HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 160407|
MUFTI
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

EORANG mufti Australia, telah nyata mengatakan mendukung perjuangan Iran dalam kasus perdebatan pengayaan uranium di negeri itu. Namanya, Syeikh al-Taj. Di beberapa media, ia berseru, agar umat Islam tak menunduk pada yang disebutnya sebagai musuh-musuh Islam.

Lalu, Australia pun berang. Selama ini, negeri Kangguru itu memang pendukung utama kekuatan negeri Abang Sam, bersama Inggris dan serdadu sekutu. Komentar mufti itu, langsung berbuntut panjang. Negeri itu bahkan sampai menawarkan dua hal saja, tak lebih: yakni mengundurkan diri dari mufti dan memberi pilihan mau berkehidupan di Australia atau Timur Tengah.

Begitu kira-kira perdebatan itu.

Tapi yang menarik adalah masalah berbeda pendapat. Mereka, pada atas nama Australia, tentu tak perlu tahu dengan ekses moderen sampai kini. Apa yang dirasakan orang-orang yang tak bersalah di Iraq dan Afghanistan, misalnya.

Dalam beberapa kesempatan, para atas nama Australia dengan gagah menguatkan barisan dengan tanpa kritik segala upaya memerangi terorisme ke seluruh dunia, yang dimotori para atas nama negeri Abang Sam. Ketika teror diperangi dan ternyata itu telah menjadi teror baru, sama sekali tak dipandang sebagai masalah yang akan berlanjut secara global –apalagi untuk meminta maaf.

Hal ini, persis seperti orang yang mengejar tikus, lalu membumihanguskan seluruh rumah, seperti nelayan yang menggunakan pukat trawl untuk menjaring ikan. Begitulah dalam mengejar terorisme di sana. Bahkan di dua negara –termasuk yang berbatasan, terlihat bagaimana negara-negara yang diklaim beradab itu sama rendahnya dengan bangsa-bangsa pemangsa.

Di sebuah desa Pakistan, sebuah bom dijatuhkan dari jet-jet di angkasa. Orang-orang di bawah sedang melaksanakan pesta perkawinan, lalu mereka yang atas nama negeri para beradab, mengatakan itu sebagai teroris.

Beberapa waktu yang lalu, terungkap kabar miris, bahwa Saddam tak terlibat Al-Qaeda. Semua itu, menggambarkan betapa pada saat-saat tertentu, negara-negara yang mengkampanyekan demokrasi juga bisa menjadi negara yang antidemokrasi. Tak ada jaminan sebuah negara yang sering mengkampanyekan demokratis, memiliki keseharian seperti yang dikampanyekan itu.

Kalau rakyat yang menjadi titik tolak, apa tak cukup warga yang mendemo untuk menghentikan pendudukan di Iraq dan Afghanistan oleh negara-negara pembawa kapling demokrasi.

Di Australia, seorang mufti menjadi sasaran dari kampanye demokrasi. Sedangkan mufti itu sedang berusaha menyampaikan pendapatnya bahwa dunia sedang tidak adil. Tapi siapa yang akan peduli. Ketika para politisi di sana juga memberi pilihan: mau tinggal di Australia atau mau tinggal di Timur Tengah?

Padahal mufti itu sama seperti Kapten Yee di Abang Sam, sama-sama memiliki nasionalisme dalam hal-hal tertentu, tapi memiliki beda pendapat dalam hal yang lain, seperti berusaha menyatakan dunia sedang tidak adil. Tapi karena itu tidak disukai dengan kampanye global yang terlanjur terus diprovokasi, maka mereka pun mendapat masalah.

Anda suatu saat nanti mereka berada di posisi yang benar, para atas nama itu juga sering tak rela harus meminta maaf. Apalagi mohon ampun![ST]