INI sudah datang jaman mauled,
di mana banyak orang kampung yang mengingat Rasulullah
SAW. Sekarang, kita melihat pelaksanaan maulid ada di
mana-mana. Dari gampong yang satu ke gampong
yang lain. Semua ada khanduri maulid.
Ada kampung yang melaksanakan maulid
di Rabiul Awal. Namun ada juga kampung, yang karena
berbagai alasan, melaksanakannya di maulid akhir, Rabiul
Akhir. Orang di kampung tak menganggap itu sebagai suatu
masalah. Yang panting, ada perayaan maulid untuk
mengingat Rasulullah.
Seperti di kampung saya, maulid akan
dilaksanakan pada bulan-bulan terakhir perayaan maulid.
Minggu kemarin saya pulang kampung, melihat orang-orang
masih sedang bekerja di sawah memanen. Maka saya
berfikir, kalau orang kampung saya melaksanakan maulid
di akhir, tentu karena semua orang harus bekerja memanen
sawah terlebih dahulu.
Bila tikungannya seperti ini, mungkin
wajar saja, karena ada tradisi di kampung, begitu
maulid, maka ada khanduri. Ketika mendengar kata
khanduri, sebagian tentu berfikir persiapan--ada
di antaranya yang sempat berkalkulasi.
Orang yang mengkalkulasi, umumnya
akan mengundang banyak orang ke rumah, hingga
benar-benar terlihat seperti pesta. Di rumah-rumah orang
tertentu, bahkan banyak orang-orang kuat yang datang
untuk menikmati khanduri itu. Dengan persediaan
makanan yang melimpah, setara dengan orang-orang yang
datang, juga umumnya berkelas.
Tapi maulid, hakikatnya adalah
mengingat Nabi. Maka khanduri, sebenarnya adalah
media pengingat, karena Nabi berpesan untuk semua orang
agar mengingat anak yatim dan orang papa. Maka,
khanduri dalam momentum maulid merupakah salah satu
momentum untuk itu.
Maulid untuk mengingat anak yatim,
seyogianya tidak berbeda bila dilaksanakan khanduri
untuk orang berkelas. Maka bila ada khanduri
maulid untuk orang berkelas yang mirip pesta, maka
kualitas pelaksanaan untuk anak yatim saat khanduri
maulid, juga seyogianya seperti itu.
Tapi berbicara kepentingan, tentu
sangat berbeda. Khanduri di mana-mana,
momentumnya apa saja, tapi targetnya pun menjadi
beragam. Anak yatim dan orang papa sebagai sasaran,
sudah seyogianya tidak terpinggirkan.
Hidang meulapeh sebagaimana
kita tempatkan untuk orang-orang besar, seyogianya juga
disediakan lebih agar ditempatkan juga di depan
anak-anak yatim dan orang papa. Itu baru namanya
khanduri, untuk mengingat Nabi.
Seharusnya, memperhatikan orang-orang
yang berkecukupan sudah saatnya dibarengi dengan
perhatian kita kepada orang-orang yang berhak,
sebagaimana dipesan oleh Rasulullah. Itulah mauled.
Ironis bila saat maulid, namun hidang
meulapeh tujoh tak ditujukan untuk anak-anak
yatim, orang-orang yang miskin dan papa.[ST]