EREMPUAN,
selalu menjadi pihak yang paling rentan untuk ternoda
atau dianggap ternoda, khususnya dalam konteks perilaku
seks.
Sebuah
perilaku seks, bisa dideteksi dalam dua bentuk: komersil
dan nonkomersil. Kalau komersil, jelas, ada suatu
imbalan yang didapatkan oleh orang yang menjadi pemuas
nafsu. Sedangkan yang nonkomersil, juga bisa terbagi ke
dalam kesenangan, maupun dianggap sebagai kebutuhan.
Yang jelas,
dua-dua bentuk itu, imbasnya paling besar diterima oleh
perempuan. Sebuah pasangan yang berpacaran, lalu
berperilaku yang tidak sah itu, maka yang sering kena
getah besarnya adalah perempuan. Dalam berita-berita
media juga sangat sering terlihat hanya foto-foto
perempuan saja.
Keberadaan
dunia hitam, nama pelacur lebih dominan disebut
ketimbang gigolo. Belum lagi bila ada kasus, biasanya,
yang dominan menjadi sasaran adalah perempuan pelacur.
Jarang ada pelanggan yang laki-laki yang kena.
Hal ini
berbanding terbalik dengan keberadaan gigolo. Padahal
sama-sama buruk. Seorang gigolo yang memuaskan birahi
perempuan-perempuan tertentu, maka yang sering kena juga
perempuannya. Ini menjadi fenomena yang lazim yang harus
diubah. Seyogianya, antara pemuas dengan yang
menyediakan layanan sebagaimana pelacur atau gigolo,
harus dipandang sama buruknya.
Pelacur dan
gigolo adalah sebuah pekerjaan hitam. Pekerjaan ini,
digambarkan sebagai wilayah yang dibenci tapi sepanjang
sejarah, ada saja orang yang mencarinya. Dikatakan
buruk, karena memang banyak pekerjaan lain yang baik.
Dunia
semakin mencengangkan ketika tidak ada pertimbangan baik
atau buruk. Ketiadaan pertimbangan ini terlihat jelas
dalam penyebutan gigolo dan pelacur juga sebagai
pekerja, namanya pekerja seks komersil. Di dunia yang
fana ini, pekerjaan kotor itu lalu dianggap sebagai
sebuah profesi.
Pekerja
seks komersil ini ada di mana-mana. Dengan sebutan yang
beraneka ragam. Selain mereka, juga terdapat pekerja
seks yang tidak komersil, yang katanya melakukan
hubungan seks untuk kesenangan.
Ada
sekelompok orang sebagaimana disebut di atas, juga
dengan terang-terangan membela pekerja seks komersil.
Seolah tak ada pekerjaan lain yang bermartabat yang
dapat dikerjakan untuk mendapatkan kebutuhan hidup.
Sebenarnya ini tidak rasional, tapi menjadi seolah-olah
masuk akal ketika ada orang yang membahasakan dengan
sebuah bahasa yang enak. Semuanya, tentu atas nama
kemanusiaan. Gigolo dan pelacur juga manusia.
Seorang
pekerja seks komersil, selalu dibela dengan persoalan
modal hidup yang tidak ada dan tidak ada pekerjaan lain
yang dapat dilakukan. Padahal, banyak sekali pekerjaan
di bumi ini yang dapat dilakukan. Tidak mesti dengan
menjual tubuh.
Namun
profesi ini selalu lahir menurut zaman. Seperti yang
terungkap di awal, bahwa pekerja seks komersil berjenis
kelamin perempuan yang dominan tersudut, dibandingkan
dengan pekerja seks komersil berjenis kelamin laki-laki.
Ada
selentingan, di daerah kita juga ada. Ada yang masuk
dalam wilayah komersil, ada yang tidak komersil. Ketika
banyak orang luar masuk ke Aceh pascatsunami, kenyataan
yang dibenci ini mulai memperlihatkan wajahnya. Banyak
kenyataan miris yang tak hanya dilakoni oleh orang-orang
luar, karena orang-orang dari sekitar kita juga ada yang
melakoninya.
Ada
pertanyaan dari seorang teman, apakah kenyataan itu
masih menampar wajah kita? Ada satu yang pasti,
gampong kita, ternyata sudah banyak yang berubah.[ST]