NI
zaman penuh keanehan yang sedang mengepung gampong.
Berbagai berita miris terdengar dari kanan-kiri,
dari muka-belakang. Benar-benar miris. Masalah racun
belum terselesaikan. Tiba-tiba banyak orang sudah
menjadi korban setelah memakan makanan. Lalu badan
pemeriksa makanan memeriksa, hasilnya, negatif. Tak ada
racun. Timbullah berbagai analisis, hingga spekaluasi.
Selain
racun, timbul juga masalah banyaknya ketidaklaziman.
Bila ada orang atau sekelompok orang yang setuju dengan
format, maka dilawan bukan orang yang membuat format,
tapi tujuan format.
Akhir-akhir
ini, keanehan lain yang nampak. Banyak anak-anak
gampong yang sedang kedapatan sedang teulhon.
Anak-anak orang yang berekonomi lemah, teulhon
mereka ditemukan di rumah-rumah kosong di sudut
gampong. Bila anak-anak orang yang berada,
teulhon mereka ditemukan di kamar-kamar hotel atau
mobil-mobil mewah. Masya Allah, ada apa dengan
gampong kita.
Lebih
tragis lagi, yang ditemukan teulhon adalah
anak-anak tokoh gampong yang selama ini berbicara
jangan ada anak orang gampong yang teulhon.
Anak-anak
yang teulhon, setelah ditemukan, tidak merasa
sesuatu yang menggelisahkan dari wajah mereka. Tak ada
juga gurat kegusaran di wajah anaknya, tak juga di wajah
orang tuanya. Orang tua yang sudah menganut mazhab
bebas, dengan enteng akan mengatakan: biarkan saja!
Anak-anak
yang kedapatan teulhon, malah ketawa-ketawa.
Orang-orang yang melihat, malah ditebar senyum penuh
pesona. Mungkin dalam hati, ia sedang mengatakan:
bayangkan kalau seperti kami.
Yang
pahitnya, anak-anak tokoh, jarang yang diberitakan
secara layak bin semestinya. Ini berbeda dengan
teulhon yang dialami oleh anak-anak orang gampong
yang berekonomi biasa-biasa saja, dan kurang jaringan ke
pihak yang kompeten. Anak-anak seperti ini, bila
ditemukan teulhon, biasanya akan menangis
sejadi-jadinya.
Tapi ada
satu anak gampong yang berekonomi lemah, ketika
ditemukan sedang teulhon, malah dengan bangga
mengatakan memang sedang berkeinginan teulhon.
Sebagai seorang yang masih muda, birahinya masih di
puncak, maka menurutnya, energi harus dilepaskan dan itu
memang harus dengan lhon.
Yang malu
adalah para orang tua yang memang masih punya kemaluan.
Juga orang-orang gampong yang merasa namanya
sudah tercemar. Sedangkan ada kenyataan, sebagian orang
tua juga sudah enjoy dengan lhon-meulhon
yang dilakoni anaknya.
Cerita
tentang lhon adalah cerita tentang perkembangan
zaman yang berlangsung pesat. Perubahan yang terjadi
sangat drastis. Manusia-manusia yang belum waktunya
meulhon, juga sudah kedapatan teulhon.
Ini adalah
zaman pahit dengan bentuknya sendiri. Apalagi anak-anak
muda yang sudah banyak yang beranggapan tak ada
masalah dengan lhon-meulhon. Penyakit ini juga
sudah mulai menghinggapi sebagian orang tua.
Lalu
ditemukanlah yang lhon-meulhon itu pada
orang-orang yang sudah memiliki pasangan hidupnya dengan
sah. Ia lhon-meulhon dengan orang lain. Ini
adalah keanehan sekaligus kemiringan yang sudah mulai
menggejala untuk mengepung gampong.
Padahal,
lhon-meulhon, jangankan untuk pasangan-pasangan yang
tidak sah, untuk pasangan yang sah saja, masih
diharuskan ada etika. Manusia harus malu bukan hanya
kepada manusia, tapi juga kepada Pencipta dan Malaikat
yang selalu mencatat perjalanan kehidupan.
Tapi
akhir-akhir ini lhon-meulhon seperti bukan lagi
persoalan malu. Berhasil mengikuti lhon-meulhon,
mulai dianggap sebagai sebentuk kemajuan peradaban dunia
baru, seperti yang berlangsung di jagad-jagad yang sudah
maju.
Ini juga
sekaligus sebagai sebentuk ketertinggalan. Di negara
maju sekalipun, bila lhon-meulhon dilakukan
dengan tanpa etika, maka juga akan menghadapi masalah.
Dipecat dari kerjanya, mendapat cibiran media, sampai
ejekan masyarakatnya. Itu sudah mulai terlihat dalam
masyarakat liberal, walau mereka masih membebaskan
kehidupan dengan satu catatan, setia pada pasangan hidup
walau dalam kehidupan kita dapat dianggap belum legal.
Apa yang
terjadi di tempat kita?
Bila
sewaktu-waktu ditemukan orang yang sedang
teulhon-meulhon, bangun pagi besok, mukanya masih
bisa bersinar baik di tempat kerja, maupun di dalam
sebagian komunitas. Entahlah![ST]