KHIR-akhir
ini, di berbagai gampong sudah dilaksanakan
turnamen sepakbola. Seperti ada deman baru dalam
masyarakat, bahwa sepakbola menjadi medianya. Namanya
pun berbagai macam bin aneka ragam: sepakbola eksekutif,
sepakbola ria, atau sepakbola liga.
Yang jelas,
namanya turnamen sepakbola. Orang-orang lalu ikut serta.
Ada yang melupakan kewajiban kepada Tuhan, ada yang
tidak. Banyak lapangan bola yang sudah menyediakan
semisal tempat sembahyang di sana. Tapi banyak yang
tidak.
Keikutsertaan itu terbagi ke dalam berbagai ruang. Ada
yang menjadi tim inti, ada yang menjadi tim cadangan.
Ada yang mengelola manajemen, ada yang mengelola
pelatihan. Ada yang menjadi penonton, ada yang menjadi
supporter.
Tentu,
berbagai ruang itu memiliki harapan yang berbeda-beda.
Tim inti akan bermain sepenuh hati. Sedangkan yang
cadangan, harus selalu bersiap-siap. Manajemen
memastikan tak ada yang kurang. Pelatih berharap di
lapangan, pemain akan menampakkan kualitasnya. Bagi
penonton, mereka akan mendapatkan permainan yang bagus.
Sementara yang menjadi suporter, yang penting menang.
Berharap
menang, dibarengi dengan pemberian semangat. Logis.
Suporter, berasal dari support. Semangat yang
diberikan pun berbeda-beda. Intinya menyangkut dengan
kepuasan. Bila suporter tak puas, bila menang sekalipun,
biasanya juga akan ada masalah. Namun bila puas, pada
akhirnya kalah sekali pun, akan mudah diterima dengan
lapang dada.
Dalam
lingkungan suporter itu, ada berbagai ragam orang.
Berbagai suara dari pinggir lapangan terdengar. Memacu,
menghujat, dan segala macam.
Syahdan, di
sebuah gampong, ternyata banyak tetua gampong
yang juga turut hadir sebagai suporter. Karena ini
menyangkut dengan kepuasan, maka seringkali para tetua
gampong pun lupa, bahwa hadir ke lapangan haram
hukumnya menjadi penyulut. Para tetua gampong
harus menjadi penyejuk.
Karena apa?
Tetua gampong itu sebagai pengayom. Tetua itu
memberi bimbingan (yang baik-baik). Maka bukan tetua
namanya bila ada tetua yang memberi bimbingan yang
buruk-buruk.
Seorang
tetua harus bijaksana, dan harus mampu menyelesaikan
berbagai persoalan yang timbul. Kalau tidak mampu
seperti itu, maka tentu, harus mengundurkan diri dari
sebutan atau jabatan tetua.
Termasuk di
lapangan sepakbola sendiri, hadirnya tetua harus tetap
menjadi pengayom yang bijaksana, pembimbing yang santun,
penganjur sportivitas yang wajar. Kalau tidak, bukan
tetua namanya.
Jadi kalau
ada tetua gampong yang menjadi suporter tim
sepakbola gampongnya, bila tak mampu bersikap
sebagai tetua, jangan jadi tetua. Tak perlu kemudian
menyalahkan banyak orang lain, gara-gara duduk di bangku
suporter.[ST]