NI
semacam kisah yang dramatis. Pada suatu hari, sepasang
manusia kedapatan bermesum di gampong. Seperti
sudah sempit di tempat lain. Maka di gampong yang
menjadi sasaran.
Parahnya,
kalau di gampong, bermesum bukan dilakukan di
kamar-kamar mewah seperti yang pernah diberitakan
suratkabar tentang tokoh yang seharusnya jadi panutan
ditangkap di hotel karena bermesum. Kalau di gampong,
bermesum di tempat para binatang melepas birahi.
Orang-orang
gampong menemukan orang-orang bermesum, sejak
dari semak-semak sampai dalam kandang ternak. Malah ada
yang ditemukan di tempat bui meu aneuk.
Orang-orang
awan sekalipun sudah sering bertanya-tanya: ada apa
dengan tanah mereka? Genderang syariat Islam sudah
ditabuh, tapi pelaku mesum makin menjadi-jadi. Termasuk
orang-orang yang seharusnya menjaga diri dari perbuatan
itu.
Pasalnya,
ada dua hal yang harus diperhatikan. Mesum, di banyak
kawasan, tak hanya masalah yang berkaitan dengan agama
semata, tapi juga sosial (mungkin juga budaya). Nah yang
terakhir disebutkan, di banyak negara liberal dan
sekuler sekalipun, banyak pejabat kekuasaan yang rela
mengundurkan diri bila ketahuan ada skandal. Tapi di
tempat kita, belum tentu. Orang yang sudah menghamili
orang lain pun, seperti tidak punya malu. Bahkan
perilaku telanjang ria, sudah mulai direkam dan
disebarkan agar orang-orang menontonnya.
Ada apa
dengan tanah kita?
Terakhir,
kasus di gampong, yang ditangkap sepasang pelaku
mesum, akhirnya diadili sendiri. Begitu pelakunya
ditangkap oleh para pemuda, langsung dibawa ke
meunasah. Sesampai di sana, para pemuda memanggil
keusyik dan para tetua gampong. Singkatnya,
semua sudah berkumpul di meunasah.
Ketika
semua unsur sudah ada, para tetua lalu memeriksa mereka,
semisal melihat identitas. Lalu, diutus beberapa orang
untuk memberitahukan keluarga pasangan yang bermesum.
Keluarga mereka masing-masing pun datang.
Pasangan
itu sudah dimandikan. Yang laki-laki dimandikan para
pemuda. Sementara yang perempuan disuruh mandi sendiri
dan tak boleh melepas pakaiannya. Keduanya, dengan
pakaian lengkap, sudah basah kuyup.
Ketika
keluarganya sudah berada di sana, lalu diberitahukan,
dan pihak keluarga mereka dengan mantap mengatakan:
terserah orang di sini, mau diapakan, terserah.
Abuwa
Manah yang menjadi tetua gampong pun memutuskan.
Pasangan bermesum itu, dihadirkan ke lapangan, dengan
mengikat satu kertas di dada mereka yang bertuliskan:
inilah saya, orang yang sudah bermesum.
Orang-orang
gampong dikumpulkan ke lapangan. Setelah itu
bubar. Lalu pasangan mesum diserahkan kepada
keluarganya.
Ternyata
lelaki dari pasangan mesum itu adalah pedagang sayur.
Abuwa Manah, suatu kali, ketika ke pasar, berjumpa
dengan lelaki yang bermesum itu. Ia terus mendekat.
Abuwa Manah bergeser sedikit untuk meraih pisau yang
ada di belakang sepedanya.
Lelaki itu
terus mendekat dan mendekat, Abuwa Manah pun
semakin mempersiapkan diri. Tiba-tiba, lelaki itu
menyapa: Abuwa… Lelaki itu memeluk Abuwa
Manah. Sekeranjang sayur dikasih kepadanya.
Katanya:
terima kasih, Abuwa, sudah menyadarkan saya!
Tangan Abuwa Manah yang mau meraih pisau pun
luluh. Ia merasa bahagia yang tak pernah dirasakan
sepanjang hidupnya.
Seperti
yang saya katakan, ini semacam kisah yang dramatis.
Sungguh![ST]