HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 110607|
Mesum
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

NI semacam kisah yang dramatis. Pada suatu hari, sepasang manusia kedapatan bermesum di gampong. Seperti sudah sempit di tempat lain. Maka di gampong yang menjadi sasaran.

Parahnya, kalau di gampong, bermesum bukan dilakukan di kamar-kamar mewah seperti yang pernah diberitakan suratkabar tentang tokoh yang seharusnya jadi panutan ditangkap di hotel karena bermesum. Kalau di gampong, bermesum di tempat para binatang melepas birahi.

Orang-orang gampong menemukan orang-orang bermesum, sejak dari semak-semak sampai dalam kandang ternak. Malah ada yang ditemukan di tempat bui meu aneuk.

Orang-orang awan sekalipun sudah sering bertanya-tanya: ada apa dengan tanah mereka? Genderang syariat Islam sudah ditabuh, tapi pelaku mesum makin menjadi-jadi. Termasuk orang-orang yang seharusnya menjaga diri dari perbuatan itu.

Pasalnya, ada dua hal yang harus diperhatikan. Mesum, di banyak kawasan, tak hanya masalah yang berkaitan dengan agama semata, tapi juga sosial (mungkin juga budaya). Nah yang terakhir disebutkan, di banyak negara liberal dan sekuler sekalipun, banyak pejabat kekuasaan yang rela mengundurkan diri bila ketahuan ada skandal. Tapi di tempat kita, belum tentu. Orang yang sudah menghamili orang lain pun, seperti tidak punya malu. Bahkan perilaku telanjang ria, sudah mulai direkam dan disebarkan agar orang-orang menontonnya.

Ada apa dengan tanah kita?

Terakhir, kasus di gampong, yang ditangkap sepasang pelaku mesum, akhirnya diadili sendiri. Begitu pelakunya ditangkap oleh para pemuda, langsung dibawa ke meunasah. Sesampai di sana, para pemuda memanggil keusyik dan para tetua gampong. Singkatnya, semua sudah berkumpul di meunasah.

Ketika semua unsur sudah ada, para tetua lalu memeriksa mereka, semisal melihat identitas. Lalu, diutus beberapa orang untuk memberitahukan keluarga pasangan yang bermesum. Keluarga mereka masing-masing pun datang.

Pasangan itu sudah dimandikan. Yang laki-laki dimandikan para pemuda. Sementara yang perempuan disuruh mandi sendiri dan tak boleh melepas pakaiannya. Keduanya, dengan pakaian lengkap, sudah basah kuyup.

Ketika keluarganya sudah berada di sana, lalu diberitahukan, dan pihak keluarga mereka dengan mantap mengatakan: terserah orang di sini, mau diapakan, terserah.

Abuwa Manah yang menjadi tetua gampong pun memutuskan. Pasangan bermesum itu, dihadirkan ke lapangan, dengan mengikat satu kertas di dada mereka yang bertuliskan: inilah saya, orang yang sudah bermesum.

Orang-orang gampong dikumpulkan ke lapangan. Setelah itu bubar. Lalu pasangan mesum diserahkan kepada keluarganya.

Ternyata lelaki dari pasangan mesum itu adalah pedagang sayur. Abuwa Manah, suatu kali, ketika ke pasar, berjumpa dengan lelaki yang bermesum itu. Ia terus mendekat. Abuwa Manah bergeser sedikit untuk meraih pisau yang ada di belakang sepedanya.

Lelaki itu terus mendekat dan mendekat, Abuwa Manah pun semakin mempersiapkan diri. Tiba-tiba, lelaki itu menyapa: Abuwa… Lelaki itu memeluk Abuwa Manah. Sekeranjang sayur dikasih kepadanya.

Katanya: terima kasih, Abuwa, sudah menyadarkan saya! Tangan Abuwa Manah yang mau meraih pisau pun luluh. Ia merasa bahagia yang tak pernah dirasakan sepanjang hidupnya.

Seperti yang saya katakan, ini semacam kisah yang dramatis. Sungguh![ST]