HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 190507|
Meupro
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

KHIR-akhir ini, di berbagai gampong sudah dilaksanakan turnamen sepakbola. Seperti ada deman baru dalam masyarakat, bahwa sepakbola menjadi medianya. Namanya pun berbagai macam bin aneka ragam: sepakbola eksekutif, sepakbola ria, atau sepakbola liga.

Yang jelas, namanya turnamen sepakbola. Orang-orang lalu ikut serta. Ada yang melupakan kewajiban kepada Tuhan, ada yang tidak. Banyak lapangan bola yang sudah menyediakan semisal tempat sembahyang di sana. Tapi banyak yang tidak.

Keikutsertaan itu terbagi ke dalam berbagai ruang. Ada yang menjadi tim inti, ada yang menjadi tim cadangan. Ada yang mengelola manajemen, ada yang mengelola pelatihan. Ada yang menjadi penonton, ada yang menjadi supporter.

Tentu, berbagai ruang itu memiliki harapan yang berbeda-beda. Tim inti akan bermain sepenuh hati. Sedangkan yang cadangan, harus selalu bersiap-siap. Manajemen memastikan tak ada yang kurang. Pelatih berharap di lapangan, pemain akan menampakkan kualitasnya. Bagi penonton, mereka akan mendapatkan permainan yang bagus. Sementara yang menjadi suporter, yang penting menang.

Berharap menang, dibarengi dengan pemberian semangat. Logis. Suporter, berasal dari support. Semangat yang diberikan pun berbeda-beda. Intinya menyangkut dengan kepuasan. Bila suporter tak puas, bila menang sekalipun, biasanya juga akan ada masalah. Namun bila puas, pada akhirnya kalah sekali pun, akan mudah diterima dengan lapang dada.

Dalam lingkungan suporter itu, ada berbagai ragam orang. Berbagai suara dari pinggir lapangan terdengar. Memacu, menghujat, dan segala macam.

Syahdan, di sebuah gampong, ternyata banyak tetua gampong yang juga turut hadir sebagai suporter. Karena ini menyangkut dengan kepuasan, maka seringkali para tetua gampong pun lupa, bahwa hadir ke lapangan haram hukumnya menjadi penyulut. Para tetua gampong harus menjadi penyejuk.

Karena apa? Tetua gampong itu sebagai pengayom. Tetua itu memberi bimbingan (yang baik-baik). Maka bukan tetua namanya bila ada tetua yang memberi bimbingan yang buruk-buruk.

Seorang tetua harus bijaksana, dan harus mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul. Kalau tidak mampu seperti itu, maka tentu, harus mengundurkan diri dari sebutan atau jabatan tetua.

Termasuk di lapangan sepakbola sendiri, hadirnya tetua harus tetap menjadi pengayom yang bijaksana, pembimbing yang santun, penganjur sportivitas yang wajar. Kalau tidak, bukan tetua namanya.

Jadi kalau ada tetua gampong yang menjadi suporter tim sepakbola gampongnya, bila tak mampu bersikap sebagai tetua, jangan jadi tetua. Tak perlu kemudian menyalahkan banyak orang lain, gara-gara duduk di bangku suporter.[ST]