ADA
hubungan yang erat antara macet dan klakson. Khususnya
di jalan-jalan di kampung kita. Sekarang ini,
orang-orang cenderung tidak sabar dalam menggunakan
jalan raya. Bila ada kemacetan sedikit, bunyi klakson
akan memekakkan telinga. Sambung-menyambung.
Klakson
menampakkan (apa yang dinamakan dengan kuasa). Ini sama
posisinya seperti keberadaan gundukan yang dibuat di
tengah jalan yang sering disebut dengan polisi tidur.
Hampir di semua jurong dibuat gundukan itu. Malah
di tempat tertentu, gundukan di atas aspal itu dibuat
dari bahan lain bermaterikan semen.
Orang-orang
yang mengendarai kendaraan, mau tidak mau, harus
memperlambat laju kendaraannya sesampai di sana. Kalau
tidak, kemungkinan akan terjungkal. Itu menjadi semacam
kuasa, di mana para pengendara harus mengikuti pola itu
(memperlambat laju).
Orang-orang
yang tidak mau memperlambat, kalau pun tidak akan
terjungkal, akan dipandang sebagai pelawan kuasa.
Orang-orang yang berada di sekitar gundukan akan
memandangnya dalam. Kemungkinan akan ada juga yang
berkata kira-kira: tidak sopan.
Klakson di
jalan raya juga dapat bermakna kuasa seperti itu. Ketika
orang memandang bahwa itu bisa menjadi semacam kuasa,
maka seperti tidak penting untuk memaknai etika.
Ini dapat
ditemui di jalan-jalan depan masjid yang dari ujung ke
ujung sudah diberi tanda dilarang klakson. Tapi tetap
saja ada bunyi klakson walau di dalam masjid orang-orang
sedang melaksanakan sembahyang.
Klakson, di
pihak lain, sebenarnya memberi gambaran dari sikap.
Orang-orang yang tidak sabar dan di jalan selalu
menggunakan klakson, maka sebenarnya orang yang
bersangkutan sedang menampakkan kekuasaan. Dengan bahasa
lain, dengan dayanya, mereka sedang berusaha memberitahu:
minggir.
Klakson
adalah cermin cari ketidaksabaran. Maka itu merupakan
sikap. Padahal dalam agama, salah satu tanda orang yang
beriman adalah sabar. Di jalan raya, dengan demikian,
menjadi cermin tentang kecenderungan bertambahnya
orang-orang yang tidak sabar.
Tapi siapa
yang berhak menentukan tingkat kesabaran itu?
Mungkin
sebagai aba-aba, kalau suatu waktu, ada kesempatan untuk
menegur orang-orang yang menggunakan klakson, jangan
heran mendapatkan reaksinya yang keras dan dengan
demikian cermin dari ketidaksabaran.
Ketika
masuk dalam wilayah etika, penentuan baik-buruk
berkemungkinan menjadi perdebatan baru kalau sudah mulai
tumbuh segelintir orang yang berpikiran bebas dan tidak
mau diatur-atur. Mereka akan mengatur diri sendiri.
Walau kepribadian mereka juga bermasalah.
Bila
mendapatkan situasi seperti itu, sungguh, tidak usah
heran. Bunyi klakson, dapat menjadi semacam tanda.(ST)