HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 180707|
MEKAR
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

INI sama sekali bukan masalah bunga, yang menebarkan wewangian yang tiada tara. Ini adalah masalah wilayah. Tapi sama-sama berangkat dari sebuah kata, mekar. Kalau bunga, menjadi indah disebut sebagai mekar, karena berkembang dengan sendirinya, seperti sebuah rotasi yang berlangsung terus-menerus, timbul putik, jadilah bunga, lalu layu.

Sementara wilayah, terjadi pemekaran yang seperti lomba. Sudah pasti, pe-mekar-an, tidak selalu akan berlangsung alami. Pe-an dari mekar, adalah usaha untuk mengembangkan sebuah kawasan.

Namanya sebagai usaha, otomatis, dibutuhkan adanya rasionalisasi. Mulai dari pemunculan ide, sampai menciptakan peluang dan alasan. Untuk mendukung ini, malah harus ada tenaga intelektual yang melakukan kajian terhadap potensi yang tersedia.

Sebuah upaya, tentu berpotensi untuk berkemungkinan untung maupun rugi. Masalah untung-rugi, juga sangat tergantung kepada siapa yang memegang peranan. Bila kepentingan tertentu yang bermain, maka untung-rugi akan berbeda bila dibandingkan tak ada kepentingan tertentu.

Untung-rugi sudah bisa diperhitungkan dari awal. Orang-orang yang rela mengeluarkan bermiliar-miliar dari awal, sebenarnya juga sudah bisa mengukur tingkat untung-rugi. Tidak mungkin seseorang yang sudah mengeluarkan miliaran itu, tetapi tidak tahu sejauhmana untung yang akan diperoleh.

Untung-rugi ini, yang jelas, rakyat yang selalu jadi atas nama. Demi kesejahteraan rakyat. Padahal ada pemekaran wilayah tertentu, yang sebenarnya kosong pendapatan asli daerah, tapi dibahasakan rapi dengan “demi kesejahteraan rakyat”, jadi rasional. Jelas-jelas tamah khaih ateuh tubueng.

Persoalan klaih di gampong kita, sangat menarik untuk dibahas. Klaih, pada galibnya diartikan sebagai kelas. Tapi dalam masyarakat yang produktif mengolah minyak dari kelapa, dikenal juga klaih sebagai bentuknya.

Kelas ini, orang tua di gampong sering menyebut, bek ka tambah klaih ateuh tubueng. Apa yang terjadi bila suatu wilayah tidak memiliki pemasukan? Itu adalah menambah beban.

Banyak kawasan yang pendapatan asli daerah hanya cukup untuk memberi gaji bagi orang-orang yang mengurusnya. Lalu dari mana uang untuk pembangunan? Entahlah. Yang penting, pemekaran!(ST)