
EORANG mufti
Australia, telah nyata mengatakan mendukung
perjuangan
Iran
dalam kasus perdebatan pengayaan uranium di negeri itu.
Namanya, Syeikh al-Taj. Di beberapa media, ia berseru,
agar umat Islam tak menunduk pada yang disebutnya
sebagai musuh-musuh Islam.
Lalu,
Australia pun berang. Selama ini, negeri Kangguru
itu memang pendukung utama kekuatan negeri Abang Sam,
bersama Inggris dan serdadu sekutu. Komentar mufti itu,
langsung berbuntut panjang. Negeri itu bahkan sampai
menawarkan dua hal saja, tak lebih: yakni mengundurkan
diri dari mufti dan memberi pilihan mau berkehidupan di
Australia atau Timur Tengah.
Begitu
kira-kira perdebatan itu.
Tapi yang menarik
adalah masalah berbeda pendapat. Mereka, pada atas nama
Australia, tentu tak perlu tahu dengan ekses
moderen sampai kini. Apa yang dirasakan orang-orang yang
tak bersalah di
Iraq
dan Afghanistan, misalnya.
Dalam beberapa kesempatan, para atas nama
Australia dengan gagah menguatkan barisan dengan
tanpa kritik segala upaya memerangi terorisme ke seluruh
dunia, yang dimotori para atas nama negeri Abang Sam.
Ketika teror diperangi dan ternyata itu telah menjadi
teror baru, sama sekali tak dipandang sebagai masalah
yang akan berlanjut secara global –apalagi untuk meminta
maaf.
Hal ini, persis
seperti orang yang mengejar tikus, lalu membumihanguskan
seluruh rumah, seperti nelayan yang menggunakan pukat
trawl untuk menjaring ikan. Begitulah dalam mengejar
terorisme di sana. Bahkan di dua negara –termasuk yang
berbatasan, terlihat bagaimana negara-negara yang
diklaim beradab itu sama rendahnya dengan bangsa-bangsa
pemangsa.
Di sebuah desa
Pakistan, sebuah bom dijatuhkan dari jet-jet di
angkasa. Orang-orang di bawah sedang melaksanakan pesta
perkawinan, lalu mereka yang atas nama negeri para
beradab, mengatakan itu sebagai teroris.
Beberapa waktu yang
lalu, terungkap kabar miris, bahwa Saddam tak terlibat
Al-Qaeda.
Semua itu, menggambarkan betapa pada saat-saat tertentu,
negara-negara yang mengkampanyekan demokrasi juga bisa
menjadi negara yang antidemokrasi. Tak ada jaminan
sebuah negara yang sering mengkampanyekan demokratis,
memiliki keseharian seperti yang dikampanyekan itu.
Kalau rakyat yang
menjadi titik tolak, apa tak cukup warga yang mendemo
untuk menghentikan pendudukan di
Iraq
dan Afghanistan oleh negara-negara pembawa kapling
demokrasi.
Di
Australia, seorang mufti menjadi sasaran dari
kampanye demokrasi. Sedangkan mufti itu sedang berusaha
menyampaikan pendapatnya bahwa dunia sedang tidak adil.
Tapi siapa yang akan peduli. Ketika para politisi di
sana juga memberi pilihan: mau tinggal di
Australia atau mau tinggal di Timur Tengah?
Padahal mufti itu
sama seperti Kapten Yee di Abang Sam, sama-sama memiliki
nasionalisme dalam hal-hal tertentu, tapi memiliki beda
pendapat dalam hal yang lain, seperti berusaha
menyatakan dunia sedang tidak adil. Tapi karena itu
tidak disukai dengan kampanye global yang terlanjur
terus diprovokasi, maka mereka pun mendapat masalah.
Anda suatu saat
nanti mereka berada di posisi yang benar, para atas nama
itu juga sering tak rela harus meminta maaf. Apalagi
mohon ampun![ST]