HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 130407|
MAULID
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

INI sudah datang jaman mauled, di mana banyak orang kampung yang mengingat Rasulullah SAW. Sekarang, kita melihat pelaksanaan maulid ada di mana-mana. Dari gampong yang satu ke gampong yang lain. Semua ada khanduri maulid.

Ada kampung yang melaksanakan maulid di Rabiul Awal. Namun ada juga kampung, yang karena berbagai alasan, melaksanakannya di maulid akhir, Rabiul Akhir. Orang di kampung tak menganggap itu sebagai suatu masalah. Yang panting, ada perayaan maulid untuk mengingat Rasulullah.

Seperti di kampung saya, maulid akan dilaksanakan pada bulan-bulan terakhir perayaan maulid. Minggu kemarin saya pulang kampung, melihat orang-orang masih sedang bekerja di sawah memanen. Maka saya berfikir, kalau orang kampung saya melaksanakan maulid di akhir, tentu karena semua orang harus bekerja memanen sawah terlebih dahulu.

Bila tikungannya seperti ini, mungkin wajar saja, karena ada tradisi di kampung, begitu maulid, maka ada khanduri. Ketika mendengar kata khanduri, sebagian tentu berfikir persiapan--ada di antaranya yang sempat berkalkulasi.

Orang yang mengkalkulasi, umumnya akan mengundang banyak orang ke rumah, hingga benar-benar terlihat seperti pesta. Di rumah-rumah orang tertentu, bahkan banyak orang-orang kuat yang datang untuk menikmati khanduri itu. Dengan persediaan makanan yang melimpah, setara dengan orang-orang yang datang, juga umumnya berkelas.

Tapi maulid, hakikatnya adalah mengingat Nabi. Maka khanduri, sebenarnya adalah media pengingat, karena Nabi berpesan untuk semua orang agar mengingat anak yatim dan orang papa. Maka, khanduri dalam momentum maulid merupakah salah satu momentum untuk itu.

Maulid untuk mengingat anak yatim, seyogianya tidak berbeda bila dilaksanakan khanduri untuk orang berkelas. Maka bila ada khanduri maulid untuk orang berkelas yang mirip pesta, maka kualitas pelaksanaan untuk anak yatim saat khanduri maulid, juga seyogianya seperti itu.

Tapi berbicara kepentingan, tentu sangat berbeda. Khanduri di mana-mana, momentumnya apa saja, tapi targetnya pun menjadi beragam. Anak yatim dan orang papa sebagai sasaran, sudah seyogianya tidak terpinggirkan.

Hidang meulapeh sebagaimana kita tempatkan untuk orang-orang besar, seyogianya juga disediakan lebih agar ditempatkan juga di depan anak-anak yatim dan orang papa. Itu baru namanya khanduri, untuk mengingat Nabi.

Seharusnya, memperhatikan orang-orang yang berkecukupan sudah saatnya dibarengi dengan perhatian kita kepada orang-orang yang berhak, sebagaimana dipesan oleh Rasulullah. Itulah mauled.

Ironis bila saat maulid, namun hidang meulapeh tujoh tak ditujukan untuk anak-anak yatim, orang-orang yang miskin dan papa.[ST]