HOME| GAMPONG LAINYA |

 

 

Kolom Gampong STRIPA 030507|
NODA
Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute

EREMPUAN, selalu menjadi pihak yang paling rentan untuk ternoda atau dianggap ternoda, khususnya dalam konteks perilaku seks.

Sebuah perilaku seks, bisa dideteksi dalam dua bentuk: komersil dan nonkomersil. Kalau komersil, jelas, ada suatu imbalan yang didapatkan oleh orang yang menjadi pemuas nafsu. Sedangkan yang nonkomersil, juga bisa terbagi ke dalam kesenangan, maupun dianggap sebagai kebutuhan.

Yang jelas, dua-dua bentuk itu, imbasnya paling besar diterima oleh perempuan. Sebuah pasangan yang berpacaran, lalu berperilaku yang tidak sah itu, maka yang sering kena getah besarnya adalah perempuan. Dalam berita-berita media juga sangat sering terlihat hanya foto-foto perempuan saja.

Keberadaan dunia hitam, nama pelacur lebih dominan disebut ketimbang gigolo. Belum lagi bila ada kasus, biasanya, yang dominan menjadi sasaran adalah perempuan pelacur. Jarang ada pelanggan yang laki-laki yang kena.

Hal ini berbanding terbalik dengan keberadaan gigolo. Padahal sama-sama buruk. Seorang gigolo yang memuaskan birahi perempuan-perempuan tertentu, maka yang sering kena juga perempuannya. Ini menjadi fenomena yang lazim yang harus diubah. Seyogianya, antara pemuas dengan yang menyediakan layanan sebagaimana pelacur atau gigolo, harus dipandang sama buruknya.

Pelacur dan gigolo adalah sebuah pekerjaan hitam. Pekerjaan ini, digambarkan sebagai wilayah yang dibenci tapi sepanjang sejarah, ada saja orang yang mencarinya. Dikatakan buruk, karena memang banyak pekerjaan lain yang baik.

Dunia semakin mencengangkan ketika tidak ada pertimbangan baik atau buruk. Ketiadaan pertimbangan ini terlihat jelas dalam penyebutan gigolo dan pelacur juga sebagai pekerja, namanya pekerja seks komersil. Di dunia yang fana ini, pekerjaan kotor itu lalu dianggap sebagai sebuah profesi.

Pekerja seks komersil ini ada di mana-mana. Dengan sebutan yang beraneka ragam. Selain mereka, juga terdapat pekerja seks yang tidak komersil, yang katanya melakukan hubungan seks untuk kesenangan.

Ada sekelompok orang sebagaimana disebut di atas, juga dengan terang-terangan membela pekerja seks komersil. Seolah tak ada pekerjaan lain yang bermartabat yang dapat dikerjakan untuk mendapatkan kebutuhan hidup. Sebenarnya ini tidak rasional, tapi menjadi seolah-olah masuk akal ketika ada orang yang membahasakan dengan sebuah bahasa yang enak. Semuanya, tentu atas nama kemanusiaan. Gigolo dan pelacur juga manusia.

Seorang pekerja seks komersil, selalu dibela dengan persoalan modal hidup yang tidak ada dan tidak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan. Padahal, banyak sekali pekerjaan di bumi ini yang dapat dilakukan. Tidak mesti dengan menjual tubuh.

Namun profesi ini selalu lahir menurut zaman. Seperti yang terungkap di awal, bahwa pekerja seks komersil berjenis kelamin perempuan yang dominan tersudut, dibandingkan dengan pekerja seks komersil berjenis kelamin laki-laki.

Ada selentingan, di daerah kita juga ada. Ada yang masuk dalam wilayah komersil, ada yang tidak komersil. Ketika banyak orang luar masuk ke Aceh pascatsunami, kenyataan yang dibenci ini mulai memperlihatkan wajahnya. Banyak kenyataan miris yang tak hanya dilakoni oleh orang-orang luar, karena orang-orang dari sekitar kita juga ada yang melakoninya.

Ada pertanyaan dari seorang teman, apakah kenyataan itu masih menampar wajah kita? Ada satu yang pasti, gampong kita, ternyata sudah banyak yang berubah.[ST]