HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 140707|
MACET
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

ADA hubungan yang erat antara macet dan klakson. Khususnya di jalan-jalan di kampung kita. Sekarang ini, orang-orang cenderung tidak sabar dalam menggunakan jalan raya. Bila ada kemacetan sedikit, bunyi klakson akan memekakkan telinga. Sambung-menyambung.

Klakson menampakkan (apa yang dinamakan dengan kuasa). Ini sama posisinya seperti keberadaan gundukan yang dibuat di tengah jalan yang sering disebut dengan polisi tidur. Hampir di semua jurong dibuat gundukan itu. Malah di tempat tertentu, gundukan di atas aspal itu dibuat dari bahan lain bermaterikan semen.

Orang-orang yang mengendarai kendaraan, mau tidak mau, harus memperlambat laju kendaraannya sesampai di sana. Kalau tidak, kemungkinan akan terjungkal. Itu menjadi semacam kuasa, di mana para pengendara harus mengikuti pola itu (memperlambat laju).

Orang-orang yang tidak mau memperlambat, kalau pun tidak akan terjungkal, akan dipandang sebagai pelawan kuasa. Orang-orang yang berada di sekitar gundukan akan memandangnya dalam. Kemungkinan akan ada juga yang berkata kira-kira: tidak sopan.

Klakson di jalan raya juga dapat bermakna kuasa seperti itu. Ketika orang memandang bahwa itu bisa menjadi semacam kuasa, maka seperti tidak penting untuk memaknai etika.

Ini dapat ditemui di jalan-jalan depan masjid yang dari ujung ke ujung sudah diberi tanda dilarang klakson. Tapi tetap saja ada bunyi klakson walau di dalam masjid orang-orang sedang melaksanakan sembahyang.

Klakson, di pihak lain, sebenarnya memberi gambaran dari sikap. Orang-orang yang tidak sabar dan di jalan selalu menggunakan klakson, maka sebenarnya orang yang bersangkutan sedang menampakkan kekuasaan. Dengan bahasa lain, dengan dayanya, mereka sedang berusaha memberitahu: minggir.

Klakson adalah cermin cari ketidaksabaran. Maka itu merupakan sikap. Padahal dalam agama, salah satu tanda orang yang beriman adalah sabar. Di jalan raya, dengan demikian, menjadi cermin tentang kecenderungan bertambahnya orang-orang yang tidak sabar.

Tapi siapa yang berhak menentukan tingkat kesabaran itu?

Mungkin sebagai aba-aba, kalau suatu waktu, ada kesempatan untuk menegur orang-orang yang menggunakan klakson, jangan heran mendapatkan reaksinya yang keras dan dengan demikian cermin dari ketidaksabaran.

Ketika masuk dalam wilayah etika, penentuan baik-buruk berkemungkinan menjadi perdebatan baru kalau sudah mulai tumbuh segelintir orang yang berpikiran bebas dan tidak mau diatur-atur. Mereka akan mengatur diri sendiri. Walau kepribadian mereka juga bermasalah.

Bila mendapatkan situasi seperti itu, sungguh, tidak usah heran. Bunyi klakson, dapat menjadi semacam tanda.(ST)