namanya sudah tercemar. Sedangkan ada kenyataan, sebagian orang tua juga sudah enjoy dengan lhon-meulhon yang dilakoni anaknya.

Cerita tentang lhon adalah cerita tentang perkembangan zaman yang berlangsung pesat. Perubahan yang terjadi sangat drastis. Manusia-manusia yang belum waktunya meulhon, juga sudah kedapatan teulhon.

Ini adalah zaman pahit dengan bentuknya sendiri. Apalagi anak-anak muda yang sudah banyak yang beranggapan tak ada masalah dengan lhon-meulhon. Penyakit ini juga sudah mulai menghinggapi sebagian orang tua.

Lalu ditemukanlah yang lhon-meulhon itu pada orang-orang yang sudah memiliki pasangan hidupnya dengan sah. Ia lhon-meulhon dengan orang lain. Ini adalah keanehan sekaligus kemiringan yang sudah mulai menggejala untuk mengepung gampong.

Padahal, lhon-meulhon, jangankan untuk pasangan-pasangan yang tidak sah, untuk pasangan yang sah saja, masih diharuskan ada etika. Manusia harus malu bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada Pencipta dan Malaikat yang selalu mencatat perjalanan kehidupan.

Tapi akhir-akhir ini lhon-meulhon seperti bukan lagi persoalan malu. Berhasil mengikuti lhon-meulhon, mulai dianggap sebagai sebentuk kemajuan peradaban dunia baru, seperti yang berlangsung di jagad-jagad yang sudah maju.

Ini juga sekaligus sebagai sebentuk ketertinggalan. Di negara maju sekalipun, bila lhon-meulhon dilakukan dengan tanpa etika, maka juga akan menghadapi masalah. Dipecat dari kerjanya, mendapat cibiran media, sampai ejekan masyarakatnya. Itu sudah mulai terlihat dalam masyarakat liberal, walau mereka masih membebaskan kehidupan dengan satu catatan, setia pada pasangan hidup walau dalam kehidupan kita dapat dianggap belum legal.

Apa yang terjadi di tempat kita?

Bila sewaktu-waktu ditemukan orang yang sedang teulhon-meulhon, bangun pagi besok, mukanya masih bisa bersinar baik di tempat kerja, maupun di dalam sebagian komunitas. Entahlah![ST]